Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
44


Zidan mengusap wajah kasar saat keluar dari apartemen Gia. Ia mengutuk dirinya sendiri. Ia bisa melihat Gia pun sama terlukanya dengan dirinya. Ia bingung, di sisi lain ia membenci Gia tapi di sisi lain lagi dia merasa kasihan pada Gia. Dia merasa Gia hanyalah korban. Tapi jika ingat Gia tidur dengan nyaman di sisi Zayn membuat darah Zidan kembali mendidih.


Zidan pun kembali berjalan keluar gedung apartemen dan menuju kembali ke hotelnya.


Satu bulan kemudan.


Semua sudah kembali normal. Zayn dan Zidan sudah bekerja kembali di prusahaan. Setiap bertemu di kantor, keduanya saling memandang dengan tatapan benci, mereka layaknya seorang musuh bebuyutan. Tak ada lagi Zidan yang menghormati Zayn, semua rasa hormatnya telah terkikis habis.


Mereka terlalu larut dalam permusahan mereka. Hingga mereka tak mengingat Gia, wanita yang mereka sakiti. Bahkan selama satu bulan ini, Gia tak datang bekerja ke perusahaan.


Zayn turun dari mobil dengan amarah berkobar. Ketika pagi hari, Zayn mendengar perusahaan dalam kondisi kacau, dan itu semua karena ulah Zidan. Beberapa orang pemegang saham berjalan di belakangnya.


Rupanya Zidan sudah jengah mengalah, setelah malam dimana ia datang ke apartemen Gia. Zidan sudah merancang rencana untuk membalas Zayn.


Dan setelah semua matang, Zidan membuka jati dirinya sebagai putra kedua Albert.


Semua pemegang saham, publik, relasi bisnis terkejut dengan apa yang di sampaikan oleh Zidan, saham perusahaal anjlok karena ulahnya.


Brak


Zayn menendang pintu ruangan Zidan, Zidan yang baru saja akan duduk di kursi mengurungkan niatnya. Ia kembali berdiri. Saat Zayn menghampirinya, Zidan menatap sang kaka dengan tatapan mengejek.


"Apa kau gila, Hah!" teriak Zayn. Ia mencengkram keras jas Zidan.


"Bagaimana rasanya kehilangan yang kau perjuangkan, Zayn?" Zidan berucap dengan sinis. Ia tak lagi memanggil Zayn kaka.


Darah Zayn semakin mendidih ketika mendengar jawaban Zidan.


Bugh


Satu tonjokan mendarat di pipi Zidan, Zayn tak dapat menahan emosinya karena jawaban Zidan.


"Apa kau tidak tau, karena perbuatanmu. Saham perusahaan anjlok. Apa sebenarnya mau mu anak haram!" teriak Zayn dengan emosi.


Mendengar amarah Zayn, Zidan masih saja tersennyum sinis. "Aku ingin kehancuran dirimu, Zayn," Zidan berucap dengan santainya. Dia benar-benar menikamati perannya sebagai orang jahat. Zidan pun mendudukan dirinya tanpa memerdulikan Zayn yang menatap dirinya dengan amarah berkobar.


Brak


Zayn menggebrak meja kerja Zidan.


"Jika itu mau mu, baik mari kita liat siapa yang akan lebih dulu hancur di antara kita." Zayn pun berbalik dan keluar dari ruangan Zidan


Zidan menyenderkan punggungnya ke belakang. Ia melihat kepergian Zayn dengan tatapan sendu. Seberapa pun kerasnya ia membenci Zayn, masih ada kasih sayang untung sang kaka yang selama ini menindas dirinya.


Zidan menghela napas sejenak, ia melihat jam di pergelangan tangannya. Ia pun bangkit kembali dari duduknya dan keluar dari ruangannya untuk menghadiri rapat pemegang saham.


Satu jam kemudian, rapat selesai.


Zayn berhasil meyakinkan para pemegang saham untuk terus memercayakan agar dirinya terus memimpin perusahaan. Ia merasa lega karena pemegang saham tak terpengaruh dengan pengakuan Zidan.


Tapi rasa senang Zayn tak bertahan lama, lagi-lagi, saat matanya bersibobrok dengan mata Zidan, dia kembali merasa emosi saat Zidan tersenyum dengan tatapan mengejek.


Tiba-tiba, Zayn menyadari sesuatu. Zidan tak ingin posisinya, ia sengaja membuka identitasnya agar rapat pemegang saham di lalukakan, dan mau tak mau Albert dak Zayn mengakui bahwa dia putra kedua Albert.


Albert yang memerhatikan kedua putranya saling tatap dengan aura permusuhan, mengurut keningnya. Haruskah dia membongkar semuanya sekarang .


Holaa makkk


Satu bab lagi menyusul ya. aku langsung ngetik lagi. Kalau ga di ganggu bocil upnya sore, kalau ngetiknya ke sendat sendat aku up malem ya.