
Saat perutnya terasa mual karena melihat Josh, Simma pun langsung pergi ke kamar mandi. Ia tak menyangka bahwa Josh akan datang ke caffenya.
Saat ia berusaha memuntahkan makanannya, ada yang membantu memijit tengkuknya, hati Simma menghangat, ia berpikir Stuard yang melakukannya, seperti saat-saat lalu, saat Stuard selalu memijit tengkuknya ketika dia akan muntah.
Namun ia harus menelan kekecewaan saat melihat dari pantulan kaca, bahwa bukan Stuard yang memijat tengkuknya, melainkan Rissa, salah satu karyawannya.
"Anda tak apa-apa, Nona Simma?" tanya Rissa, Simma mengangguk. "Aku tak apa-apa, terimakasih."
"Kalau begitu saya permisi," ucap Risa, Simma pun mengangguk.
Setelah Rissa pergi, Simma mendudukan dirinya di kursi. Lagi-lagi, bayangan Stuard tengiang-ngiang di otaknya. Padahal, baru beberapa jam mereka berpisah dan ia harus menerima bahwa itulah terakhir kalinya ia melihat Stuard.
•••
Suasana di dalam mobil begitu hening, Josh menunduk sedangkan Briana menatap ke arah luar. Setelah mereka keluar dari caffe Simma. Josh mengajak Briana untuk berbicara di dalam mobilnya.
Namun saat sampai di dalam mobil, lidah Josh terasa kelu, ia bingung harus menjelaskan dari mana, jelas-jelas ia sudah terpergok berbohong.
Setelah tadi meeting dengan Zayn, Bri mengirimnya pesan menanyakan keberadaan Josh dan Josh berbohong bahwa dia sedang di luar kota dan ia akan mematikan ponselnya karena meeting akan di mulai karena ia tak ingin Bri menghubunginya.
Dan sekarang, ia terpergok berbohong oleh Bri dan yang lebih parah, ia terpergok sedang ada di dalam caffe Simma.
Josh mengigit bibirnya, ia tak berani mengangkat kepalanya.
"Selama 4 tahun, aku menemanimu. Bahkan saat kau menetap di Argentina, aku tetap setia di sini. Sedari dulu, aku tak pernah memaksamu untuk menikahiku karena aku tau, kau tak tertarik untuk membangun sebuah komiten," Briana menghentikan sejenak ucapannya untuk mengambil napas karena rasanya terlalu menyesakkan.
"Kau tau, Josh. Walau pun aku tau kau tak percaya sebuah ikatan pernikahan dan dari awal aku tau kau tak akan menikahiku, Tapi aku tetap setia bersamamu, menunggumu dan selalu berdoa bahwa suatu saat kau percaya sebuah pernikahan dan akulah yang jadi pendampingmu. Saat Tuhan sudah mengamini doakku, kenapa kau mematahkan hatiku. Apa sesakit ini Josh, mencintaimu," ucap Briana, tanpa mengalihkan pandangannya. Sebisa mungkin, Briana tak mengeluarkan air mata, walau pada nyatanya, ia ingin menangis sekencang-kencangnya.
Ya, pada awalnya, pertemuan mereka karena ayah Bri dan Josh menjalin kerja sama, mereka di pertemukan dalam sebuah pesta.
Saat itu, Bri begitu tertarik pada Josh dan Josh pun sebaliknya. Saat Briana menyadari bahwa Josh mempunyai perasaan yang sama, Bri memberanikan diri mengakui perasaanya.
Seperti dugaan Bri, Josh mempunyai perasaan padanya. Namun, Bri harus gigit jari kala Josh mengatakan bahwa ia tak ingin menikah dan tak percaya pada pernikahan.
karena menurut Josh, pernikahan itu begitu merepotkan. Josh terlalu terperangkap dengan masa lalunya, masa lalu saat ia harus menyaksikan kisah kakanya yang begitu menyakitkan, hingga Josh memutuskan tak ingin menikah.
Dan bodohnya, walaupun Briana tau apa konsuensinya jika menjalani hubungan dengan Josh, Briana tetap maju ia hanya bisa berharap dan berdoa, Tuhan mau membuka hati Josh agar percaya pada ikatan pernikahan.
Saat keinginan Briana terwujud, Stuard membuka hatinya dan percaya ikatan pernikahan, serta menjadikan Bri pengantinnya, semuanya hancur hari ini, di mana Bri sadar, di hati Stuard sudah tak ada lagi namanya.
Scrool lagi iesss.