
“Ayo, kita harus segera pergi!” kata Justin. Ia menarik lembut tangan Ariana, untuk keluar dari gereja.
Namun, saat mereka akan melangkah. Langkah mereka terhenti saat Josh masuk ke gereja.
Josh menatap Justin dan Ariana dengan tatapan tajam. Nafasnya memburu, emosi Josh sudah di ubun-ubun. Bagaimana mungkin putrinya menikah tanpa memberitahukannya.
“Apa yang kau lakukan Ariana?” Tanya Josh. Ia menatap sang putri dengan dingin.
Saat Justin akan maju untuk menghampiri Josh, Ariana menggenggam tangan suaminya.
“Bisa tinggalkan kami berdua?” Pinta Ariana pada Justin, melihat keseriusan Ariana Justin pun mengangguk. walaupun ragu meninggalkan istrinya.
Kini, sepasang ayah dan anak itu saling berhadap-hadapan. Ariana mengepalkan tangannya, ia berusaha mengendalikan dirinya.
“Kau menikah tanpa memberitahu Daddy dan Mommy. apa kau tak mengangap lagi kami sebagai orang tuamu?” Josh berbicara menggeram. Ia sedang menahan emosinya
Harga diri sebagai lelaki dan sebagai ayah hilang karena sang putri tak memberitahukan pernikahannya.
Mendengar ucapan sang ayah, Ariana tersenyum getir. Ia menegakkan kepalanya menegakkan kepalanya dan ia menatap sang ayah dengan datar dan dingin.
“Bukan aku yang tak menganggap kalian, kalian lah yang tak menganggapku,” kata Ariana, membuat mata Josh membulat. Bagaimana mungkin Ariana membalikan ucapannya.
“Pernahkah kalian perduli padaku! Di mata kalian, aku hanya anak cacat dan membuat kalian malu. Kau selalu menatap Gabby, Gabriel dan Carla dengan tatapan cinta dan penuh kasih sayang. Sedangkan padaku? Kau hanya menatapku seoalah aku debu yang harus di singkirkan dan apa yang kau lakukan padaku, itu hanya sebatas kau merasa bertanggung jawab karena aku lahir dari benihmu. Tanpa ada kasih sayang dan tanpa ada cinta.” Ariana menghentikan ucapannya. Ia menghapus Air mata, kemudian menatap Josh dengan tajamm
“Sehari saja, tidak ... Atau sedetik saja! Pernah kah aku menjadi prioritas kalian. Ah, aku lupa. Kalian pun hanya manusia biasa yang mempunyai rasa malu ketika mempunya anak cacat sepertiku!” Lagi-lagi Ariana menghentikan ucapannya, kemudian ia maju ke arah Josh.
“Aku pernah merasakan kasih sayang kalian. Tapi itu hanya bertahan beberapa bulan. Setelah Carla lahir, semua berubah. di mata kalian, hanya ada Carla, Carla, Carla dan Carla.” lagi-lagi, Ariana menghentikan ucapannya. karena tangisnya semakin luruh. Hari ini, sebelum ia pergi. Ia rasa, ia harus mengungkapkan kekecewaannya kepada sang ayah.
“Kalian peduli dengan setiap hari penting Carla. Kalian peduli apapun yang dibutuhkan Carla. Tapi, bagaimana denganku? apakah kalian peduli juga? Tidak kalian hanya sebatas bertanya tanpa pernah memberikan apa yang aku mau. Apakah menurutmu ini adil? Di hadapan orang banyak, kau hanya memperkenalkan Carla sebagai Putri kalian. kalian seolah menyembunyikan kehadiranku karena aku cacat. Lalu sekarang kau berkata tentang aku yang tak mengakui? Bukankah ini lucu? bukankah aku yang harus bertanya siapa yang tak mengakui siapa?
Beban di hati Ariana seolah sirna setelah mengungkapkan keluh kesahnya. “Pernahkah kalian memikirkan hari penting ku? hari ulang tahunku? tidak, aku rasa aku lupa kapan kau mengucapkan hari ulang tahun padaku. Setiap ada pertemuan di luar, Kalian hanya mengajak Carla dan tak mengajakku beralasan takut aku lelah, tidak berpikir kah bahwa itu begitu menyakitiku? apakah lahir cacat juga keinginanku? apa menurutmu aku tak pantas untuk membenci kalian. Tapi setidaknya aku masih beruntung tak menjadi gila karena ulah kalian.”
“A-ariana.”
Udah 3 bab ni ye, hate komen blok 😎😂
Ga komen ga flenddd
Lapak cinta suci Zalila udah update ya. Yang kangen sama keluarga daddy Aska kepoin ya