Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
268


Stuard menghela napas saat melihat kedua anak kembarnya berjalan meninggalkan meja makan. Tak di pungkiri, ia selalu sesak jika melihat kedua anak kembarnya.


Beberapa hari berlalu, Stuard tetap berusaha untuk bersikap biasa pada Simma maupun pada Gabby dan Gabriel. Hanya saja, ia lebih banyak merenung di dalam ruangan kerja.


Selepas pulang kerja, ia lebih banyak berdiam diri di ruang kerja, tak ada lagi Stuard yang menemani Gabby dan Gabriel bermain. Tak ada lagi Stuard yang membacakan dongeng untuk kedua anak kembarnya.


Ia hanya menyapa keluarganya sekilas, lalu masuk kedalam ruang kerjanya, ia berasalan banyak pekerjaan yang harus di kerjakan.


Ini titik terendah di diri Stuard, di mana bayang-banyang rasa sakit, luka dan dukanya membayanginya. Hingga ia ingin sendiri dan menenangakan diri.


Memang rasa sayang Stuard pada Gabby dan Gabriel tak perlu di ragukan lagi. Hanya saja, melihat Gabby dan Gabriel dada Stuard selalu berdenyut nyeri, ia selalu terbayang saat melihat guci itu hancur di hadapannya, hingga membuat jiwa Stuard juga ikut melayang.


Stuard menjauh karena tak ingin memperlihatkan kekecewaanya, ia juga merasa sesak kala harus berpura-berpura baik-baik saja. Jadi, ia pikir menjauh sementara waktu adalah hal yang bisa ia lakukan. Ia yakin, dengan cara ini, ia bisa dengan cepat melupakan semua.


"Dad, kau lanjutkan sarapanmu. Aku akan membantu anak-anak bersiap," ucap Simma. Rasanya, ia sudah tak sanggup lagi berada di dekat Stuard. Sungguh. Saat ini, ia ingin menangis sekencang-kencangnya.


Simma di posisi serba salah, ia ingin meminta Stuard berhenti mengabaikan Gabby dan Gabreil, tapi ia tak berani. Ia tau betul, apa yang di rasakan oleh Stuard. Selama pernikahannya dengan Stuard, Stuard selalu memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Dan ia rasa, kali ini ia yang harus mengerti Stuard.


Tapi di sisi lain, batinnya teriris perih kala melihat wajah Gabby dan Gabriel yang terlihat murung. Setiap malam, Gabby dan Gabriel selalu meminjam ponsel Simma mencari-cari guci yang mirip dengan yang mereka pecahkan. Berharap Stuard akan kembali bersikap seperti biasa. Gabby dan Gabriel masih terlalu kecil untuk tau bahwa Gucci itu adalah kenangan terakhir dari orang tua Stuard.


Setelah sampai, di kamar. Gabriel melepaskan genggaman tangannya dari tangan Gabby. Ia berjalan, ke arah meja belajar.


Sebenci itukah sang ayah pada ia dan adiknya. hingga selama beberapa hari ini, sikap Stuard berubah total.


Lamunan Gabriel buyar kala mendengar isakan dari Gabby, Gabriel memasukan bukunya dan juga memasukan buku Gabby kedalam tas Gabby, lalu berbalik dan menghampiri Gabby.


"Sudah jangan menangis, ini tas mu!" omel Gabriel, membuat Gabby cemberut.


"Gabriel, aku yakin Daddy besok tak akan datang. Haruskah kita bolos saja," ucap Gabby sambil memakai tasnya.


Gabriel terdiam, hatinya kembali sakit. Ia sudah membuat list lomba apa aja yang akan di ikutinya bersama sang ayah. Tapi, harapannya pupus saat mendengar jawaban Stuard tadi.


"Gabby, mulai sekarang. Jangan pernah meminta apapun pada Daddy, jangan pernah merengek pada Daddy dan jangan pernah merepotkan Daddy lagi. Kita harus bisa melakukan semuanya sendiri," ucap Gabriel. Usia Gabriel memang masih kecil. Tapi selama ini, didikan Simma dan Stuard begitu melekat, hingga Gabriel bisa berpikir melebihi usianya.


"Kenapa?" tanya Gabby.


Scroll lagi iessss


Inget ya tahan, jangan ngehujat siapa pun.


Sekian dan terima shopepay 😂😂😂