Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
66


Zayn menggeram kesal saat melihat kamarnya yang sudah berubah menjadi tak beraturan. Seprai yang berwarna pink, kamar yang berantakan, posisi televisi pun berpindah tempat. Padahal, Zayn sangat nyaman menonton televisi sambil berbaring di kasur. Tapi, sekarang ... kenyamanannya di renggut oleh Gia.


"Bangun!" titahnya pada Gia. Ia menghentakan kaki karena kesal, tapi Gia sama sekali tak mengindahkan panggilannya.


Mendengar teriakan Zayn, Gia merasa jengah. Ia membuka matanya dan bangkit dari berbaringnya.


"Apa?" tanyanya. Ia menatap Zayn tak kalah tajam. Seharian ini, Sonya memberi petuah pada Gia agar Gia mampu melawan Zayn, Sonya menyuruh Gia agar tak kalah dan tak tunduk pada Zayn.


"Kenapa kau merusak kamarku?" tanya Zayn. Ia berusaha menekan suaranya agar lebih lembut.


"Kenapa memanggnya? bukankah aku istrimu, lalu kenapa kau keberatan?" cibir Gia, Ia menyunggingkan senyum sinis kala Zayn terlihat frustasi, benar kata Sonya. Tak ada gunanya tunduk pada Zayn ada kesenangan tersendiri ketika ia melawan Zayn.


"Kau tidur di sofa! aku akan mengganti sepreinya lag!" titah Zayn.


"tidak mau! kau saja yang tidur di sofa!" seru Gia tak mau kalah. Mata Zayn membeliak saat Gia membalikan ucapannya.


"Kau hanya menumpang di sini! jadi patuhi aku, sekarang kau turun! aku akan mengganti seprainya."


"Jika anggap aku menumpang, kau bisa memberi tau kode apartemenku yang baru, dan aku akan pergi dari sini!" ujarnya dengan santai.


"Gia!" Suara Zayn naik satu oktaf.


"Apa!" tantang Gia. Ia melotot galak pada Zayn. Lelaki ini sudah menyeretnya kedalam masalah pelik, ia takan mudah lagi terintimidasi.


Zayn meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Ia menetralkan rasa kesalnya. Ia tak ingin berdebat karena pasti akan menganggu perkembangan calon anak mereka.


Zayn menyenderkan punggungnya di dinding, Matanya menerawang seisi ruangannya. Sepertinya mulai saat ini dirinya harus extra sabar untuk menghadapi Gia. Apalagi Zayn yakin, di balik keberanian Gia ada sosok Sonya yang mendukungnya.


"Zayn, awas saja jika kau semena-mena pada menantu Mommy!" Seru Sonya saat berada di dekat pintu, Sonya pulang setelah makan malam bersama anak dan menantunya.


Zayn yang mengantarkan Sonya ke pintu hanya berdehem.


Setelah mengantarkan Sonya, ternyata Gia sudah berada di kamar. Entahlah, Zayn bingung, apakah malam ini dia bisa tidur dengan nyenyak atau tidak.


•••


Setelah masuk kedalam kamar, Gia membaringkan tubuhnya dengan posisi meringkuk, Ia menutup sekujur tubuhnya dengan selimut. Ada sesak menghimpit dadanya. Pertemuannya dengan Sonya mengingatkannya pada mendiang ibunya.


Walaupun dia mulai berani membantah Zayn, tapi ada kesedihan yang menderanya. Besok, ia akan kembali seperti tadi.


Merasakan mual dan muntah tanpa ada yang membantunya ketika dia merasa lemas, takan ada yang bisa dia mintai tolong saat dia ingin sesuatu, bagaimana jika dia mengidam sesuatu.


Sebagai wanita normal, dia ingin sekali masa kehamilannya ada yang mendampinginya, ada yang menemaninya saat memeriksaan kandungan.


Tapi semua itu takan pernah ia rasakan, ia harus melakukan semuanya seorang diri, ayah dari bayi yang dia kandung saja menyebut dirinya dan calon anaknya hanya alat balas dendam


Scroll lagi yak.