Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
177


"Aunty, kenapa Aunty menangis?" tanya Kelly pada Simma saat ia melihat mata Simma memerah.


Mendengar ucapan Kelly, Simaa menggeleng. "Siapa yang menangis, hmm," jawab Simma sambil merapikan rambut Kelly.


Saat ini, Simma dan Kelly sedang bersiap untuk pergi ke rumah sakit, saat semalam Zidan pun tak lupa mengabari Simma bahwa Audrey masuk rumah sakit.


"Aunty takan bisa membohongiku. Aunty pasti baru saja menangis, kan!" ulang bocah kecil itu yang tak percaya dengan jawaban Simma. Simma berdecak, urusan dengan Kelly memang sangat rumit.


"Sekarang kau sudah selesai, giliran Aunty yang bersiap. oke," ucap Simma, Kelly pun mengangguk. Namun, bola mata bocah kecil itu terus memerhatikan Simma, meneliti wajah mata Simma yang sembab. Bocah jenius itu yakin, bahwa Simma baru saja menangis.


Simma menggeleng saat melihat tingkah Kelly. Ia langsung bangkit dari duduknya, dan keluar kamar Kelly untuk bersiap-siap


Saat masuk kedalam kamar, Simma langsung berjalan ke arah nakas untuk melihat ponselnya. Ia mengigit bibir bawahnya, menahan sesak karena tak ada satu pun balasan dari Josh, padahal ... Simma sudah mengirim banyak pesan pada Josh, tapi tak ada satu pun balasan yang di berikan oleh Josh.


Ia bingung dengan apa yang terjadi dengan hubungannya dan Josh, kenapa setelah hari itu Josh berubah. Tak pernah membalas pesannya dan tak pernah lagi menelponnya. Bahkan saat Simma menelponnya Josh tak menjawab, terkadang juga Josh selalu menolak panggilan Simma.


Setelah cukup lama berpikir, Simma pun langsung berjalan ke kamar mandi dan bersiup untuk pergi ke rumah sakit, ia akan mencoba menghubungi Josh nanti.


••••


Melihat Sonya dan Albert datang, Zidan langsung menaruh telunjuknya di bibir, mengisyaratkan agar Sonya dan Albert untuk tak mengeluarkan suara.


Sonya dan Albert pun, mengerti. Mereka langsung mendudukan diri mereka di sofa, menunggu Audrey membuka mata. Zidan pun bangkit dari duduknya, ia menyusul kedua orang tuanya dan duduk di sofa.


Zidan mendudukan dirinya di sebelah Sonya, agar ia tak melihat Albert, membuat Albert menggeleng, ia tau bahwa putranya sedang gugup dan takut pada dirinya.


35 menit berlalu, mereka bertiga masih duduk dengan membisu, tak ada yang berani mengeluarkan suara karena takut akan membangunkan Audrey.


Tak lama, terdengar suara lenguhan dari Audrey ... Ia membuka mata, kemudian mengerjap-ngerjap dan menyesuaikan pandangannya. Zidan yang melihat pergerakan dari Audrey, langsung bangkit dari berbaringnya dan menghampiri Audrey.


"Kau sudah bangun, Sayang," ucap Zidan, membuat Audrey tersenyum. Karena posisi Audrey yang membelakangi Sofa, Audrey belum menyadari bahwa ada Sonya dan Albert di ruangan tersebut.


"Ekhemm!" Sonya berdehem, membuat Audrey langsung menoleh kebelakang. Mata Audrey membulat sempurna saat melihat Sonya dan Albert sedang menatap dan tersenyum padanya.


Lalu tak lama ia menatap Zidan meminta jawaban pada Zidan, Zidan yang mengerti tatapan Audrey pun hanya mengangguk pelan.


Sonya bangkit dari duduknya, ia langsung berjalan ke arah brankar untuk menghampiri Audrey.


Setelah Sonya mendekat, Zidan menggeserkan kursi untuk Sonya.


"Bagaimana kondisimu, hmm?" tanya Sonya. Ia tersenyum lembut ke arah Audrey, membuat Audrey terkesiap. Bagaimana mungkin wanita sekelas Sonya mau berbicara padanya yang hanya wanita biasa, begitulah pikir Audrey.


Sebelum menjawab ucapan Sonya, Audrey berusaha bangkit dari berbaringnya, ia merasa tak sopan jika harus menjawab Sonya sambil tertidur.


"Tidak usah, Sayang, beristirahatlah," ucap Sonya, ia bangkit duduknya untuk mencegah Audrey bangkit.


lagi-lagi, Audrey terkesiap saat Sonya memanggilnya Sayang. Bukan memanggil namanya, membuat mata Audrey berkaca-kaca.


"Ma-maafkan, Saya, Nyonya," lirih Audrey dengan pelan. Membuat Sonya menggeleng.


"Mulai sekarang, berhenti memanggilku Nyonya. Kau bisa memanggilku Mommy. Mommy dan Daddy mohon, menikahlah dengan Zidan ... Maafkan kesalahan Zidan, Mommy berjanji, jika Zidan membuat kesalahan Mommy yang akan menghukumnya. Dan terimakasih telah menjaga Kelly dengan baik, dan kini ijinkan kami yang menjagamu," ucap Sonya.


Mendengar ucapan Sonya, Audrey kembali menumpahkan tangisannya. Selama ini, Audrey menjalani kehidupan yang keras tanpa keluarga dan kasih sayang. Kelly dan Simma adalah alasannya untuk tetap kuat, ia tak pernah memikirkan dirinya sendiri. Bagi, Audrey, selama Simma dan Kelly baik-baik saja, itu sudah cukup.


Dulu, Ia sama sekali tak pernah memikirkan dirinya sendiri. Tapi, kini .... Ia merasa dirinya berarti dan berharga karena mendengar ucapan Sonya. Bolehkah ia berharap bahwa ini bukanlah mimpi, mimpi yang selalu ia inginkan sedari dulu, mimpi mendapat kasih sayang dari keluarga yang tak pernah ia dapatkan sedari dulu.


Melihat Audrey menangis, tangan Sonya terulur untuk mengahapus air mata Audrey, membuat tangis Audrey semakin pecah. Ia sungguh merasa, bahwa dirinya adalah manusia yang berharga, dan manusia yang diinginkan.


Mendengar tangisan Audrey. Zidan menunduk, ia memang mempunyai masa lalu yang penuh luka, Ia pernah tak di anggap oleh kaka dan ayahnya. Tapi, ia yakin ... masa lalu Audrey lebih menyakitkan dari pada masalalunya.


Tepukan di bahu Zidan membuat Zidan mengangkat kepalanya dan ternyata Albert yang menepuk bahunya.


"Daddy, bangga padamu!" ucap Albert membuat Zidan melongo ... Bukankah seharusnya sang ayah marah padanya.


"Daddy kenapa bangga padaku! bukankah aku telah mengacaukan perusahaan, bukankah aku telah melakukan kesalahan yang fatal," ucap Zidan bertubi-tubi. Ia berbicara tanpa menjeda ucapannya, membuat Albert memutar bola matanya jengah.


Belum Albert menjawab, pintu ruangan terbuka membuat semua menoleh, ternyata Kelly dan Simma lah yang masuk.


Saat masuk dan saat melihat Sonya dan Albert, Kelly langsung menyembunyikan dirinya di belakang tubuh Simma, ia sebenarnya malu karena dulu pernah menolak kunjungan dari kakek dan neneknya.


Melihat Kelly yang datang, Albert pun langsung menghampiri cucunya dan ....


Yang kesel sama Josh kita satu bumi wkwkwwkw


Hate komen, Blok 😎😎