Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
Seorang badut


Gabriel keluar dari mobil dengan langkah yang lesu, Beberapa menit lalu, saat ia mengemudi ia mendapat kabar yang buruk, dari kepercayaannya, tentang proyek yang gagal di luar negeri.


Tentu saja itu menambah rasa frustasi Gabriel, karena ia sudah mempertaruhakan semuanya, tapi hasilnya malah nihil. Sekarang, Gabriel hanya ingin mengistirahatkan tubuhnya, tanpa diganggu Amelia dan berharap Amelia tidak akan mengganggunya. Untuk malam ini saja, ia ingin mengistirahatkan tubuhnya dan pikirannya.


Setelah berjalan, akhirnya Gabriel sampai di unit apartemen miliknya. Dengan gerakan yang sangat pelan, ia menekan kode dan membuka pintu lalu membuka sepatunya.


Saat masuk kedalam, ia memejamkan matanya ketika melihat Amelia sedang berada di meja makan dan sudah dipastikan, Amelia akan meminta hal yang sangat aneh padanya. Gabriel menghela nafas, kemudian menghembuskannya.


Ia berusaha untuk tak menampilkan rasa lelahnya, di depan Amelia. Ia berusaha tersenyum, dan menyamarkan rasa lelahnya dengan senyuman.


“Kenapa kau baru pulang?” tanya Amelia. Sungguh, Amelia tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya. Sedari tadi, ia sudah gelisah menunggu Gabriel.


Gabriel menyimpan tas kerjanya di kursi, kemudian ia berjalan ke dapur untuk mengambil minum. “Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku!” tanya Amelia.


Gabriel menghentikan langkahnya, kemudian menghela nafas. Lalu berbalik, “Aku banyak pekerjaan,” jawab Gabriel, kali ini Amelia yang terdiam, dan Gabriel kembali melangkahkan kakinya untuk pergi ke dapur, kemudian membuka kulkas, mengambil air meminumnya hingga tandas.


“Apa ada yang ingin kamu sampaikan?” tanya Gabriel, ketika ia ingin menghampiri Amelia di meja makan. Sungguh ,saat ini ia ingin sekali langsung pergi ke kamarnya, tapi ia tidak enak jika harus meninggalkan Amelia.


”Aku ingin makan sesuatu, dan kedai itu ada di perbatasan kota, dan butuh waktu dua jam untuk kesana!" ucap Amelia dengan polosnya. Ia sedang mengidam, dan rencananya. Ia akan memberitahu kehamilannya pada Gabriel saat Gabriel sudah membelikan makanan yang ia mau.


Rahang Gabriel mengeras, ketika mendengar apa yang diinginkan oleh istrinya. Rasa jengkel mendera Gabriel, ketika lagi-lagi, Amelia meminta hal yang tak masuk akal.


“Amelia itu sungguh jauh dari sini,” jawab Gabriel.


“Aku tidak mau tau, aku ingin itu," ucapnya dengan nada merengek, ia benar-benar ingin memakan makanan itu sedari tadi.


Mata Amelia membeliak tajam, saat mendengar ucapan Gabriel, bagaimana mungkin Gabriel menganggapnya begitu.


“Apa kau menganggap aku menjadikanmu badut? apa sedangkal ini pikiranmu!” Kali ini, Amelia bangkit dari duduknya, kemudian menggebrak meja ,karena tak terima dengan apa yang diucapkan oleh Gabriel.


“Aku hanya meminta tolong padamu selama beberapa waktu ini, dan kau menuduhku menjadikanmu badut. Lalu apa kabar denganmu yang menjadikanku badut selama 3 tahun.”


“Amelia!” bentak Gabriel. Kini, giliran Gabriel yang menggebrak meja, ia menatap Amelia dengan bengis, terlihat jelas wajahnya menatap Amelia dengan tatapan penuh amarah. Pada akhirnya, emosinya terpancing saat Amelia mengungkit masa lalu yang sudah selesai.


”Aku hanya memintamu untuk tidak merepotkanku hari ini saja. Lalu kenapa kau harus membahas masalah yang sudah berlalu.”


Wajah Amelia memucat, lutunya melemas saat mendengar bentakan dari Gabriel. Ia memegang sisi meja, karena tiba-tiba tubuhnya bergetar, lututnya melemas, tak lama, Amelia mundur, karena Gabriel masih menatap bengis padanya. Ia takut Gabriel akan melukainya.


“Aku tidak bisa terus mengikuti keinginan anehmu, jadi bisakah kau tak terlalu bergantung padaku. Apa kau tau, aku begitu lelah.”


Kali ini, Gabriel berbicara dengan nada pelan. Namun, suaranya menggeram, pertanda Gabriel sedang di landa emosi yang luar biasa.


Rasa lelah, frustasi menubruk menjadi satu. Hingga ia menjadikan Amelia sasaran kemarahannya.


Setelah mengatakan itu, Gabriel kembali berbalik, kemudian Ia memutuskan keluar dari apartemen, ia keluar dengan membanting pintu membuat Amelia hampir terjatuh ke lantai. Beruntung Grisya sedang berlibur bersama kekek dan neneknya ke luar negri hingga gadis kecil itu tak mendengar perdebatan antara orang tuanya.


Gengs, ini hanya konflik trakhir, sebelum Gabriel benar benar membuktikan cintanya pad Amelia. Berikan kata-kata mutiara untuk Gabriel 🤣🤣🤣. Ga nerima hate komen buat otor ya. karena otor ya.