
Briana terus menggenggam tangan Ariana, matanya tak bisa lepas melihat wajah putrinya. Mata Ariana masih terpejam, bocah kecil itu seperti nyaman berlama-lama berada dalam alam mimpinya.
"Bri, biar aku yang menjaga Ariana kau makanlah dulu," ucap Gia, ia menepuk lembut pundak Briana, membuat Briana menoleh.
Briana menggeleng, helaan napas panjang keluar dari mulutnya. Ia memang lapar, tapi rasanya ia tak ingin sedetik pun meninggalkan Ariana.
"Aku akan makan nanti, Gia," jawabnya. membuat Gia menggeleng samar. ini sudah ke 3 kalinya Gia menyuruh Briana untuk makan. Namun, jawaban Briana tetap sama.
Gia kembali mendudukan diri di sofa, lalu melihat ponselnya dan berusaha menelpon suaminya. Namun, Zayn sama sekali tak menjawab panggilannya.
Ariana mengerjap, ia membuka matanya. Sekejap, otak gadis kecil itu kosong. Ia kenapa, sedang berada di mana, dan ia bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya.
Lalu, tak lama. Ia melihat ke samping, dimana sang ibu sedang menggenggam tangannya. Tiba-tiba, sesak menghimpit dada Ariana saat ia teringat semuanya. Kenangan menyakitkan itu menubruk otaknya, membuat jantung Ariana seperti di tusuk ribuan anak panah.
"Ariana!" panggil Briana. Ia terpekik kaget saat Ariana menarik dengan keras tangannya dari genggamannya.
Ariana menoleh ke samping, gadis malang itu tak mau menoleh pada sang ibu. Tangisnya luruh, ia sungguh tak ingin melihat sang ibu lagi.
Briana bangkit dari duduknya, ia kembali menggenggam tangan Ariana, dan membungkukkan dirinya untuk mencium kening Ariana.
Saat Briana akan mendekat, Ariana memukul wajah Briana. Gadis kecil itu tiba-tiba berteriak histeris. Ia mencabut semua alat-alat yang menempel di kepalanya.
Gia yang sedang duduk di sofa, langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri brankar.
"Ariana!" panggil Briana lirih, hati Briana hancur sehancurnya saat sang putri menatapnya dengan tatapan benci. Briana mengulurkan tangannya, ia berniat untuk kembali memegang tangan Ariana. Namun sang putri menepi keras tangan Briana.
"Pergi! Jangan sentuh aku!" teriak Ariana. Ia melemparkan bantal dan semua yang ada di sisinya ke arah Briana.
"Sayang, tenanglah!" ucap Gia, ia berusaha memegang tangan Ariana. Namun, gadis kecil itu juga menepis tangan Gia.
"Pergi!" teriak Ariana. Ariana berteriak begitu keras, gadis kecil itu melampiaskan amarahnya. Tak lama, pintu terbuka, sosok Zayn masuk.
Mata Zayn membulat saat melihat Ariana yang sedang mengamuk. Dengan cepat, ia langsung berjalan ke arah brankar dan secepat kilat, ia mendekap tubuh Ariana yang sedang mengamuk.
"Pergi!" Ariana kembali berteriak lagi saat dalam pelukan Zayn. Ia meronta, pandangan matanya lurus menatap Briana. Briana bergidik, putrinya menatapnya dengan tatapan berbeda, tatapan terluka, marah, kesedihan dan amarah yang membara.
"Tenanglah Ariana, ada Uncle di sini," ucap Zayn. Ia memeluk Ariana begitu erat karena Ariana tak berhenti meronta.
"Tenang Ariana, tenang!" ucap Zayn dengan sedikit keras karena Ariana tak berhenti berteriak pada Briana.
Mendengar ucapan Zayn yang sedikit keras, Ariana tersadar, berhenti memberontak lalu mendongak melihat Zayn.
Tubuh Ariana terpaku saat melihat Zayn, ia terdiam saat merasakan tubuhnya di peluk oleh Zayn. Tubuhnya bergetar, untuk pertama kalinya ia merasakan ada orang yang memeluknya.
"Tenanglah, Briana. Ada Uncle disini. Sekarang, Tak akan ada lagi yang menyakitimu," ucap Zayn.
Nyesssss.
Inilah yang Ariana butuhkan selama ini, ada yang memeluknya, menyemangatinya dan berkata bahwa akan melindungi Ariana.
Melihat Ariana sudah tenang, Zayn mendudukan dirinya di samping Ariana. Ia memegang kedua bahu anak malang itu sambil tersenyum.
"Sekarang, ada uncle di sini. Kau takan sendirian lagi. Uncle berjanji tak akan ada lagi yang menyakitimu," ucap Zayn. Ia tersenyum dan menatap Ariana dengan tulus.
"Daddy!" jerit Ariana tiba-tiba, ia langsung memeluk tubuh Zayn dengan erat, dan kembali menumpahkan tangisannya. Rupanya, Ariana sedang berkhalusinasi, ia menganggap bahwa yang berbicara seperti itu adalah Josh, sang ayah.
Ariana selalu berharap bahwa ucapan itu keluar dari mulut Josh, hingga saat ini, ia menyangka bahwa sang ayah lah yang berbicara dan ia menyangka, ia sedang memeluk sang ayah.
Briana membekap mulutnya ketika mendengar ucapan Ariana. Rasanya, ia ingin menangis sekencang-kencangnya, Gia yang berada di sebelah Brina langsung memeluk Briana.
Suasana di ruangan itu begitu pilu, tangis Ariana benar-benar menggetarkan hati siapa saja yang mendengarnya. Bahkan Zayn pun ikut meneteskan air mata.
Ia pernah berada di posisi Ariana, yang rindu akan kasih sayang seorang ayah, hingga Zayn tau betul, betapa beratnya hidup Ariana yang di paksa harus menerima keadaan.
Zayn mengelus rambut Ariana dengan lembut, membuat tangis Ariana semakin menjadi-jadi.
Elusan tangan Zayn benar-benar mengantarkan Ariana ke titik ternyaman di hidupnya.
•••
Waktu menunjukan pukul 11malam, Gia dan Zayn baru saja pulang dari rumah sakit. Zayn sudah menawarkan diri akan menemani Ariana malam ini. Namun, Briana menolak. Ia bisa melihat bahwa Zayn begitu kelelahan. Apalagi, sedari tadi, Ariana tak mau melepaskan pelukannya pada Zayn.
Briana kembali menarik tangan putrinya, dan menggenggamnya. Beruntung Ariana sudah terlelap, hingga ia tak perlu khawatir Ariana akan mengamuk.
Tak lama, perut Briana berbunyi, ia melepaskan genggaman tangannya dan mengelus perutnya. Ia lupa, bahwa sejak tadi ia belum memakan apapun.
Ia pun bangkit dengan pelan agar tak membangunkan Ariana, kemudian ia berjalan keluar ruangan untuknmembeli makanan.
Tepat saat Briana keluar, seorang lelaki dengan pakaian perawat masuk ke ruangan Ariana. Lelaki itu langsung berjalan ke arah brankar, ia membekap hidung Arina dengan sapu yang sudah di oleskan obat bius. Ia takut, Ariana akan bangun saat akan di pindahkan kedalam mobil.
Briana menjatuhkan kantong kresek yang di tangannya saat masuk kedalam ruang rawat Ariana karena berankar Ariana sudah tak ada.
melihat Brankar Ariana tak ada, Ia di Landa kepanikan, saat dia akan berbalik untuk bertanya, seseorang yang tadi bersembunyi di belakang pintu langsung maju dan membekap hidung Brian dengan sapu tangan yang sudah di olesi obat bius, hingga Briana terkulai lemah tak sadarkan diri.
penderitaan Ariana bentar lagi ko gengs, sabar ya.
Jangan nebak-nebak ya, ikutin aja alirnya, karena kalian akan terkejoed kejoed.
Ini udah panjang banget ya, dua bab di jadiin satu, .
Hate komen blok ,, 😎