
Stuard menghela nafas, kemudian mengusap wajah kasar, saat anak buahnya mengatakan bahwa Gabriel berhasil kembali menjalankan proyeknya di Dubai.
Padahal, ia. sudah menarik seluruh investor dan mustahil Gabriel bisa maju tanpa investor. Tapi Stuard salah, proyek itu hanya berhenti sebentar dan kini proyek itu kembali di lanjutkan lagi dengan dana Gabriel sendiri.
“Kau boleh keluar!” titah Stuard pada anak buahnya, ia menyandarkan punggungnya ke belakang. Kemudian matanya menatap ke depan.
”Gabriel! kenapa kau jadi seperti ini, Nak,” ucap Stuard dengan lirih. Ia sudah mendidik Gabriel dengan baik dan penuh cinta. Tapi ia tak mengerti, kenapa putranya bisa seperti ini.
Tiba-tiba, pintu kembali terbuka muncul sosok Simma membawa teh untuk suaminya. Saat Siima mendekat, Stuard tersenyum dengan hati yang pedih. Istrinya begitu kurus sejak kepergian Gabriel.
Simma selalu berkata tidak apa-apa, dan tak pernah memperlihatkan kesedihannya. Tapi, Stuard selalu memergoki Simma menangis diam-diam.
Tak ada hati ibu yang tak sakit ketika melihat putranya berubah sedemikian rupa, begitupun Simma. Ia begitu hancur, hanya saja Sima tidak pernah memperlihatkan kesedihannya di hadapan suami atau kedua Putrinya.
Simma hanya melampiaskan kesedihannya dengan menangis diam-diam.
“Ini teh untukmu,” ucap Sima, ia menaruh nampan lalu menyodorkan teh ke hadapan suaminya. Stuard mengulurkan tangannya pada istrinya, kemudian menarik lembut tangan Sima dan menuntun Simma untuk duduk di pangkuannya.
Saat duduk di pangkuan suaminya, Simma ingin sekali menangis, karena barusan ia mendengar percakapan Stuard dan anak buahnya.
Ternyata, usaha Stuard gagal lagi, Suaminya gagal membawa Gabriel. Stuard mengusap punggung Simma, membuat tangis yang sedari tadi ditahan Simma akhirnya pecah.
“Tidak apa-apa, aku akan mencoba cara lain untuk membuat Gabriel kembali,” ucap Stuard, Simma tak menjawab, ia hanya mampu menyembunyikan wajahnya di leher suaminya.
“Tidak apa-apa, jangan menangis,” ucap
satu bulan bulan kemudian
Hari ini, sudah 1 bulan Amelia dirawat. Kondisi Amelia sudah membaik.
Sebenarnya kondisi Amelia sudah membaik dua minggu lalu. Hanya saja Gilsa dan Kate berbohong pada Gabriel, bahwa Amelia belum pulih. Berharap Gabriel percaya dan membiarkan Amelia beristirahat lebih lama.
Dan beruntung, Gabriel percaya. Dan selama sebulan ini, Gabriel tidak pernah menemui Amelia di ruang kesehatan. Fisik Amelia memang sudah membaik. Tapi tidak dengan mentalnya
Selama sebulan ini, tak banyak yang dilakukan oleh Amelia. Ia hanya melamun, melamun dan melamun. Bahkan terkadang, jika tak ada dokter Amelia akan menangis dan tertawa secara bersamaan. Menertawakan nasibnya, menertawakah hidupnya.
Sebelum bertemu Gabriel, pukulan tendangan dan makian sudah menjadi santapan Amelia sehari-hari, ayah tirinya begitu bringas, dan selalu memperlakukan Amelia dengan buruk, bahkan sangat buruk.
Dan sekarang, nasib Amelia tidaklah menjadi lebih baik, lepas dari ayah tirinya ia malah menjadi bulan-bulanan Gabriel, dan yang lebih menyakitkan. Ia harus kehilangan dua calon anaknya.
Pintu diketuk menyadarkan Amelia dari lamunannya, ia yang sedang duduk, menghapus air matanya kemudian bangkit untuk membukakan pintu.
Tubuh Amelia terdiam, saat melihat siapa yang mengetuk pintu. Ternyata yang mengetuk pintu adalah kepala pelayan yang biasa memanggilnya jika Gabriel membutuhkannya untuk apalagi jika bukan untuk memuaskan hasratnya.
Otak Amelia mendadak kosong, semua ketakutan dan semua rasa sakit bertumbuh menjadi satu, tanpa mendengar ucapan pelayan tersebut, Amelia langsung keluar dari kamarnya melewati tubuh kepala pelayan tersebut dan berjalan ke ruangan dimana Gabriel telah menunggunya. Karena ia tahu, kepala pelayan itu pasti di perintahkan oleh Gabriel, untuk apa lagi, tentu saja Gabriel akan menyiksanya seperti biasa.
Scroll gens aku udah update silahkan Scroll ya
Gengs jadi kan kemarin pas aku meriang itu Ternyata aku terkena gejala tipes, dan hari ini aku update dua bab dulu ya. Karena masih dalam proses pemulilah, yok komen yok