
Zayn mencoba menguasai diri saat bertemu lagi dengan Toni. Ia pun maju dan duduk di sofa yang bersebrangan dengan Toni.
Di meja sudah terhidang minuman keras dengan kadar yang cukup tinggi. Toni tau, Zayn akan meminum alkhol dengan kadar tinggi ketika dia kesal atau marah.
"Aku tak ingin basa-basi. Katakan apa yang membuatmu berani memanggilku setelah apa yang kau lakukan dulu," ucap Zayn. Ia memandang Toni dengan kilatan benci. Ia benar-benar ingin menghajar Toni. Namun, sekuat tenaga ia menahan dirinya.
Toni menanggapi tatapan dingin Zayn dengan senyum mengejek, ia tau Zayn adalah orang yang temperamental. Ia berharap Zayn meminum alkohol yang sudah dia siapkan, tentu saja Toni sudah memasukan sesuatu kedalam minumannya.
"Bagaimana rasanya menikah kembali Zayn?" tanya Toni masih berusaha memancing emosi
Benar dugaan Zayn, anak buah Toni yang mengikutinya tadi. Ia menyadari betul bahwa sekarang ini ia tak bebas bergerak.
Zayn tersenyum. "Kenapa kau bertanya? kau ingin merebutnya lagi?" jawab Zayn dengan seringai mengejek. Ia menyenderkan tubuhnya kebelakang dan menatap Toni dengan tatapan meremeh. "Jika kau mau, kau bisa mengambilnya. Kau pasti sudah tau kenapa aku menikahi wanita itu. Anak buah Santosh Pasti sudah memberi tau apa alasanku menikahinya, dia sama sekali tak berarti untukku," sambungnya lagi.
Inilah cara Zayn menjaga Gia, jika musuhnya tau Gia dan calon anaknya berharga baginya, mereka takan mengincarnya melainkan mengincar Gia dan menjadikan Gia alat untuk membuat Zayn bertekuk lutut. Cukup dia saja yang menghadapi keganasan musuhnya, ia takan membiarkan Gia terluka sedikitpun.
Mendengar ucapan Zayn, Toni mengeraskan rahangnya. Rupanya ia percaya dengan perkataan Zayn. Padahal dia sudah berencana akan mengincar Gia untuk membuat Zayn tak berkutik. Namun sekarang .... Ia merasa kalah sebelum berperang.
"Sekarang, katakan alasanmu ingin menemuiku!"
"Kau pasti sudah tau, bukan, bahwa aku kembali ke negara ini karena Santosh yang memanggilku." Toni menjeda ucapannya sejenak, ia menatap Zayn lekat-lekat mencoba melihat bagaimana reaski Zayn saat dirinya menyebut nama Santosh. Namun sayang, Zayn sama sekali tak terpengaruh ketika mendengar nama Santosh, seolah dia sudah menduganya.
"Aku akan memberitau apa rencana Santosh padamu, dengan satu sarat. Serahkan perusahaanmu yang berada di mexico padaku, maka aku akan berbalik bekerja sama denganmu dan menghancurkan Santosh," ucap Toni dengan percaya diri
Zayn menepuk tangan membuat Toni keheranan, kali ini Zayn juga sama sekali tak terkejut dengan ucapan Toni. "Harus aku akui, kau memang hebat, Toni. Kau bahkan bisa tau bahwa aku mempunyai perusahaan di Mexico." Zayn menegakan duduknya. Ia menaruh kedua sikunya di lutut dan menatap Toni.
"Aku tak butuh bantuanmu, jangan bermimpi aku akan menyerahkan prusahaanku padamu. Kau hanya sampah yang tak berguna."
Mendengar ucapan Zayn, Toni meradang. Ia bangkit dan menggebrak meja. "Kau terlalu percaya diri, Zayn!" teriaknya dengan lantang. Tapi tak lama Toni kembali sadar, ia tak seharusnya emosi pada Zayn. Ia pun kembali duduk dan mengambil gelas yang berisi alkohol dan mengenggaknya hingga tandas.
"bagaimana jika aku memberitau jika kau mempunyai perusahaan lain pada Santosh, aku yakin dia tak akan tinggal diam."
"Maka itu lebih bagus," jawabnya santai, Zayn tak terlihat gentar sedikitpun.
"Jika dia tau, maka aku akan lebih menghancurkan sampah seperti kalian," sambungnya kemudian. Zayn pun bangkit dari duduknya dan menatap Toni dengan pandangan mengejek. "Kau kembali kesini dan mencari gara-gara denganku, berarti kau sudah siap kehilangan nyawamu!"
Toni bangkit dari duduknya karena tak terima dengan apa yang di ucapkan Zayn, dia berniat menghajar Zayn, namun tiba-tiba dia memegang dadanya yang terasa sakit, lalu tak lama dia tumbang. Sedangkan Zayn tersenyum penuh kemenangan. "Nikmati apa yang kau rencanakan," ucap Zayn. Ia pun keluar dari ruangan. "Obati dia, jangan sampai dia meregang nyawa. Aku masih membutuhkanya!" titah Zayn pada anak buahnya yang sedari tadi menunggu diluar.
Scrol lagi ya