Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
Amelia


Aku tersadar, kemudian membuka mata, kepalaku berdenyut nyeri. Pandangan mataku sedikit mengabur. Hingga aku tidak tahu, aku dimana sekarang.


Tubuhku begitu lemah. Sejenak, aku terdiam mencoba mencerna apa yang terjadi karena aku tidak mengingat apapun. Tapi tak lama, semua yang terjadi menumpuk menjadi satu.


Pandanganku mulai menjelas, aku melihat ke sekeliling. Ternyata aku sedang berada di rumah sakit. Kilatan kejadian itu langsung menubruk otaku. Hingga rasa pedih langsung mengiisi ke dalam rongga dada.


Aku memegang perutku, berharap aku baik-baik saja. Aku bersyukur, kandungan ku tidak apa-apa karena, aku tidak merasa sakit yang berlebihan di perutku itu tandanya kandunganku selamat.


Aku menatap langit-langit, mencoba meresapi perih dalam dada. Pikiranku mengembara pada kejadian sebelum aku tak sadarkan diri.


Gabriel, .... lelaki itu. Entah aku bodoh, entah aku naif. Aku masih mencintai dia walaupun dia sudah melukaiku sedemikian rupa.


Pernah, aku membencinya ketika dia menyekapku selama 3 tahun. Tapi rasa benciku tidak bertahan lama. Nyatanya, cinta itu tumbuh ketika dia mulai membuktikan dirinya layak menjadi ayah Griysa.


Saat aku mengetahui bahwa mengandung anak kedua, semuanya bercampur menjadi satu. Antara sedih senang dan takut. Aku takut karena traumaku masa lalu, aku sedih karena aku bingung cara memberitahu Gabriel, aku senang ada karena ada satu nyawa yang dititipkan Tuhan untukku.


Tak pernah terbayangkan aku bisa menikah lagi dengan lelaki yang jahat yang dulu melukaiku dan membuatku gila. Aku bahkan tidak pernah membayangkan hal itu terjadi. Tapi faktanya, sekarang dia menjadi suamiku menjadi ayah yang utuh bagi putriku.


Setelah kami menikah, perasaanku padanya semakin menjadi-jadi rasa cintaku semakin hari semakin besar padanya, mungkin ini juga karena hormon kehamilanku yang selalu ingin dekat dengannya.


Seiring berjalannya, waktu perasaanku mulai tak terkendali, apalagi calon anakku seolah selalu ingin dekat dengan ayahnya. Aku akui beberapa waktu ke belakang aku sangat menyebalkan. Tapi, itu diluar kuasaku aku juga tidak ingin merepotkannya.


Terkadang aku menangis ketika aku melihat wajahnya yang begitu lelah karena mengikuti keinginanku. Tapi, aku juga tidak bisa mengontrol diriku, aku selalu ingin di dekatnya.


Aku berpikir, aku bisa seperti istri lain, yang selalu meminta tolong pada suaminya. Hingga terkadang, rasanya menyenangkan ketika melihat dia mengikuti apa yang aku mau.


Dan kemarin, aku benar-benar ingin makanan itu. Sebenarnya, aku ingin pergi sendiri. Hanya saja, saat itu perutku sedang kram dan aku tidak berani untuk menyetir hingga aku memutuskan untuk menunggu dia pulang dari kantor, dan meminta tolong padanya. Setelah itu, aku berencana memberitahukan kandunganku padanya.


Aku pikir ucapannya selama ini benar, akan melakukan apapun demi diriku, aku pikir aku tak akan melihat sisi jahatnya lagi karena aku yakin dia sudah berubah. Tapi ternyata aku salah, dia masih sama.


Mungkin dia berubah hanya ada Grisya di antara kami. Tapi dendamnya padaku masih ada. Dan bodohnya aku percaya, bahwa dia benar-benar telah berubah.


Dia masih menatapku dengan bengis, dan aku sungguh trauma melihat tatapannya. Tatapan itu, mengingatkanku ketika dia menyiksaku hingga aku kehilangan calon anakku.


Scroll gengs


Nyesek jadi Amelia