Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
87


"Mommy ... Mommy!" teriak Zidan. Ia mengangkat kepala Sonya dan meletakan di pahanya. Ia terus menepuk-nepuk pipi Sonya.


Karena Sonya tak sadar-sadar. Zidan pun dengan segera menggendong tubuh Sonya dan berlari menuju mobil untuk membawa ke rumah sakit.


Beruntung, dokter yang biasa menangani Sonya melihat saat Sonya datang dan di baringkan di brankar.


Zidan terus mundar-mandir di depan ruang rawat. Ia berusaha menghubungi Albert. Namun, tak ada jawaban dari Albert. Ia pun memutuskan untuk menelpon Zayn. Namun, belum dia menelpon, Dokter sudah selesai memeriksa Sonya dan keluar dari ruangan.


Zidan pun menaruh kembali ponsel di sakunya dan bertanya keadaan Sonya.


"Bagaimana keadaan Mommy saya, Dok?" tanya Zidan.


Dokter menghela napas, "Anda bisa ikut ke ruangan saya?" tanya Dokter, Zidan pun mengangguk. Ia mengikuti langkah Dokter.


Dunia Zidan seketika berhenti berputar saat Dokter memberitaukan penyakit Sonya. Ia semakin terpukul kala Sonya menolak untuk di kemoterapi. Dengan kata lain, Sonya memang tak ingin sembuh.


Zidan keluar dari ruangan dokter dengan langkah gontai. kakinya serasa tak berpijak. Ia terduduk dikursi tunggu,ia duduk sejenak karena merasa tak bisa melangkah.


Ia menutup kedua wajahnya dengan tangan. Bahu Zidan bergetar, tangisnya luruh. Bagaimana mungkin ia tak tau tentang apa yang menimpa Sonya.


Selama ini hanya Sonya yang menganggapnya ada, hanya Sonya yang selalu berpihak padanya. Dia menyayangi Sonya lebih dari apa pun.


Setelah puas menangis, Zidan teringat Zayn. Ia harus memberitaukan kondisi Sonya pada Zayn.


Setelah menelpon Zayn, Zidan kembali bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ruangan Sonya.


Saat masuk kedalam ruangan Sonya, Zidan menatap tubuh mommynya yang terbaring di brankar dengan tatapan nanar. Seandainya bisa, Ia ingin menangis dan meraung berteriak menyuruh Sonya untuk bangun.


Zidan menggeser kursi dan duduk di sisi brankar Sonya. Ia menggenggam tangan Sonya. Matanya melihat wajah Sonya yang terlihat sangat pucat.


Ia mencium tangan Sonya, air mata kembali jatuh dari pelupuk matanya. "Mom, aku tau aku tak pantas meminta sesuatu padamu. Entah seberapa berat beban yang selama ini kau tanggung, hingga kau lebih memilih menyerah. Tapi, bolehkah sekali ini saja, aku meminta mu untuk bertahan, Mom. Kau malaikatku, ijinkan aku untuk menebus semua kebaikan yang telah kau lakukan padaku dan pada Zayn," ucap Zidan. Ia menunduk, mengecup punggung tangan Sonya bertubi-tubi. Rasanya, ia tak sanggup menatap wajah Sonya.


Bahunya kembali bergetar, ia tergugu menangis, rasanya terlalu menyakitkan saat membayangkan Sonya akan pergi dari hidupnya.


Zidan melepaskan genggaman tangannya pada Sonya saat mendengar derap langkah yang cukup nyaring. Dan ia yakin, itu adalah suara langkah Zayn.


Pintu terbuka, Zayn masuk denga ter engah-engah karena berlari. Saat Zayn masuk, Zidan dengan cepat menghapus air matanya.


"Kau sudah datang rupanya," ucap Zidan basa-basi. Ia terlalu canggung untuk bertegur sapa dengan Zayn. Zidan pun bangkit dari duduknya karena ingin memberikan ruang Zayn untuk berbicara dengan Sonya.


Tubuh Zayn hampir merosot kebawah saat melihat kondisi Sonya yang sedang terbaring. Ia bahkan tak sadar bahwa Zidan telah melewati dirinya dan sudah keluar dari ruangan.


Ahh, part sedihhhh. Bayangin aja, Sonya udah menderita selama 30 tahun, sampai dia terkena penyakit pun dia lebih milih nyerah karena terlalu banyak kesakitan yang dia tanggung.


Satu part lagi malem ya mak. Otor mau mandiin anak-anak dulu.