
"Kau yakin ingin tinggal sendiri?" tanya Audrey setelah melapaskan pelukannya. "Ayolah, Simma. kau tetap bisa bekerja walaupun tinggal bersama kami," ucap Audrey lagi. Namun, secepat kilat Simma menggeleng.
"Audrey, aku ingin merasakan pengalaman bagaimana hidup mandiri ... Bekerja dan melakukan hal yang lain," jawab Simma. Ia menggenggam tangan Audrey. Matanya nampak berkaca-kaca. Tapi, sebisa mungkin ia menahan tangisnya agat tidak pecah.
"Simma, kau tau, kan. Aku menyayangi dirimu lebih dari aku menyayangi diriku sendiri. Kau tau juga, kau sangat berarti bagiku. Jika keinginanmu bisa membuatmu bahagia. Maka, aku akan mengijinkannya," jawab Audrey, membuat tangis Simma pecah seketika. Ia pun kembali memeluk Audrey dan menangis di pelukan Audrey.
"Berjanjilah untuk baik-baik saja, hmm," kata Audrey saat melepaskan pelukannya. Ia mengusap air mata Simma dengan ibu jarinya. Simma pun mengangguk sambil berusaha tersenyum.
Seketika suasana ruang tamu menjadi haru. Zidan yang melihat interaksi Simma dan Audrey pun tampak berkaca-kaca. Ia melapalkan berjuta-juta terimakasih pada Simma. Karena berkat Simma, Kelly terawat dengan baik dan aman selama Audrey bekerja.
•••
"Apa anda yakin, Tuan?" tanya Rain sekretaris dari Stuard.
Stuard yang sedang duduk dimejanya, melirik pada sekretarisnya. Kemudian ia tersenyum misterius. "Kau tau bukan aku tak pernah main-main dengan perintahku," Jawab Stuard. Ia menyenderkan tubuhnya kebelakang. Jarinya mengetuk-ngetuk meja, seolah dia sedang memertimbangkan sesuatu.
"Baik, ... kalau begitu saya akan menyiapkan kontrak kerja sama dengan Rush company," ucap Rain. Setelah itu, ia berbalik dan meninggalkan ruangan Stuard.
Stuard kembali menegakan tubuhnya . Ia memain-mainkan pulpen di tangannya lalu kembali tersenyum. "Kau sudah menyianyiakan wanita seistimewa Simma. Maka, akan ku tunjukan bagaimana Simma bahagia bersamaku!" lirih Stuard.
Entahlah, di dunianya hanya berputar tentang nama Simma, Simma dan Simma. Ia tak tau ini cinta atau obsesi. Yang jelas, ia ingin memiliki Simma, membuat Simma tersenyum dan yang pasti membuat Simma menjadi miliknya. Ia akan membuat Josh menerima ganjaran karena menyakiti wanitanya.
"Kau tak perlu mengantarku. Aku akan menyetir sendiri," ucap Stuard setelah keluar dari ruangannya. Rain mengangguk. Ia memberikan kunci mobilnya pada Stuard.
"Berikan kunci Bugatty mililku," ucap Stuard yang meminta kunci mobil mewahnya. Rain pun menarik kunci yang tadi di sodorkan pada Stuard dan mengambil kunci mobil Stuar yang lain
Stuard pun kembali melangkahkan kakinya, seperti biasa. Saat ia keluar dari lift, semua karyawannya menunduk hormat Stuard dan seperti biasa pula, wajah Stuard selalu datar. Dalam hidupnya, Stuard tak pernah tersenyum dan tak pernah menyapa pada sembarang orang. Dan wajah Simma yang lugu serta senyum Simma yang manis, mampu membuat seorang Stuard terpesona.
Ia masuk kedalam mobil mewahnya dan mulai menjalankannya, membelah ibu kota Rusia. Sebelum ia pulang, ia ingin mengunjungi rumah seorang pelukis yang ia perintahkan untuk melukis seseorang.
30 menit kemudian, Stuard pun sampai di rumah Lorry, lelaki paru baya yang sudah menjadi pelukis selama puluhan tahun.
"Selamat datang, Tuan Stuard," sapa Lorry yang menyambut Stuard di pintu. Stuard pun mengangguk. Lalu berjalan masuk melewati tubuh Lorry dan berjalan menuju sebuah canvas yang terlihat masih basah oleh cat dan terlihat lukisan yang di lukis Lorry masih belum selesai.
Scrool lagi iesss.
Waktu Simma meluk Audrey nyesek bet dah😭