Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
310


Kareen membuka matanya. Ia mengerjapkan pandanganya. Tubuhnya terasa remuk, dan ia merasakan nyeri yang luar biasa.


Saat melihat ke atas, ia langsung menutup mata, ketika melihat cahaya yang sangat terang. Rupanya, Rain mengurung Karren di ruangan serba putih dengan lamput yang sangat terang.


Setelah kesadarannya mulai Stabil, tiba-tiba tubuhnya mengigil. Lantai menjadi sangat dingin. Dan ia juga baru sadar, bahwa ia tak memakai pakaian.


Semua kesakitan menghantam Kareen, tubuhnya yang remuk, kepalanya berdenyut nyeri. Ia kedinginan. Bahkan, matanya pun sangat perih karena seluruh ruangan itu di lengkapi lampu yang sangat-sangat terang


"To-tolong ...." Kareen hanya mampu berbicara terbata. Tenggorokannya begitu perih. Sungguh, saat ini. Kareen lebih menginginkan mati dari pada tersiksa seperti ini. Kini, Ia sungguh menyesal mengusik adiknya hingga Stuard murka.


•••


Setelah memberi perintah pada Rain Stuard, mematikan panggilannya. ia tersenyum devil membayangkan bagaimana Kareen tersiksa di sel khusus yang sudah ia ciptakan. Sel yang ia siapkan untuk orang-orang yang menghianati nya dan orang-orang yang mengusik keluarganya.


Ia menaruh ponselnya dan kembali menggambar design kastil untuk putrinya. Senyum tak henti-hentinya menghiasi wajah tampannya saat membayangkan bahagianya Gabby saat kastil itu telah jadi. Rain juga sudah mengurus untuk soal Christian Ronalda, pesepak bola idola putranya.


Kali ini, ia berusaha sekuat tenaga untuk mewujudkan keinginan kedua anak kembarnya. Ia sudah memberi luka teramat dalam pada Gabby dan Gabriel hingga ia ingin memberikan yang terbaik untuk kedua putra dan putrinya.


Satu bulan kemudian.


"Kau saja yang turun!" omel Gabriel.


Saat ini, mereka sedang berada di mobil, kedua anak itu duduk di pangkuan Stuard. Gabby duduk di paha kiri dan Gabriel duduk paha kanan.


Hari ini, hari pertama mereka kembali ke sekolah. Dan mereka mendapat kejutan dari Stuard. Saat jam istirahat, tiba-tiba Stuard datang ke sekolah dan ia berkata akan mengulang hari ayah yang sempat ia lewatkan.


Bukan hanya itu saja, Stuard berhasil mengumpulkan semua para ayah siswa di sekolah itu agar ikut berpatisipasi kembali. Tentu saja, Stuard sudah berkoordinasi dengan sekolah tersebut. Hingga hari ayah itu bisa kembali terulang.


Jangan di tanya lagi, bagaimana bahagianya Gabby dan Gabriel. Mereka amat bahagia. Sangat bahagia, mereka melakukan semuanya dengan semangat.


Dan saat ini, mereka tak mau jauh dari Stuard, bahkan saat di mobil pun, mereka malah duduk di pangkuan Stuard dan memeluk sang ayah. Bahkan, Gabriel yang biasanya acuh dan gengsian kali ini memperlihatkan rasa terimakasihnya dan rasa sayangnya pada Stuard, dengan terus memeluk sang ayah


Stuard tersenyum saat melihat tingkah kedua putra-putrinya. Walaupun berat dan cukup pegal. Tapi ia tetap membiarkan kedua anak kembarnya, duduk di pahanya dan memeluknya. Stuard bersyukur, ia mampu merangkul kembali keluarganya hingga ia bahagia sekarang.


Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya mereka pun sampai di Mansion. "Ayo turun!" ajak Stuard Gabby pada Gabriel. Mereka pun mengangguk, lalu turun dari pangkuan Stuard dan keluar dari mobil.


"Gabby, Gabriel! Ayo ikut Daddy!" kata Stuard saat mereka sudah masuk dan berniat pergi ke kamar mereka. Gabby dan Gabriel pun menurut, mereka mengikuti langkah Stuard.