Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
123


Melihat kakanya yang bingung, Zidan tersenyum. Ia kembali meneruskan pekerjaannya, sedangkan Zayn masih terdiam di sofa. Ia memikirkan apa yang diinginkan oleh adiknya.


"Aku sudah mengirimkan uang dengan jumblah yang banyak ke rekeningmu. Uang untuk mengganti miniatur milikmu yang sudah di rusak oleh Leo,"ucap Zayn, ia masih berusaha memancing Zidan.


"Itu bagus," jawab Zidan acuh, ia menjawab tanpa menoleh ke arah Zayn. Matanya masih fokus memeriksa dokumen di depannya.


"Siapa kolektor miniatur yang paling kau kagumi?"


"Fujitaka, dia kolektor terkenal dari jepang."


"Koleksi apa yang belum kau punya sampai sekarang?"


"Miniatur pesawat tempur," jawab Zidan tanpa sadar. Ia sudah lama memimpikan miniatur pesawat tempur. Namun, ia belum merenovasi ruangan koleksinya, jadi ia menunda untuk membelinya karena tak ada tempat yang untuk menaruhnya.


Zayn bersorak girang dalam hatinya, saat sang adik menjawabnya tanpa sadar. Ia pun memutuskan bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan Zidan sebelum adiknya menyadari bahwa ia telah keceplosan.


•••


"Bukan begitu, Dad!" seru Leo saat Zayn mencoba merakit mainan lego yang berbentuk robot.


"Ini sudah benar, Leo. Bagaimana mungkin Daddy salah," protes Zayn yang sedari tadi selalu di salahkan oleh putranya.


Leo menggeleng bak orang dewasa saat melihat sang ayah yang salah memasangkan lego miliknya. "Dad, ini kaki bukan ekor, " ujar Leo sambil membongkar kembali lego yang di pasangkan oleh sang Daddy.


"Sejak kapan ini berubah jadi kaki," ucap Zayn dengan heran membuat Leo menepuk kening karena ucapan sang ayah.


"Leo, minum susumu dulu, Sayang!" titah Gia yang menyusul masuk kedalam ruang bermain putranya.


Leo pun mengangguk, ia mengambil susu dari tangan Gia dan menenggaknya.


"Mommy bacakan aku dongeng," ucap Leo pada Gia.


"Biar Daddy yang akan membacakan dongeng untukmu."


"Dad, aku masih kecil. Aku ingin dongeng anak, bukan dongeng tentang perusahaanmu," gerutu anak kecil itu. Pasalnya, jika sang ayah yang menemani tidur sang ayah bukannya membacakannya dongeng, melainkan cerita tentang perusahaan dan memamerkan kesuksesannya menjadi Ceo selama 9 tahun berturut-turut.


Gia hanya menggeleng, melihat ucapan putranya. Untuk ukuran anak 4 tahun, Leo sudah mahir membaca situasi dan bisa di bilang otak Leo sangat jenius, tentu saja Leo menuruni sifat sang ayah.


•••


Bisa di bilang, Mariane dan Zidan sepakat untuk berkencan. Sebenarnya, Zidan tak punya perasaan apa-apa pada Mariane. Hanya saja, Mariane begitu pandia mengambil hati Sonya.


Sebenarnya Sonya tak memaksa Zidan untuk berpacaran dengan Mariane. Namun, Zidan berpikir apa salahnya mencoba membuka hati bagi Mariane.


Tapi, sudah dua bulan hubungan mereka, Zidan sama sekali belum bisa membuka hatinya untuk Mariane.


Mariane ada seorang model papan atas, ia bertemu dengan Zidan saat ia menjadi model di perusahaan Smith company. Dan dari situlah perasaan Mariane tumbuh untuk Zidan.


Nasib, baik berpihak padanya. Ternyata, setelah ditelusuri, ibunya mengenal dekat Sonya, hingga memudahkan Mariane untuk mendekati Zidan, tentu saja Mariane mengambil hati Sonya terlebih dahulu.


"Kau mau kemana?" tanya Sonya saat melihat Zidan turun.


"Aku ingin makan malam bersama Ane, Mom. Mana Arleta?" tanya Zidan yang tak melihat adiknya.


"Sepertinya dia sedang belajar."


"Kalau begitu aku pergi, Mom," ucap Zidan. Di tanggapi anggukan oleh Sonya.


••


"Huh!" Zidan menghela napas berat saat jalanan begitu macet. Ia pun memutuskam untuk memutar balik mobilnya dan menuju jalan pintas.


Saat ia melewati jalan yang sepi, ia melewati seorang wanita yang sedang berjalan terseok-seok.


Ia pun memutuskan menghentikan mobilnya dan keluar dari mobil dan menghampiri wanita itu.


"Anda tidak apa-apa, Nona?" tanya Zidan. Ia memindai tubuh wanita di depannya yang sedang menunduk. "Nona perut anda tertusuk!" pekik Zidan dengan kaget saat melihat wanita di depannya mengelurakan darah dari perut.


Wanita itu mengangkat kepalanya. Ia meringis memegang perutnya dengan kencang, agar darah tak terus mengalir keluar.


"Nona Audrey," ucap Zidan dengan sedikit brrteriak saat melihat ternyata wanita di depannya adalah Audrey.