
Flashback on
Saat sudah mengantar Zidan ke apartemen Audrey, Zayn kembali menjalankan mobilnya menuju rumah. Rasanya tubuhnya begitu letih seharian ini.
30 menit kemudian, ia sampai di rumah. Lalu, ia mematikan mesin mobil dan turun dari mobilnya, kemudian berjalan untuk masuk kedalam.
Saat ia masuk, Ia tersenyum, saat melihat Gia sedang tertidur di sofa, ia yakin, istrinya sedang menunggu dirinya. Dengan pelan, Zayn mendekat ke arah sofa, ia membuka jasnya dan membungkukan dirinya untuk menggendong Gia.
"Kau sudah pulang, Dad," lirih Gia saat merasa ada yang menyentuh kakinya, Zayn menghentikan gerakannya karena Gia terbangun. Ia mengulurkan tangannya, membantu istrinya untuk duduk.
"Bagaimana dengan Zidan?" tanya Gia setelah ia duduk dan Zayn duduk di sebelahnya.
"Dia sudah bebas," jawab Zayn, ia merebahkan dirinya, dan menjadikan paha istrinya sebagai bantal. Dan Gia langsung mengelus rambut suaminya dengan lembut.
"Syukurlah, jika Zidan sudah terbebas," jawab Gia. Ia tak ingin terus bertanya tentang Zidan, karena ia tau, suaminya begitu letih.
"Apa hari ini dia ingin sesuatu, hmm?" tanya Zayn. Ia merubah posisi wajahnya menghadap perut istrinya. Ya, saat ini Gia memang sedang mengandung anak keduanya. Satu minggu lalu, Gia di nyatakan hamil. Namun, mereka belum memberitau pada keluarga mereka, karena kemarin, Kelly masih terbaring di rumah sakit.
"Sayang!" panggil Zayn lagi, ia memanggil Gia karena Gia tak menjawab ucapannya.
"Apa dia mengiginkan sesuatu?" Zayn mengulang pertanyaannya lagi saat Gia tak kunjung menjawab.
Gia tampak berpikir, "Dad, bolehkah aku makan mie instan!" pinta Gia, membuat Zayn menggeleng tegas.
"Lambungmu akan perih jika kau memakan mih, Sayang," jawab Zayn, ia menegakan kepalanya untuk melihat istrinya. Zayn langsung bangkit dari bernaringnya saat melihat Gia cemberut.
"Bagaimana jika steak buatanku?" tawar Zayn, ia tau betul bahwa istrinya menyukai steak buatannya.
"Aku sama sekali tak lelah, Sayang. Kau mau melihatku membuat steak?" tanya Zayn, ia bangkit dari duduknya, ia mengulurkan tangannya pada Gia.
•••
"Telepon pengacaramu. Dan suruh dia membebaskan Zidan!" titah Audrey setelah Ane setuju untuk membebaskan Zidan. Audrey melempar ponsel Ane dan langsung di tangkap oleh Ane.
"Pistol ini akan membidik kepalamu jika kau berani bergerak!" ucap Audrey tiba-tiba, rupanya, ia bisa membaca gerakan Ane.
Ane menyentak napas kesal, sekuat apapun keinginannya untuk lari, itu takan pernah terwujud. Ia pun terpaksa menghubungi pengacaranya dan menitah pengacaranya untuk membebaskan Zidan.
"Bangun! Dan antarkan aku ke basment!" titah Audrey, saat Ane selesai menelpon pengacaranya.
Tanpa di perintah dua kali, Ane pun segera bangkit.
Audrey mendekat ke arah Ane, dia menodongkan pistol ke punggung Ane. "Berjalan di depanku. Jika kau berani berteriak, pistol ini akan menembak punggungmu!" ucap Audrey, Ane pun mengangguk pelan, dan mereka pun langsung berjalan keluar dengan Audrey yang berjalan di belakang tubuh Ane.
"Ingat ini! Aku sudah memindahkan semua videomu kedalam ponselku. Jadi, jika kau berani mengusik aku atau Zidan. Kau akan tau akibatnya!" ucap Audrey saat mereka sudah sampai di basement. "Sekarang, cepat pergi dari hadapanku, dan jangan menoleh lagi kebelakang!" titah Audrey sambil menghempaskan tubuh Ane kedepan.
Karena level ketakutan Ane pada Audrey sudah level akut, ia pun menurut. Ane langsung pergi dari hadapan Audrey dan tanpa menoleh lagi kebelakang.
Flashback off.
Scrol lagi iesss