Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
Meminta pindah


Waktu menunjukkan pukul 9 malam, Gabriel mondar-mandir di depan kamar Amelia. Sedari tadi, saat selesai Amelia melempar panah padanya, Amelia tidak keluar dari kamar dan sekarang, Gabriel ingin masuk tapi dia ragu dan ia juga takut.


“Amelia!” panggil Gabriel dengan suara pelan. Ia mengetuk pintu kamar Amelia. Namun, tidak ada sahutan dari dalam. Perlahan, Ia memutar knop pintu, lalu memejamkan matanya ketika pintu itu terkunci, Amelia menguncinya dari dalam.


Gabriel berjalan ke arah nakas, kemudian membuka laci lalu membawa kunci cadangan.


Perlahan, Gabriel menempelkan kunci itu, kemudian menghela nafas lega. Ternyata Amelia tidak menyimpan kunci di dalam, Hingga Gabriel bisa membukanya dari luar.


Setelah berhasil membuka pintu, Gabrie melongikan kepalanya, ternyata Amelia sedang tertidur. Dengan pelan, ia masuk kemudian berjalan ke arah ranjang. Setelah sampai di ranjang, ia menghembuskan napas lega ketika melihat Amelia sedang tertidur.


Gabriel naik ke ranjang, ia membaringkan diri di samping Amelia dengan posisi meringkuk, sama seperti Amelia dan kini, posisi mereka berhadap-hadapan.


“Kenapa dia menangis?” Gabriel bertanya-tanya ketika melihat mata Amelia yang sembab. Perlahan, ia mengangkat tangannya kemudian ia mengelus rambut Amelia, tepat saat itu, Amelia membuka matanya.


Jantung Gabriel berdegup dua kali lebih cepat, ketika Amelia membuka matanya. “Tidurlh lagi, hari masih malam,” ucap Gabriel. Tak lama, Gabriel terpaku, ketika Amelia melihatnya dengan tatapan lembut, berbeda seperti tadi. Seolah yang ada di depannya adalah Amelia yang lain.


Tanpa sadar, Amelia memajukan tubuhnya, lalu berhambur memeluk Gabriel. lagi-lagi, membuat tubuh Gabriel menegang, Tapi, Dengan senang hati ia membalas pelukan Amelia


•••


Gabriel meraba-raba sisinya, kemudian Ia membuka Matanya matanya membulat ketika Amelia tidak ada di sampingny. “Ishhhh, wanita itu!” gerutu Gabriel, ketika lagi-lagi Amelia sudah pergi dari sampingnya.


Dan sepi tak ada siapapun diluar. Pertanda Amelia sudah dari apartemen itu. “Issh, harusnya aku mengganti kode apartemen ini agar dia tak bisa keluar,” grutu Gabriel. Padahal, Ia sudah berencana untuk membuatkan sarapan untuk Amelia agar Amelia sedikit laluh. Jangankan membuat sarapan, Amelia saja sekarang sudah tidak ada di aparteme.


•••


“Bgaimana Capt, apakah kau memperbolehkan aku pindah ke divisi lain?” tanya Amelia pada Nick, membuatnya Nick tampak menghela nafas, kemudian menatap Amelia lekat-lekat.


“Sebenarnya, apa alasan kau ingin pindah ke divisi lain? padahal dulu kau mati-matian ingin masuk ke timku?” tanya Nick, matanya melihat Amelia dari atas sampai bawah, seperti ada yang lain dengan wanita di depannya ini.


Amelia tampak terdiam kemudian berusaha memutar otak. “Capt, jika kau mengijinkan aku pindah divisi lain. Aku berjanji aku akan memberikan nomor Gisel padamu.” Amelia membujuk Nick menggunakan nama, Gisel adik Gabriel yang tak sekarang adalah adik iparnya, karena ia tahu, Nick menyukai Gisel. Terlihat wajah Nick selalu berbinar saat Gisel datang ke kantor mengantarkan makanan untuk Amelia.


Nick, tampak berpikir. Ia menutup mulut menahan senyumnya saat Amelia mengatakan tentang Gisel. “Sekarang katakan dulu, alasan kenapa kau ingin pindah ke divisi lain?”


“Beberapa tahun ini, aku selalu melakukan pekerjaan yang sangat berat di tim, mengejar tersangka dan melakukan hal yang lain. Dan rasanya, aku ingin sedikit mengistirahat tubuhku dan pindah ke divisi lain,” jawab Amelia, membuat mata Nick membulat.


“Amelia, bagaimana mungkin, kau memberika alasan yang tak masuk akal," protes Nick.


Belum Amelia menjawab, terdengar seseorang berdehem, hingga Amelia Nick dan Amelia berbalik.


Scroll gengs