
"Zi-Zidan ... jika kau mau, kau bisa berbagi masalah mu denganku," ucap Gian Zidan masih terisak sambil memeluknya. Gia merasa beban Zidan sangat berat. Bahkan mungkin lebih berat dari pada masalahnya.
Zidan yang masih terisak tersadar setelah mendengar ucapan Gia, dia pun melepaskan pelukannya dan langsung menatap Gia.
"Bolehkah itu? bolehkah aku bercerita padamu?" tanya Zidan. Mungkin jika bercerita beban dan kesedihan yang dia tanggung akan sedikit berkurang.
Gia tersenyum dan mengangguk. Tanpa sadar, tangan Gia terangkat untuk kembali mengelap sisa air mata Zidan. Di mata Gia, saat ini, Zidan terlihat seperti seorang anak yang ingin mengadu pada ibunya.
"Bagaimana jika kita pergi ke taman. Kau bisa bercerita di sana," ucap Gia menawarkan.
"Aku setuju, ayo!" Entah sengaja Atau tidak Zidan mengulurkan tangan nya pada Gia.
Karena tak ingin membuat Zidan kembali bersedih, Gia pun memberanikan diri untuk menyambut uluran tangan Zidan.
Mereka pun keluar dari area pemakaman sambil bergandengan tangan.
Tanpa sadar, sejak mereka keluar dari kantor ada yang membuntuti mereka. Ya, orang itu adalah Josh. Setelah bertemu Alberth, Josh langsung pergi ke kantor Zayn. Dia ingin mengawasi Zidan dan Zayn.
Saat Zidan pergi, Josh dengan segera mengikuti Zidan. Walaupun sebenarnya dia ingin melihat Zayn. Namun, dia juga penasaran siapa wanita yang bersama Zidan. Josh berpikir, siapa tau wanita yang bersama Zidan bisa menjadi jembatan untuk melakukan rencananya.
Setelah Zidan dan Gia pergi meninggalkan area pemakaman, Josh pun turun dari mobilnya dan masuk ke area pemakaman. Tak lupa dia membawa buket bunga untuk dia simpan di pusara sang kaka.
"Maafkan aku, Kak. Maafkan aku yang tak berdaya saat kau butuh aku di sisimu. Maafkan aku yang membiarkanmu menanggung rasa sakit seorang diri. Tapi kaka tak usah khawatir. Aku sudah kuat untuk melawannya dan aku akan mengembalikan semuanya seperti semula. Semoga kau tenang disana," ucap Josh sambil berdiri. Dia menahan tangisnya agar tidak pecah.Teringat betapa menderita kakanya saat dulu. Saat itu, dia bahkan tak mampu untuk menolong kakanya yang hampir saja menjadi gila. "Aku pulang, Kak. Pegang janjiku. Akan ku kembalikan semuanya seperti semula," ucap Josh lagi sambil meletakan buket bunga yang dipegangnya.
•••
Setelah mereka menempuh perjalanan yang cukup jauh. Mereka pun tiba di sebuah taman. Gia mengajak Zidan untuk duduk di area yang lebih sepi agar bisa Lebih leluasa bercerita pada Gia.
Setelah duduk, Gia membuka tasnya lalu mengambil foto Zayn. "Zidan, aku menemukan foto ini di map yang kau berikan. Aku tak sadar jika aku menaruhnya di tasku," ucap Gia sambil menyodorkan foto yang dipegangnya kehadapan Zidan.
Zidan mengambil foto dari tangan Gia. Dia melihat foto Zayn dengan tatapan nanar. Dia menghela napas sejenak sebelum menceritakan kehidupannya pada Gia.
"Maaf jika aku lancang, apa dia kaka mu?" tanya Gia dengan ragu.
Mendengar pertanyaan Gia. Pandangan Zidan menerawang kedepan. Tanpa sadar, dia meremas foto Zayn yang sedang di pegangnya.
"Aku menganggap dia kakaku. Tapi, dia hanya menganggapku sebagai sampah."
Zidan memalingkan tatapannya ke arah Gia. Dia tersenyum saat melihat ekspresi Gia yang terlihat menyimpan seribu tanya.
"Apa setelah kau tau bahwa aku anak haram kau akan menjauhiku seperti yang lain, Gia?" tanya Zidan sambil tersenyum tipis. Tapi dibelik senyum itu tersimpan sejuta luka.
Zidan kembali menatap kedepan sebelum bercerita. "Ya, seperti yang kau pikirkan ... Aku memang adik dari Zayn. Tepatnya adik tirinya dan anak haram bagi kedua orang tuaku. Ibuku adalah selingkuhan daddyku. Dan saat usiaku 3 tahun, ibuku meninggal dan saat itulah aku tau bahwa aku hanyalah seorang anak haram. Setelah aku masuk kerumah daddyku, aku melihat Zayn. Aku pikir, aku akan bahagia karena mempunyai kaka seperti impianku selam ini. Aku pikir Zayn akan menerimaku sebagai adiknya. Namun aku salah, dia sama sekali tak menganggap kehadiranku bahkan dia selalu menyebutku anak haram. Bukan hanya Zayn yang dingin padaku. Daddyku pun sama dinginnya seperti Zayn. Selama ini aku selalu berusaha melakukan yang terbaik agar mereka senang dan menanggapku. Namun tetap saja aku masih tak dianggap."
Zidan menghela napas sejenak sebelum melanjutkan ucapannya.
"Tapi sekarang, aku sudah mulai lelah, Gia. Aku lelah memperjuangkan yang akan berkahir dengan sia-sia. Sekarang aku tak mau lagi berjuang untuk mereka aku hanya ingin mencari kebahagianku."
Karena merasa Gia tak merespon ucapannya. Zidan pun menengok kearah samping. Keningnya mengkerut bingung saat melihat mata Gia yang berkaca-kaca.
"Gia, kenapa kau menangis?" tanya Zidan. Dia tak sadar bahwa Gia pun bisa merasakan penderitaannya.
"Apa itu sangat menyakitkan?" Tanpa menjawab pertanyaan Zidan. Gia malah balik bertanya.
Zidan menggenggam tangan Gia dan menuntunya untuk memegang dadanya.
"Sangat menyakitkan," jawab Zidan.
Karena merasa tak nyaman saat Zidan memegang tangannya, Gia pun berusaha menarik tangannya. Tapi, dengan cepat Zidan mengencangkan genggamannya pada tangan Gia.
"Gia, sekarang aku hanya ingin bahagia. Dan aku rasa aku bisa bahagia jika bersamamu," ucap Zidan tanpa ragu.
"A-apa maksudmu, Zidan?" tanya Gia. pipinya bersemu merah saat mendengar ucapan Zidan.
"Maukah kau jadi kekasihku, Gia?"
Jantung Gia berdetak dengan cepat saat mendengar ucapan Zidan.
"Zidan, a-aku ...."
••••
"Bagaimana aku bisa mendapatkannya. Waktu yang diberikan mommy hanya tinggal 3 minggu!" gerutu Zayn yang sedang berada di apartemennya. Dia sedang memikirkan cara agar bisa menikahi Gia dan membuat Zidan hancur. Setelah sekian lama Zayn berkutat dengan pikirannya, terlintaslah satu ide dipikiran Zayn.