
Tubuh Amelia menegang, ketika Gabriel memeluknya dari belakang, ucapan Gabriel barusan mampu menghancurkan pertahanannya. Hingga kini, Amelia tertunduk dan terisak.
Amelia semakin merasakan mellow, ketika Gabriel mengelus perutnya. Sungguh, Amelia benci perasaan ini. Sama seperti awal kehamilannya. Calon anaknya seolah ingin dekat dengan Gabriel.
Namun, semenjak kejadian itu ia tak berani berharap lebih. Terkadang, ia ingin membalas apapun yang dilakukan Gabriel Tapi pada akhirnya, ia tersadar hingga ia selalu berusaha untuk menolaknya, meskipun itu membuatnya juga tersiksa.
Ia tak mengerti, kenapa calon anaknya begitu ingin dekat dengan ayahnya. Bahkan, ketika Gabriel memeluknya, ia ingin sekali membalas pelukan Gabriel. Tapi ia juga sadar, ia tidak boleh terlalu larut, agar tidak jatuh ke dalam rasa sakit yang semakin dalam.
Gabriel semakin mengeratkan pelukannya. Hingga isakan Amelia semakin kencang, Saat mendengar Amelia terisak, Gabriel pun juga terisak.
Kini, kedua sejoli itu saling menangis. Tanpa berbicara sepatah katapun. Gabriel melepaskan satu tangannya, kemudian menarik tangan Amelia lalu ia menyimpan tangan Amelia di perut, hingga kini Amelia ikut memegang perutnya sendiri, dengan tangannya yang digenggam oleh Gabriel.
Amelia menggigit bibirnya, ketika sekarang tangannya di genggam oleh Gabriel. Tangisnya benar-benar sudah ingin meledak. Ia benci dengan perasaan ini, perasaan ketika ia tak bisa mengontrol dirinya sendiri. Padahal, Ia sudah mati-matian bertekad untuk menahan semuanya.
“A-akuharus pergi,” ucap Amelia terbata-bata, ketika ia sudah merasa tangisnya sudah tidak bisa dibendung.
Gabril melepas pelukannya, kemudian ia membalikkan tubuh Amelia. Sekarang Gabriel menyadari sesuatu. Amelia tidak akan luluh dengan perjuangannya, karena Amelia pernah trauma dengannya.
Dulu, sebelum menikah, ia pernah mengejar Amelia mati-matian dan pada akhirnya, ia kembali mengecewakan istrinya. Dan sekarang, Gabriel yakin, Amelia takan percaya padanya jika ia berjuan seperti dulu. Gabriel harus melakukannya semuanya secara alami, membiarkan Amelia percaya terlebih dulu padanya tanpa membuatnya tertekan.
Setelah melepaskan pelukannya dari Amelia, Gabriel memutar tubuh Amelia. Kemudian, ia menghapus air mata istrinya. Lalu menekuk kakinya dan berjongkok. Hingga kini, wajahnya ada di depan perut istrinya.
“Amelia, bolehkah aku melihat perutmu?” tanya Gabriel. Amelia tak menjawab. Namun, Gabriel memberanikan diri untuk mengangkat pakaian Amelia. Lalu, ia mendekatkan wajahnya dan mencium perut istrinya.
“Jangan nakal di perut Mommy oke,” ucap Gabriel. Setelah itu, Gabriel bangkit dari duduknya. Kemudian menghapus air matanya lalu menatap Amelia.
“Ayo sarapan, kali ini biar aku yang mengantarkanmu.” Setelah mengatakan itu, Gabriel mendahului Amelia untuk keluar karena tak ingin mendengar penolakan dari istrinya.
Setelah Gabriel keluar, Amelia masih terdiam mematung. Ia memandang punggung Gabriel, lalu mengelus perutnya. Setelah itu, ia pun keluar dari kamar.
••••
“Entahlah, aku akan naik taksi nanti.” Setelah mengatakan itu, Amelia pun langsung keluar dari mobil Gabriel, kemudian Gabriel langsung kembali menjalankan mobilnya.
••••
Waktu menunjukan pukul, 7 malam. Pekerjaan Amelia akhirnya selesai. Ia pun bangkit dari duduknya, kemudian ia langsung pergi keluar dari ruangan.
Amelia menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Saat hujan masih belum mereda. Sedangkan ia tak membawa mobil, karena tadi pagi, ia di antarkan oleh Gabriel. Dan sekarang, ia terpaksa harus menunggu hujan reda untuk mencari taxi.
Saat ia akan berbalik, dan menunggu di dalam, langkahnya terhenti ketika sebuah mobil berhenti dan ia tau, itu adalah mobil milik suaminya.
Gabriel turun dari mobil dengan pakaian yang basah kuyup, karena tadi di tengah hujan yang lebat, Gabriel turun ke swalayan untuk membeli payung untuk menjemput Amelia.
“Maaf membuatmu menunggu lama,” ucap Gabriel saat menghampiri Amelia. Tubuhnya Gabriel mengigil pertanda Gabriel kedinginan.
Gabriel membuka payung, kemudian ia menarik tangan Amelia lalu memayungi istrinya dan berjalan ke arah mobil.
Hujan semakin deras, mobil Gabriel tidak bisa maju karena aliran air yang tinggi. Dan Gabriel pun menoleh ke arah Amelia.
“Amelia, bagaimana jika kita menginap di hotel?” tanya Gabriel, kebetulan di sebrang ada hotel.
Amelia melihat ke arah Gabriel, wajah Gabriel semakin pucat. Wajanya semakin sayu, bahkan mata Gabriel meredup.
Gengs baikannya bsok dengan cara yang tak terduga.Gas komen gengs,. Udah 3 bab lho ya. Ga komen besok up satu bab hahaha.
Sebenarnya sikap Amelia sama kaya cewe-cewe di dunia nyata. Kita udah bertekad..Tapi ada aja yang buat tekad goyang dan akhirnya kita melupakan takad hahaha