Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
168


Flashback.


Saat baru pulang dari rumah sakit, Kelly langsung beristirahat di kamarnya. Bocah kecil itu berusaha memejamkan matanya..Namun, ia tak bisa. Ia teringat Zidan, sang ayah.


Walau ia sudah membencinya, tapi rasa sayangnya masih lebih besar dari rasa bencinya. Bocah jenius itu sedikit menyesal telah menolak kehadiran Zidan saat ia masih di rumah sakit


Suara pintu terbuka menyadarkan Kelly dari lamunannya, Kelly pun menoleh ke arah pintu dan tersenyum saat melihat ternyata Audrey yang masuk.


"Kau sedang apa, hmm?" tanya Audrey. Ia mendudukan dirinya di samping Kelly.


"Aku ingin tidur. Tapi, mataku tak mau terpejam," lirih bocah kecil itu. Ia merebahkan kepalanya di paha Audrey, menjadikan paha Audrey sebagai bantal.


"Kelly, boleh mommy bertanya padamu?" tanya Audrey, ia membelai lembut rambut Kelly.


"Mommy, ingin bertanya apa?" tanya Kelly


"Kenapa kau membenci Uncle Zidan, hmm?" tanya Audrey yang heran akan sikap putrinya yang berubah pada Zidan.


"Karena dia melaporkan Mommy pada polisi," jawab bocah kecil itu, membuat Audrey mengerti.


"Kelly, uncle Zidan tak melaporkan mommy, Sayang. Bukan Uncle Zidan yang melaporkan Mommy," jawab Audrey membuat Kelly bangkit dari berbaringnya dan menatap Audrey lekat-lekat.


"Maksud Mommy?" tanya Kelly dengan wajah yang bingung.


Dan Audrey pun menceritakan semua pada Kelly, bahwa Kelly hanya salah paham, tapi Audrey tak berkata bahwa ia diculik oleh Adrian.


Flashback off.


Tubuh Zidan menegang saat Audrey memeluknya dan mengatakan bahwa Audrey memaafkannya. ia masih terdiam karena belum percaya bahwa ini nyata.


Perlahan, Zidan melepaskan tangan Audrey dari pinggagnya dan berbalik. Saat berbalik, matanya langsung bersibobrok dengan mata Audrey yang juga sedang melihatnya.


"A-apa aku tak salah mendengar?" tanya Zidan dengan terbata-bata. Ia masih belum percaya dengan apa yang di dengarnya. Karena Audrey menangis, Zidan menangkup kedua pipi Audrey dan menghapus air mata Audrey dengan kedua ibu jarinya.


Audrey menggeleng, meskipun air matanya sudah di hapus oleh Zidan, Namun Audrey kembali menangis. "A-aku memaafkanmu," ucapnya lirih. Seketika tangis Zidan pun kembali pecah. Ia langsung membawa Audrey kedalam pelukannya.


"Terimakasih, Sayang! terimakasih," ucap Zidan, ia memeluk Audrey begitu erat seolah Audrey akan lari dari pelukannya. Audrey pun sama, ia menangis di pelukan Zidan.


Zidan melepaskan pelukannya, ia menangkup kedua pipi Audrey, mengahapus air mata Audrey lalu perlahan, ia mendekat wajahnya pada wajah Audrey dan langsung mencium bibir Audrey sekilas.


"Aku berjanji, takan lagi mengecewakanmu," ucap Zidan. Ia menempelkan keningnya pada kening Audrey.


"Daddy!" suara anak kecil dari belakang, membuat Audrey dan Zidan menolah, suara siapa lagi kalau bukan suara Kelly.


Hati Zidan berdesir kala Kelly memanggilnya Daddy, dunia Zidan seperti berhenti kala sang putri tersenyum padanya. Rupanya tadi, Kelly mencari Audrey, dan saat pintu apartemen terbuka, Kelly pun keluar dan ternyata dari kejauhan, ia melihat ayah dan ibunya sedang berpelukan, hingga bocah jenius itu langsung menghampiri kedua orang tuanya.


Sejenak, Zidan melihat ke arah Audrey untuk meminta persetujuan, bolehkah ia memeluk Kelly, Audrey yang mengerti tatapan Zidan langsung mengangguk.


Perlahan, Zidan maju ke arah Kelly, ia menekuk kakinya dan mensejajarkan diri dengan putrinya. sepasang mata ayah dan putri itu saling menatap. Tak lama, Kelly mendekatkan wajanya lalu mencium pipi Zidan, hingga air mata Zidan kembali turun.


"Love you, Dad!" ucap Kelly lirih, membuat Zidan tersadar, Zidan tak menyia-nyiakan waktu, ia langsung membawa Kelly kedalam pelukannya.


Tangis Zidan tak bisa di bendung saat memeluk Kelly, ini yang Zidan tunggu-tunggu. Memeluk putrinya, melihat putrinya tersenyum padanya dan mendengar putrinya memanggilnya Daddy.


Seandainya ia membawa ponsel, mungkin ia akan merekam ucapan Kelly yang memanggilnya Daddy, dan akan terus memutarnya.


"Jangan menangis lagi, Dad. Atau aku akan membencimu," ucap Kelly, membuat Zidan mengembangkan senyumnya.


Zidan pun mengangguk, tapi ia masih belum bisa menghentikan tangsinya. Ia menggendong Kelly dan berjalan ke arah Audrey, lalu kembali membawa Audrey kedalam dekapannya. Hingga kini, Zidan memeluk Audrey dan putrinya secara bersamaan.


"Zidan, apa kau sudah sarapan?" tanya Audrey saat melepaskan pelukannya.


Zidan menggeleng, "Saat tau akan ada polisi menangkapku. Aku langsung terburu-buru kemari," jawab Zidan.


"Daddy, ayo sarapan bersamaku!" ajak Kelly dengan semangat. Membuat Zidan tersenyum, Rasa haru masih menyeruak dalam dada, lagi-lagi air mata Zidan menetes, dan ia langsung menghapusnya karena takut ucapan putrinya, yang akan menjadi benci ketika melihat dia menangis.


••••


Hati Audrey menghangat ketika melihat pemandangan di depannya, Zidan dengan telaten menyuapi Kelly, bahkan Zidan belum sama sekali memakan makanannya. Mata Audrey mulai berkaca-kaca, ia bersyukur, ia bisa mengalahkan egonya, hingga semua berjalan dengan sangat baik.


"Daddy, aku kenyang. Daddy juga harus makan," ucap bocah kecil itu. Membuat Zidan mengangguk.


Zidan menarik piring di depannya lalu menyuapkan makanan ke mulutnya sambil menunduk , ia mengangkat kepalanya saat Audrey menggenggam tangannya. Rupanya, Audrey tau bahwa Zidan akan menangis.


•••


"Sayang, bolehkah aku meminta tolong?"tanya Zidan ragu-ragu. Audrey pun tersenyum dan mengangguk.


"Bisakah kalian mengantarku ke kantor polisi?" tanya Zidan.


"Tentu, kami akan mengantarmu!" ucap Audrey.


Setelah selesai dengan sarapan, mereka pun pergi meninggalkan apartemen, dan kini mereka sedang berada di dalam mobil.


Audrey sengaja menggantikan Zidan untuk menyetir, karena ia tau, Zidan masih ingin menghabiskan waktu bersama Kelly. Audrey tersenyum saat melihat ke samping. Selama berada di mobil, Kelly dududk di pangkuan Zidan, sepasang anak dan ayah itu saling memeluk, Zidan tak henti-hentinya mencium pucuk kepala putrinya.


25 menit kemudian, mereka pun sampai di kantor polisi, dari kejauhan mereka bisa melihat para wartawan sedang menunggu di luar, dan itu membuat Zidan menghela napas kasar.


"Kau baik-baik saja?" tanya Audrey, membuat Zidan menoleh lalu mengangguk.


"Berbelanjalah dengan Kelly dan juga Simma. Maka aku akan baik-baik saja di dalam sel tahanan," ucap Zidan dengan terkekeh. Ia tersenyum menutupi kegugupannya.


Audrey melepaskan sabuk pengamannya. Lalu ia memeluk Zidan dari samping. "Akan kupastikan kau akan bebas besok!" ucap Audrey membuat Zidan reflek menjauhkan dirinya.


"Apa kau akan melakukan hal gila lagi?" tanya Zidan dengan terkejut. Ia tau bahwa ibu dari putrinta adalah wanita yang nekad.


"Aku hanya akan berdoa pada Tuhan," jawab Audrey,membuat Zidan menggeleng, ia tau benar ... Audrey akan melakukan hal yang tak masuk akal.


•••|..


Saat masuk kedalam apartemennya, Mariane terkejut bukan main saat melihat ada tulisan di dinding.


"Kau selesai, Mariane!" Tulisan itu di tulis dengan besar menggunakan cat merah, terkesan di tulis dengan darah! Lalu tak lama, terdegar suara bising dari kamarnya.


Ini dua bab di jadiin satu, males ngedit mak


Hate komen ... blok 😎