
Zayn tersenyum setelah mendengar panggilan dari Gia. Ia berhasil, setidaknya Gia mau bergantung padanya.
Tak lama, ia pun menelpon Sonya, ia lupa belum memberitahu pada Sonya tentang pernikahannya.
"Hallo, Mom. Kau sibuk?" tanya Zayn saat Sonya mengangkat teleponnya.
"Tidak, Mommy sedang diam di mansion. Kau masih ingat pada Mommy Zayn," balas Sonya. Ia menyindir sang putra karena sudah lama Zayn tak pulang ke Mansion
"Mommy, datanglah ke apartemenku. Ada kejutan disana untuk Mommy. Jangan lupa bawa susu hamil untuk menantu mommy."
"Apa maksudmu, Zayn!" Suara Sonya terdengar sangat terkejut. Belum, Sonya meneruskan ucapannya. Zayn malah menutup telponnya.
Sementara Sonya.
Saat Zayn menutup telponnya, Sonya yang masih bingung dengan ucapan sang putra pun langsung menelpon Mark. Matanya membulat sempurna saat mendengar penuturan dari Mark.
Ia bahagia karena impiannya terkabul, tapi ia pun merasa bersalah pada Zidan. Sonya pun bangkit dari duduknya, dia langsung pergi ke kamar untuk mengganti pakaian. Setelah itu, ia pun meminta supirnya untuk mengantarkannya ke super market.
Sonya begitu antusias. Ia membeli susu bermacem-macem merk untuk menantunya. Setelah selesai ia pun langsung pergi ka apartemen Zayn.
°°°
Tubuh Gia menegang kala melihat Sonya. Ia takut Sonya menganggapnya menggoda Zayn.
Saat Sonya maju, Gia memejakan matanya. Ia takut jika Sonya menamparnya. Namun, bukan tamparan yang dia rasakan melainkan pelukan hangat, Sonya memeluknya dan mengelus punggunganya.
"Nyo-Nyonya," lirih Gia terbata-bata. Tiba-tiba rasa haru menderanya. Sudah lama ia tak merasakan hangatnya pelukan seorang ibu, setetes air mata jatuh di pelupuk matanya saat Sonya memeluknya.
Sonya pun melepaskan pelukannya, ia menatap Gia lekat-lekat, wanita malang yang harus hancur karena adik tirinya dan kedua putranya.
"Nyo-Nyonya ak ..." Gia tak mampu lagi meneruskan ucapannya. Ia masih bingung dengan apa yang terjadi, ia pikir Sonya akan memakinya atau menamparnya. Tapi yang terjadi ....
"Ayo kita duduk!" ajak Sonya pada Gia. Gia pun menurut.
Sekarang mereka pun sudah duduk di sofa dengan posisi bersebelahan, Gia hanya bisa tertunduk saat duduk bersebelahan dengan Sonya.
"Bagaimana kabar cucu Mommy?" tanya Sonya setelah lama saling diam.
Mendengar pertanyaan Sonya, Gia mengangkat kepalanya, "Nyo-Nyinya sudah tau?" tanya Gia dengan nada terkejut.
"Jangan memanggilku Nyonya, kau menantukku sekarang, kau bisa memanggilku Mommy," ucap Sonya.
Mendengar ucapan Sonya, tiba-tiba Gia tertunduku kembali. Ia berusaha menyembunyikan wajahnya karena matanya sudah berkaca-kaca.
Setelah ibunya meninggal, Gia hidup dalam kesendirian dan kesepian dan sekarang datanglah Sonya yang memerlakukannya dengah baik. Ditengah lukanya karena perbuatan Zayn, pantaskan Gia bahagia karena kehadiran Sonya yang sangat baik padanya.
Sonya pun kembali memeluk Gia. Ia mengerti akan apa yang di rasakan Gia, kehilangan seorang ibu memanglah amat menyakitkan, "Menangislah, Mommy akan ada untukmu," ucap Sonya. Benar saja, Gia langsung terisak.
Setelah Gia selesai menangis, Gia pun melepaskan pelukannya pada Sonya. "te-terimakasih, Ny maksudku Mo-mommy," lirih Gia.
"Tunggu sebentar, Mommy akan membuatkanmu susu agar kau bertenaga," ucap Sonya. Ia pun bangkit dari duduknya. Tapi kemudian ia kembali berbalik melihat Gia. "Apa kau sudah makan siang?" tanya Sonya
Gia pun menggeleng, sedari tadi tubuhnya sangat lemas, ia tak sanggup untuk memasak.
"Astaga Zayn." Geram Sonya pada putranya karena telah membiarkan Gia kelaparan.
Scroll lagi ya