
Suasana cafe begitu hening dan tidak begitu ramai, dua insan sedang duduk dengan posisi saling menunduk. Mereka sudah lama duduk dan diam di kafe, tapi mereka tetap diam dan tak memulai pembicaraan.
Gabriel mengangkat kepalanya kemudian menatap Amelia yang sedang menunduk, ia menghela nafas, kemudian menghembuskannya berusaha menegarkan dirinya untuk berbicara pada Amelia.
Ya, saat ini mereka sedang berada di sebuah kafe yang tak jauh dari pemahaman. Saat bertemu di gerbang pemakaman, Gabriel memberanikan diri untuk mengajak Amelia berbicara.
Gabriel pikir, Amelia akan menolak permintaannya. Tapi ternyata salah, Amelia menyetujui untuk berbicara dan setelah sekian lama terdiam, Akhirnya sekarang Gabriel memberanikan diri mengangkat kepalanya dan memberikan diri memulai pembicaraan.
“Amelia!” panggil Gabriel terbata-bata, kemudian Amelia mengangkat kepalanya, lalu tersenyum lembut kearah Gabriel membuat Gabriel terpaku, seolah ada desiran aneh yang menerpa Gabriel ketika melihat senyuman Amelia.
Harusnya Amelia tidak tersenyum kepadanya, harusnya Amelia mengutuknya atau yang paling parah harus harusnya Amelia membunuhnya.Tapi lihatlah, wanita di depannya yang telah Ia lukai malah tersenyum hangat padanya, setelah apa yang ia lakukan.
Amelia menghirup oksigen sebanyak-banyanya. Tak di pungkiri rasa sesak itu masih ada, rasa sakit itu masih ada, luka itu masih terlihat jelas ketika ia menatap Gabriel.
“Gabriel tidak perlu meminta maaf lagi, aku sudah memaafkanmu dan berusaha melupakan semuanya,” ucap Amelia. ia menatap Gabriel lekat-lekat, kemudian tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
Saat tadi Grisya dijemput oleh Gabby untuk bermain ke mansion Stuard, Amelia sempat melarang Gabby untuk membawa Grisya karena ia tahu di sana ada Gabriel. Namun sang Ibu menasehati Amelia, saat sang Ibu menasehatinya, Amelia sadar sesuatu.
Memang tak mudah melupakan apa yang di lakukan oleh Gabriel. Tapi benar kata ibunya, ia tidak akan bahagia ketika ia masih terperangkap luka. Apalagi umur Geisya semakin membesar. cepat atau lambat Grisya akan tahu yang sebenarnya. Bahwa Gabriel adalah ayahnya.
ia tidak mau, Grisya tau apa yang dilakukan Gabriel padanya. Ia tidak ingin putrinya tumbuh dengan kebencian. Ia juga tak ingin menutup-nutupi pada Grisya bahwa Gabriel adalah ayahnya.
Ia pernah merasakan pedihnya saat menjadi anak tiri, ia selalu di siksa oleh Ayah tirinya, jika tidak membawa uang, sabuk dan tendangan akan mendarat di tubuhnya. Dan sampai sekarang, ia masih membenci keadaannya dulu, keadaan dimana ia tak bisa melawan. Ia begitu benci ayah tirinya dan setelah Gabriel menyekapnya, ia sudah tak percaya lagi terhadap lelaki.
Sekarang, ia ingin menekan egonya, ia menahan amarahnya dan ia ingin berusaha berdamai dengan keadaan, memaafkan Gabriel dan menjalani hidupnya seperti biasa. Ia juga tidak akan melarang Gabriel untuk bertemu grisya karena Gabriel adalah ayahnya.
Percaya atau tidak, Amelia yakin, Gabriel mempunyai sisi seorang ayah. Ia tau, Gabriel menyayangi Grisya. Setidaknya, putrinya bisa merasakan kasih sayang seorang ayah, yang tak pernah ia dapatkan di masa lalu.
“A-amelia ....” Gabriel tak mampu lagi meneruskan ucapannya. Ia hanya mampu menatap wajah Amelia lekat-lekat, ia tak percaya, kata-kata itu keluar dari wanita yang telah Ia lukai.
Scroll gengs aku update 3 bab