
"Dad!" panggil Gia. Saat ini, mereka sedang berada di dalam mobil menuju pulang setelah makan malam bersama.
Zayn yang sedang menyetir menoleh, "Hmm," tanya Zayn.
"Aku ingin ke pantai," ucap Gia, tiba-tiba, ia ingin menghirup angin pantai dan mendengar deburan ombak.
"Sekarang?" tanya Zayn dengan membulatkan mata.
Gia mengangguk. "Aku ingin menghirup angin malam di pantai." Gia berucap dengan menampilkan mimik muka memelas. Jika sudah begini, tak ada pilihan lain, selain mengabulkan permintaan istrinya.
"Tapi ini sudah malam. Angin malam tak baik untukmu," tawar Zayn. Mendengar ucapan Zayn, Gia memalingkan tatapannya ke arah lain. Ia tak menjawab lagi ucapan suaminya.
Jika sudah begini, ia tak mempunyai pilihan, ia menggenggam tangan istrinya, "Baiklah, kita ke pantai sekarang," balas Zayn.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh. Akhirnya, mereka pun sampai di pantai.
"Ayo!" ajak Zayn. Namun, Gia bergeming. Ia bahkan tak menolah ke arah suaminya.
"Ayo!" ajak Zayn lagi.
Zayn menggeleng, ia melepaskan sabuk pengamannya dan memiringkan tubuhnya, ia melepaskan sabuk pengaman milik istrinya Lalu merangkul pundak Gia dan membawa Gia kedalam dekapannya. Cara paling ampuh untuk melulukan istrinya adalah memeluk Gia dan membuat Gia nyaman di dalam dekapannya.
"A-apa aku membuatmu repot, Dad?" tanya Gia. Hormon kehamilannya benar-benar membuatnya amat-amat sensitif.
Zayn tersenyum. Ia melepaskan pelukannya,
dan menangkup kedua pipi Gia.
"Kau mengandung putraku. Mana mungkin aku merasa repot," jawab Zayn. Gia tersenyum, ia kembali mendekap suaminya.
Suara ombak, terang bulan, angin laut, menemani langkah mereka. Zayn dan Gia berjalan menelusuri bibir pantai sambil bergandengan tangan. Saat melihat ombak, Gia tersenyum. Ia teringat saat ia hampir bunuh diri dan Zayn menyelamatkannya.
"Kau kenapa, hmm?" tanya Zayn yang melihat Gia tersenyum.
Seketika Gia menghentikan langkahnya. "Aku lelah, ayo duduk," ajak Gia. Zayn menurut. Saat ini, mereka pun duduk di atas pasir dengan menghadap ke laut.
Gia menautkan tangannya pada tangan suaminya. Ia menyenderkan kepalanya pada bahu Zayn, dan Zayn menyenderkan kepalanya pada kepala Gia.
"Aku tak menyangka, kita akan sampai di tahap ini," ucap Gia tiba-tiba. "Seandainya kau tak menyelamatkanku, mungkin aku takan merasakan kebahagiaan ini sekarang."
Mendengar ucapan Gia, Zayn terkekeh. "Kau bahagia bersamaku sekarang?" tanya Zayn.
"Dulu, aku terluka karena ulahmu, dan kini dengan mu aku sangat bahagia."
Zayn menegakan kepalanya. Ia melihat kesana kemari, memastikan tak ada orang. Setelah di rasa aman tak ada orang, Zayn mengarahkan wajah Gia agar menoleh ke arahnya setelah itu, ia langsung menyambar bibir istrinya. ********** dengan pelan, tak ada nafsu dalam ciuman Zayn, Zayn benar-benar mencium istrinya penuh dengan rasa cinta.
••
Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa detik-detik menegangkan bagi Gia akhirnya, tiba.
Saat ini, Gia sedang menahan rasa sakit yang amat hebat, ia sedang berjuang mengeluarkan darah dagingnya. Ia terus berteriak, tangannya tak henti-hentinya menjambak rambut Zayn, hingga kepala Zayn kesana kemari.
Tak lama, Gia berteriak hebat saat merasakan sakitnya semakin menjadi.
"A-a," teriak Zayn saat Gia semakin keras menjambak rambutnya.
Bentar lagi ketemu Zidan Audrey ya