
Gabriel membuka matanya, kepalanya terasa memberat. Matanya juga berkunang-kunang. Sejenak, ia terdiam mencoba mencerna apa yang terjadi. Ia melihat ke sekelilingnya, ternyata ia berada di rumah sakit.
Gabriel terdiam , ia berusaha mengingat-ingat apa yang terjadi. “Shittt!” umpat Gabriel ketika mengingat semuanya. Ia ada di rumah sakit karena mengantar Amelia yang sedang mengandung darah dagingnya.
Gabriel turun dari berangkar,.kemudian berlari ke arah pintu. Lalu keluar, ia langsung berlari kearah ruangan Amelia yang hanya berbeda beberapa ruangan dari yang ruangan ia tempati barusan.
Nafas Gabriel, memburu setiap langkahnya diiringi oleh ketakutan yang luar biasa. Ia telah melakukan kesalahan yang teramat fatal dan ia sudah melukai istrinya untuk yang kesekian kali.
“Bisakah berhenti menjadikan aku badutmu!
“Bisakah kau tidak terlalu bergantung padaku! Aku tidak bisa terus meladeni permintaan anehmu!” Seketika ucapannya pada Amelia saat kemarin terlintas di otak Gabriel, membuat wajah Gabriel semakin pucat.
Kala ia menyadari bahwa ia sudah sangat menyakiti istrinya. Padahal, istrinya sedang mengandung anaknya .
Saat ia akan masuk ke ruangan Amelia, langkahnya terhenti. Ia berusaha menetralkan nafasnya. Ia takut Amelia sudah sadarkan diri dan Amelia akan emosi melihatnya.
Setelah menetralkan nafasnya, dan berusaha menguasai diri. Ia pun memegang knop pintu da berencana untuk masuk. Namun, saat akan masuk, pintu terbuka dari dalam, ternyata dokter baru saja selesai memeriksa Amelia.
“Tuan, Gabriel apa Anda baik-baik saja?” tanya Dokter. Gabriel Memangguk, walaupun ia tidak mengenal Gabriel, tapi ia tau Gabriel adalah putra dari Stuard, pemilik rumah sakit ini.
“Apakah anda suami Nona Amelia?” Tanya Dokter, Gabriel pun mengangguk. “Mari berbicara di ruangan saya," ajak dokter membuat wajah Gabriel semakin pucat pasi.
Ia takut, ada yang terjadi dengan Amelia
“Bagaimana Tuan?” tanya dokter saat Gabriel tak menjawab ucapannya.
“Tapi istriku ....”
“Sudah ada menunggunya di dalam,” jawab dokter lagi. Gabriel melihat ke arah dalam, lewat jendela. Tenyata, ibu Amelia sudah datang. Entah kenapa ibu Amelia bisa di sana. Padahal Gabriel belum memberitahu siapa pun.
Gabriel mengangguk, kemudian ia berjalan mengikuti langkah dokter untuk pergi ke ruangan dokter.
“Bagaimana keadaan istri saya, Dok?” Tanya Gabriel.
“Istri anda pernah keguguran selama 2 kali berturut-turut, dalam rentang waktu yang dekat. Belum lagi ada insiden saat istri anda melahirkan 11 tahun silam ....”
“Bagaimana anda bisa tahu?” tanya Gabriel pada dokter yang menangani Amelia.
”Karena saya orang yang membantu nona Amelia saat melahirkan kedua anak kembarnya,” jawab dokter tersebut. Saat itu, dokter yang ada di depan Gabriel adalah dokter menangani Amelia saat Amelia melahirkan Grisya dan Selome, dan setelah Stuard membangun rumah sakit, dokter itu di tarik oleh Stuard untuk bekerja di rumah sakitnya. Itu sebabnya, dia bisa tau tentang Amelia.
“La-Lalu sekarang, ba-bagaimana keadaan istri saya?" tanya Gabriel dengan terbata-bata, bibirnya bergetar, wajahnya memutih, seoalah darah berhenti mengaliri tubuhnya.
“Kondisi istri anda sangat lemah, begitupun kandungannya. Jika dilihat dari riwayat yang di alami istri anda, istri Anda beruntung bisa kembali mengandung setelah apa yang terjadi beberapa tahun silam. Bahkan saat itu, Nona Amelia melahirkan dalam kondisi mental yang terganggu,” jawab dokter.
Dunia Gabriel berhenti berputar, jantungnya seperti berhenti berdetak, ketika mendengar apa yang diucapkan dokter.
“Apa istri dan anak saya akan baik-baik saja?” tanya Gabriel, dokter tampak terdiam.
“Kita serahkan semuanya pada Tuhan, istri Anda harus beristirahat secara total anda juga harus menjaga emosinya, agar pasien tidak mengalami stres dan akan berdampak pada kandungannya,” jawab dokter.
Setelah berkonsultasi dengan dokter, Gabriel keluar dari ruangan dokter, kemudian ia mendudukan diri di kursi tunggu, karena rasanya kakinya begitu lemas. Lelaki tampan itu,menunduk lalu menangis tergugu.
Ia melihat kedua telapak tangannya. Dulu tangan itu, yang menyiksa Amelia. Sekarang, setelah semuanya membaik. Ia kembali mengulangi kesalahan yang sama.
Pletakkk
Tiba-tiba, Gabby memukul kepala Gabriel dari belakang. “Idiotttttt!” teriak Gabby dengan gemas.
..Gengs satu part dulu ya, dua bab lagi menyusul.
Gas komen gengs, ga komen ga flend