
Stuard ambruk ke lantai. Ia menagis tergugu seraya menggengam cincin yang di tinggalkan Simma. Jiwanya melayang, dunianya berhenti berputar. Kelurga yang selama ini membuatnya bahagia telah pergi karena kesalahannya sendiri.
"Kenapa kau bodoh sekali, Stuard!" rutuknya pada diri sendiri. Ia menjambak rambutnya kebelakang karena menyesali tingkahnya.
"Gabby ... Gabriel," lirihnya saat wajah Gabby dan Gabriel melintas di otaknya. Ia langsung berlari ke kamar Gabby dan Gabriel untuk memastikan semuanya. Ia masih belum percaya, bahwa Simma dan kedua anaknya sudah meninggalkannya.
Kosong
Kamar Gabby dan Gabriel kosong, membuat dada Stuard kembali berdenyut nyeri. Ia berlari ke arah lemari, dan membukanya.
Lengkap
Semua pakaian Gabby dan Gabriel masih lengkap. Tak ada yang berkurang sedikitpun. Kini, Stuard sadar, Simma dan Gabriel pergi tanpa membawa apapun.
Tidak! Stuard tak ingin kembali kehilangan kalurganya. Ia tak akan rela jika sampai Gabby dan Gabriel tau bahwa ia bukan ayah kandung mereka dan ia takan rela, jika sampai Gabby dan Gabriel tau, Josh lah ayah kandung mereka.
Secepat, kilat. Stuard berlari ke arah luar. Ia akan mencari Simma kemanapun. Ia akan berlutut dan bersimpuh di hadapan istri dan kedua anaknya. Meminta mereka kembali.
"Tuan, ada polisi mencari anda?" ucap kepala pelayan saat Stuard turun dari lift. Jantung Stuard, berdebar tak karuan saat mendengar ada polisi datang. Ia mengangguk, kemudian langsung menemui polisi yang telah menunggunya.
"Tuan Stuard!" ucap salah satu polisi yang menunggunya. Stuard mengangguk lalu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, ia berusaha menguasai diri. Padahal, hatinya ketar-ketir.
"Kami hanya ingin mengembalikan mobil ini pada anda. Dua hari yang lalu, Nona Simma meminta pihak kepolisian untuk mengantarkan mobil ke alamat ini. Saya tak menyangka, bahwa akan bertemu anda " ucap Polisi tersebut, membuat Stuard tertegun.
."Ke-kenapa mobil ini ada di pihak kepolisian?" Tanya Stuard dengan bibir bergetar.
"Istri anda mengalami kecelakaan seminggu yang lalu," jawab polisi.
Sekali lagi. Stuard bagai di hantam godam, saat mendengar ucapan polisi di depannya.
"Ke-kecelakaan?" ulang Stu dengan nada tak percaya. Tubuh Stu limbung, keringat dingin langsung membasahi seluruh tubuhnya.
Tubuh Stuard langsung melemah seketika, saat mobil bagian depannya hancur. Ia tak perduli dengan kondisi mobilnya. Yang ia perdulikan, adalah kondisi istrinya.
Tak ingin menunda waktu lagi, Stuard langsung berlari ke arah mobilnya, ia berencana untuk ke sekolah Gabby dan Gabriel. Ia tau, ini masih jam sekolah kedua anaknya, berharap ia bisa bertemu dengan Gabby dan Gabriel.
Kepanikan melanda Stuard, untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Ia merasakan rasa panik yang membuatnya terasa tercekik, hingga rasanya ia kesulitan untuk bernapas.
Stuard mengendarai mobil dengan kecepatan penuh, Keringat dingin terus mengucuri tubuhnya, ia menyetir dengan tangan gemetar. Sungguh, ia ingin sekali segera sampai di sekolah anak-anaknya.
Stuard menekan-nekan klakson karena penjaga tak kunjung membuka gerbang, saat gerbang sudah terbuka, mobil Stuard langsung melesat masuk.
Saat sampai di parkiran, Stuard langsung berlari ke arah kelas Gabby dan Gabriel. Setelah sampai, Stuard mengintip dari jendela mencari keberadaan Gabby dan Gabril. Namun kedua anak kembarnya tak ada di kelas.
Stuard tak bisa menahan diri lagi, ia mengetuk pintu hingga guru menghampiri dan membuka pintunya.
"Tuan Stuard." kaget guru yang barusan membuka pintu.
Stuard berusaha tenang, ia berusaha tersenyum. Walaupun sebenarnya ia ingin masuk dan memastikan keberadaan Gabby dan Gabriel.
"Apa Gabby dan Gabriel ada?" tanya Stuard membuat kening guru itu mengernyit.
"Nyonya Simma sudah mengajukan pengunduran Gabby dan Gabriel keluar dari sekolah ini beberapa hari yang lalu."
DEG
Tahan jempol tahan, jangan sampe hujat siapa pun.😂😂 Bentar lagi asli udahan konfliknya
Hate komen blok.
pada penasaran kan ya apa yang di katakan sama Rain di telpon. sabar iesss wkwkwk