Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
Nasihat ibu


Di masa lalu, kita adalah orang asing yang hanya dipertemukan oleh takdir. di masa lalu, kau selalu menatapku dengan asing. Begitu pun aku yang selalu menjauh darimu.


Tapi sekarang, takdir begitu berbeda ... Kau ingin dekat denganku, begitupun aku yang ingin dekat denganmu. Hatiku selalu hancur ketika aku menolakmu. Rasanya, begitu pedih ketika aku berpura-pura aku tak peduli padamu.


Tapi untuk menerima semua yang kau lakukan pun, aku terlalu takut.


Amelia merebahkan tubuhnya di ranjang, ia menatap ke depan dengan tatapan kosong,


tiba-tiba bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya, saat mengingat semuanya.


Saat tadi melihat Gabriel di pemakaman, Amelia memutuskan untuk berbalik dan pergi. Ia memutuskan untuk pulang ke rumah ibunya. Rasanya, ia terlalu malu untuk menatap, Gabriel.


Ia memang mencintai Gabriel. Tapi dia juga tidak bisa melupakan lukanya begitu saja. Terkadang, setiap melihat Gabriel, tak dipungkiri. Rasa itu masih ada. Rasa takut, rasa gelisah dan rasa marah selalu Amelia rasakan ketika berdekatan dengan Gabriel.


Tapi selama ini, Amelia selalu berpikiran positif dan menekan rasa takutnya, dan saat semalam, ia benar-benar terhanyut oleh sentuhan Gabriel


Ia terlalu merindukan Gabriel, hingga ia merasa Itu adalah sebuah mimpi, dan lucunya walaupun ia menganggap Itu adalah sebuah mimpi, ia tidak ingin bangun lagi dan ingin terus berada di samping Gabriel.


Pintu terbuka, Amelia langsung menghapus air matanya kemudian menoleh. Ternyata


sosok sang ibu yang masuk kedalam kamarnya. Amelia bangkit dari berbaringnya. Lalu duduk di ranjang, disusul sang ibu yang ikut duduk di samping Amelia.


Mengerti apa yang dirasakan putrinya, Rieta langsung memeluk Amelia, hingga tangis Amelia pecah “Ibu tahu, apa yang kau rasakan. Ibu tahu berat bagimu untuk melihat Gabriel. Tapi kau sudah terlalu larut dalam luka, Amelia.” Rieta menghentikan ucapannya sejenak. Kemudian mengelus punggung Amelia.


“Ibu tidak membenarkan Apa yang dilakukan oleh Gabriel, hanya saja kau tidak akan bahagia jika terus seperti ini,” ucap Rieta.


“Ibu, aku takut. Bagaimana jika ....” Amelia tidak sanggup meneruskan ucapannya, karena suaranya tenggelam oleh tangisan..


Entahlah, ia bimbang dengan hatinya sendiri. Tapi untuk saat ini, setelah kejadian semalam


Amelia memutuskan untuk menjauh sejenak dari Gabriel.


satu bulan kemudian


Ini sudah 1 bulan berlalu, semenjak kejadian Amelia dan Gabriel yang tidur bersama. Selama 1 bulan ini, Amelia benar-benar berubah. terkesan lebih dingin dan acuh dari sebelumnya.


Amelia kerap pulang malam untuk menghindari bertemu dengan Gabriel. Sedangkan Gabriel begitu sabar, dia sama sekali tidak menyerah untuk mendekati Amelia, dan tidak ada niat untuk menyerah.


Ia tau, butuh perjuangan yang ekstra untuk menaklukkan Amelia.


Waktu menunjukkan pukul 11 siang, Gabriel bangkit dari duduknya, kemudian memakai jasnya. Lalu, setelah itu ia keluar dari ruangannya. Hari ini, ia akan mengantarkan makan siang untuk Amelia, ia akan mampir ke Restoran lalu akan mengantarkannya ke kantor kepolisian


Setelah sampai di restoran, Gabriel menghentikan mobilnya, kemudian ia masuk ke restoran tersebut .


Saat berjalan masuk, langkahnya terhenti ketika melihat Amelia sedang makan dengan Johan. Gabriel terdiam, dadanya seperti di tusuk oleh belati saat melihat Amelia tertawa lepas pada Johan, sedangkan Amelia selalu bersikap dingin padanya.


Emosinya membara, ia menggertakan giginya kemudian mengepalkan tangannya. Tidak, Amelia hanya miliknya, tidak ada yang boleh memiliki Amelia.


Gabriel berbalik kemudian keluar dari restoran tersebut, di saat seperti ini, ia hanya mengingat sang ayah.


Scroll gengs