
“A-ariana!” Briana hanya mampu memanggil Ariana dengan lirih, tanpa bisa menggapai dan tanpa bisa menyentuh putrinya.
Ia ingin mendekati dan memeluk Putri yang selama ini ia sia-siakan. Namun melihat, tatapan justin ia tak berani mendekat dan hanya bisa melihat dari jauh. Jantungnya terasa di tusuk ribuan belati saat mendengar tangis Ariana yang begitu pilu.
Mata Carla membulat saat melihat wajah Justin yang begitu tampan, seketika jiwa irinya meronta-ronta. ia menatap Justin dengan tatapan lapar tapi tak lama ia menunduk ketika Justin menatapnya dengan tajam seolah Carla adalah debu yang tak berarti di matanya.
Setelah menatap Carla dengan tajam, Justin tersadar saat mendengar isakan Ariana semakin mengencang. Kini, waktunya Ia membuat keputusan.
Namun, sebelum ia berbicara, terdengar suara yang cukup kerasdari depan, ternyata Josh jatuh dari kursi roda membuat Justin sedikit terkejut. Namun ia sama sekali tak tergerak untuk membantu mertuanya.
Ternyata, Ariana pun mendengar suara tersebut, ia melongokan kepalanya dan melihat apa yang terjadi di depannya. Matanya membulat, mulutnya menganga.
Ia terkejut saat sang ayah jatuh dari kursi rodanya. Namun, sang ibu dan adiknya tak membantu sang ayah. Mereka, berdua malah sibuk melihat kearahnya seketika itu juga Ariana langsung berjalan ke arah Josh untuk membantu Josh berdiri.
Namun, baru saja ia berjalan beberapa langkah, ia menghentikan langkahnya. Kala ia menyadari sesuatu, kemudian ia menoleh kearah Justin yang menatapnya dengan datar seolah ia tak setuju jika Ariana menghampiri Josh.
Tangis Ariana semakin luruh saat melihat ekspresi Justin. Ia dilema, satu sisi Justin adalah suaminya. Namun disisi lain, Josh adalah ayahnya. Ia juga menyayangkan Kenapa ibu dan adiknya tak membantu ayahnya untuk bangkit kembali.
Tiba-tiba, rasa bersalah dan menghampirinya Ia mulai diterpa lagi rasa sesak yang luar biasa. Semua kesedihan menghantam Ariana, apalagi melihat tatapan Justin yang datar.
Seandainya ia tak cacat, ia pasti akan berani merengek pada Justin atau setidaknya meminta pada Justin untuk meringankan hukuman keluarganya.
Tapi, karena keadaanya yang cacat ia sama sekali tak mempunyai kepercayaan diri untuk melakukan itu semua. Justin menerimanya wanita cacat sepertinya saja ia sudah sangat merasa beruntung.
Justin tersadar saat melihat pergerakan tangan isrtinya. Ia mengusap wajah kasar, lalu menoleh kebelakang. Kemudian, mengisyartakan pengawalnya agar membantu Josh untuk bangkit dari lantai.
Setelah Josh di bantu oleh pengawalnya, Justin berjalan ke arah istrinya. Ia menahan tangan Ariana yang akan mencubit kakinya, kemudian membawa Ariana kedalam pelukannya.
“Ayo pulang. Aku akan memikirkannya nanti,” kata Justin saat memeluk Ariana. Ia rasa, istrinya akan semakin tertekan saat melihat situasi ini, ia pun melepaskan pelukannya dan langsung menarik lembut tangan Ariana untuk keluar dari mansion.
“Kalian tunggu di sini! aku akan memberi perintah pada kalian nanti,” kata Justin pada orangnya yang berada di luar mansion
Setelah itu, Justin pun mengajak Ariana untuk menaiki mobil dan langsung meminta supir untuk mengantarkan mereka ke landasan pacu.
Ariana itu ga lebay ya. tapi emang karena tekanan dia dari kecil jadi membentuk pribadi dia menjadi pribadi yang demikian. Apalagi Ariana punya tingkat perasa yang tinggi
Scroll lagi iesss