Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
114


Zayn tersenyum saat melihat Gia, ia pun menghampiri Gia dan langsung memeluk sang istri.


Zidan yang menyaksikan intraksi kakanya dan Gia, tersenyum. Memang menyakitkan. Tapi, melihat Zayn dan Gia yang terlihat sangat bahagia, Zidan pun akan berusaha lebih keras untuk melupakan kaka iparnya.


Sonya menggengam tangan Zidan. Ia tersenyum ke arah Zidan. Ia tau bagaimana perasaan Zidan, senyuman Sonya mengisyaratkan agar Zidan kuat. Zidan tersenyum lembut pada Sonya, ia langsung membawa Sonya kedalam pelukannya.


"Aku baik-baik saja, Mom," ucap Zidan berbisik di telinga Sonya.


Setelah saling berpelukan, mereka pun melanjutkan dengan makan malam bersama. Ini pertama kalinya mereka makan malam bersama dengan formasi lengkap. Canda tawa menghiasi makan malam mereka.


••


Sonya sedang duduk di ranjang, ia meremas tangannya, ia terus melihat ke arah kamar mandi. Saat pulang dari restoran, Albert memutuskan untuk menyegarkan diri, dan sedari tadi, Sonya menunggu Albert. Ia ingin berbicara sesuatu pada suaminya. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal di hatinya saat dia tak belum jujur tentang perasaanya.


Karena Albert tak kunjung keluar. Sonya pun memberanikan diri untuk menyusul Albert ke kamar mandi. Ia menghela napas beberapa kali sebelum memutar gagang pintu. Setelah lama berpikir, akhirnya tangannya memutar gagang pintu, ia bersyukur karena pintu kamar mandi tak terkunci.


Setelah membuka pintu, Sonya pun melangkahkan kakinya kedalam. Keningnya mengkerut bingung saat kamar mandi kosong. Sedari tadi, terus melihat pintu kamar mandi, jadi ia yakin, Albet belum keluar. Tapi, kenapa sekarang kamar mandinya kosong.


Saat Sonya melangkah lebih dalam, pintu tiba -tiba tertutup, seketik Sonya terkesiap, ia pun segera melihat kebelakang.


"Albert kau mengagetkanku!" gerutu Sonya.


Ternyata saat Albert akan keluar dari kamar mandi, ia melihat bayangan kaki Sonya yang akan masuk, dan alhasil dia pun bersembunyi di belakang pintu.


Sonya mengengguk saliva saat melihat tubuh Albert yang hanya memakai Bathrobe, tubuh itu begitu kekar, atletis dan sangat mempesona. Karisma Albert semakin terlihat walau dengan rambut yang masih basah, di tambah lagi wangi maskulin suaminya, membuat pikiran Sonya melanglang buana.


Albert terkekeh, ia lalu mengunci pintu kamar mandi, dan mendekati Sonya.


"A-albert, kau mau apa?" tanya Sonya saat melihat Albert menghampirinya dan menatapnya bagai singa yang akan memangsa korbannya.


"Memangnya apa lagi," ucap Albert. Tanpa di duga, Albert membalikan tubuh Sonya dan lansung memeluk Sonya dari belakang.


"Kenapa kau menyusulku, hem?" tanya Albert ia , mengecup kepala Sonya bertubi-tubi.


Sonya tersenyum, ia menarik tangan Albert agar Albert memeluknya semakin erat. Albert membulatkan matanya saat melihat reaksi Sonya. Biasanya, Sonya akan menolak atau bahkan takan membalas pelukan Albert.


Tapi, sekarang ....


Sonya mengelus punggung tangan Albert yang melingkar di pinggangnya. "Albert, boleh aku bertanya?" tanya Sonya. Albert pun mengangguk, "Tanyakan apa yang kau ingin ketahui," jawabnya.


"Aku hanya ingin memastikan. Apa kau benar-benar masih mencintaiku?" Tanya Sonya.


Albert tersenyum. "Dari dulu, kau takan mempan dengan semua rayuanku, begitu pun sekarang. Aku takan berbicara panjang lebar tentang cintaku padamu. Yang harus kau tau, cintaku padamu tetaplah sama. Tak ada yang berubah," jawab Albert.


Seketika Sonya berbalik. Ia langsung mendongak menatap Albert.


"I Love you," ucap Sonya. Setelah mengatakan itu. Sonya langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Albert dan menuju keluar dari kamar mandi.


Sonya merasakan malu bukan main saat mengatakan tentang perasaanya. Ia pun berniat untuk keluar dari kamar mandi. Namun, saat ia akan memutar gagang pintu, Albert sudah menarik tangannya.


"Al-albert, kau mau apa?" tanya Sonya terbata-bata. Ia memejamkan matanya saat tali bathrob Albert terlepas. Tanpa menjawan ucapan Sonya. Albert .....


•••


Keesokan harinya.


"Sayang, ini sudah siang. Aku harus pergi ke kantor," ucap Zayn pada istrinya. Ini sudah berkali-kali Zayn membangunkan Gia. Namun, Gia tak mau membuka matanya. Ia masih nyaman memeluk suaminya.


"Sayang!" panggil Zayn lagi. "Aku har ...." Perkataan Zayn terputus saat Gia melepaskan pelukannya dan langsung membelakangi Zayn. Rupanya ia kesal pada suaminya karena terus saja berbicara. Padahal ia hanya ingin di peluk sedikit lebih lama oleh suaminya.


Melihat reaksi Gia yang marah, seketika Zayn di landa kepanikan. Ia berniat memeluk lagi Gia dari belakang, Namun, Gia langsung menepis tangan Zayn.


Zayn semakin panik kala mendengar Gia terisak. Ia pun langsung menarik bahu istrinya hingga Gia berbalik ke arahnya.


"Sayang, kau kenapa?" tanya Zayn.


"Kau jahat, Dad. Kau jahat. Aku hanya ingin memelukmu," isak Gia seperti anak kecil yang tak di berikan mainan oleh orang tuanya.


Tanpa membalas ucapan istrinya, Zayn membawa Gia kedalam pelukannya. Ia harus extra sabar untuk menghadapi istrinya yang sedang mengandung.


"Jangan peluk aku!" jerit Gia saat Zayn memeluknya. Zayn menggaruk rambutnya. Ia benar-benar tak mengerti dengan tingkah istrinya. Setelah mengucapkan itu, Gia pun bangkit dari tidurnya.


"Sayang kau mau kemana?" tanya Zayn.


"Aku mau mandi dan ikut ke kantor," jawab Gia setengah berteriak.


Mendengar ucapan Gia mata Zayn membulat sempurna. Semalam, Zayn dan Zidan sepakat untuk makan siang bersama. Jika Gia ikut ke kantor. Otomatis, Gia pun akan ke kantor.


Walaupun urusan keluarganya sudah selesai. Tapi, sampai saat ini, Zayn selalu merasa cemburu dan waswas jika Gia bertemu Zidan. Ia hanya takut, istrinya terpincut kembali pada adiknya. Padahal, hati Gia telah terpaut padanya.


Zayn dengan cepat, mengambil ponselnya untuk menelpon Mark. Ia memanggil Mark dan menyuruh membatalkan semua meeting, hari ini. Ia takan pergi ke kantor. Ia akan berdiam diri seharian bersama istrinya, dan tentu akan lebih aman.


ini udah panjang banget ya


Audrey, apa dia milikku?" tanya Zidan dengan tubuh bergetar. Seandainya dia datang lebih cepat, hal buruk takan terjadi.


Audrey memandang Zidan dengan tatapan nyalang. "Tutup mulutmu, pergi! dan jangan berani lagi kau menampakan batang hidungmu di hadapanku," ucap Audrey. Ia mendorong Zidan dengan keras.


Saat sudah berada di luar, tubuh Zidan terasa lemas tak bertenaga. Hanya karena rasa kesalnya pada Audrey, ia menghancurkan semuanya.


Kisah Zidan sama Audrey, otor satuin di lapak ini ya.