
"Stuard, terimakasih atas hari ini," ucap Simma saat mereka baru saja tiba di unit apartemen milik Simma, sedari tadi, mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Walau sedikit gemetar, tapi Simma meyakinkan dirinya bahwa ia akan baik-baik saja saat Stuard menggenggam tangannya.
Stuard tersenyum, kemudian melepaskan genggaman tangannya dari Simma. "Istirahatlah. Besok aku ada pekerjaan. Jadi, aku tak bisa datang menemuimu," ucap Stuard.
Mendengar ucapan Stuard, tiba-tiba Simma terdiam. Ada perasaan aneh saat Stuard berkata tidak bisa datang. Tanpa Simma sadari, sebenarnya, ia sudah terbiasa dengan kehadiran Stuard.
"Simma!" panggil Stuard saat Simma terdiam.
Simma pun kembali tersenyum, lalu mengangguk. "Kau harus berhati-hati dalam bekerja, Stuard," ucap Simma. "Karena ada aku dan anakku yang menunggumu," ucap Simma. Tapi, kata-kata terakhir ia simpan untuk dirinya sendiri.
"Aku pergi," pamit Stuard. Ia mengelus kepala Simma lalu menekuk kakinya dan mengelus perut Simma.
"Babby Twins, Daddy akan bekerja. Doakan. Daddy oke. Jangan nakal di perut Mommy, oke," ucap Stuard. Hati Simma menghangat saat Stuard selalu menyebut dirinya Daddy untuk anak-anaknya.
Setelah selesai, Stuard pun kembali ke menegakan tubuhnya dan tersenyum pada Simma, lalu berlalu meninggalkan Simma.
•••
Saat sudah keluar dari lobi apartemen, Stuard merogoh ponselnya, dan menghubungi Rain meminta sekretarisnya untuk menjemputnya.
Stuard tak pernah datang ke caffe Simma memakai mobil agar tak terlalu mencolok, dia akan menelpon Rain jika urusan dengan Simma sudah selesai.
15 menit kemudian, mobil mewah berhenti di depan Stuard, Rain keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Stuard.
"Anda harus memeriksa ini, Tuan," ucap Rain, ia menyodorkan tab pada Stuard.
Stuard mengambil tab itu, lalu menyenderkan tubuhnya dan menyilangkan kakinya, ia melihat tab yang sedang di pegannya, kemudian ia memeriksa laporan dengan seksama.
"Apa artinya kita harus pergi ke Hawaii besok?" tanya Stuard, terdengar helaan napas yang cukup panjang dari lelaki itu.
Rain pun mengangguk, "Anda tak bisa mewakilkannya pada siapa pun," jawab Rain, membuat lagi-lagi Stuard menghela napas berat. Ia harus pergi dan meninggalkan Simma.
"Kau sudah menyiapkan semuanya?" tanya Sturd.
Rain mengangguk. "Anda akan pergi besok pagi-pagi sekali," jawab rain.
•••
Satu minggu kemudian
Simma melihat ke luar, matanya menatap sendu ke ke arah jalan. Sudah seminggu Ini Stuard tak datang ke Caffe, dan Simma merasa kehilangan.
Ponsel Stuard pun tak aktiv, membuat Simma semakin risau, dan berpikir bahwa Stuard akan mengabaikannya seperti Josh, dan setiap memikirkan itu, hati Simma berdenyut nyeri, bagaimana jika semuanya benar, bagaimana jika Stuard hanya main-main dengannya
Lamunan Simma buyar, kala mendengar ucapan para karyawan caffenya.
"Ada apa?" tanya Simma pada karyawannya yang sedang berdiskusi
Simma menoleh ke arah belakang, kondisi Caffenya cukup ramai, tak mungkin jika salah satu pegawainya pergi.
"Siapkan pesanannya. Biar aku yang mengantarnya," ucap Simma, Ia sudah sedikit pulih dari gangguan paniknya, dan ia rasa ia bisa mengetes dirinya agar bisa lebih baik dalam menghadapi gangguan paniknya.
Setelah pesanan siap, Simma pun bergegas pergi dan menaiki taxi untuk pergi ke tempat yang di tuju.
Dan di sinilah Simma, berdiri di depan perusahaan yang cukup besar, karyawan perusahaan tersebut memesan Kopi dan aneka dessert di caffe Simma..
Simma menghela napas sebelum masuk. Ia harus memberanikan diri untuk menghadapi orang banyak.
Ia pun mulai melangkahkan kakinya untuk masuk dan berniat menitipkan pesanan pada resepsionis, Simma pun mulai melangkahkan kakinya dan berjalan untuk masuk ke gedung.
Tapi, Saat berjalan untuk masuk, langkahnya terhenti saat ia menabrak seseorang, hingga kopi dan deseert yang di pegannya jatuh ke tubuh orang yang di tabraknya.
"Apa kau tidak mempunyai mata, Hah!" bentak orang di tabrak Simma saat kopi mengenai kemejanya.
Tiba-tiba, tubuh Simma bergetar saat mendengar bentakan orang di depannya. Semua pesanan yang di bawa Simma berceceran ke bawah.
Lutut Simma melemas, ia memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya dan meminta maaf. Namun, saat ia mengangkat kepalanya. Mata Simma membulat saat melihat orang yang di tabraknya.
Bukan Simma saja yang terkejut, orang yang di tabrak Simma pun sama terkejutnya.
"Se-Stu," ucap Simma terbata-bata, dan orang yang di tabrak Simma adalah Stuard.
"Simma!" panggil Stuard dengan rasa yang berkecamuk. Ia tak menyangka bahwa Simma akan melihatnya saat ia memakai setelan kantor dan di belakang Stuard ada orang-orangnya yang sangat menjelaskan bahwa Stuard adalah orang penting.
Stud baru saja pulang dari hawai dan berencana menemui Simma nanti malam. Tapi sekarang, Simma malah memergokinya.
Simma menatap Stuard dengan tatapan bingung. Kenapa Stuard sangat berbeda. Ia melihat sekelilingnya dan orang di belakang Stuard.
Kini, Simma tau bahwa Stuard telah membohonginya, Stuard bukan orang biasa dan kini, Simma merasa bahwa ia adalah orang bodoh.
Dengan kaki yang masih gemetar, Simma berbalik meninggalkan Stuard begitu saja. Sedangkan Stuard mengusap wajah kasar. Ia tak ingin Simma salah paham.
"Kalian masuk terlebih dahulu," ucap Stuard pada orang-orang di belakannya. Secepat kilat, Stuard pun berlari menyusul Simma.
Saat dia berhasil mengejar Simma. Stuar pun langsung memegang bahu Simma dan sedetik kemudian, tubuh Simma tak sadarkan diri. Dan secepat kilat Stuard pun menggendong Simma.
Tepat saat Stuard menggendong Simma, Josh berdiri tak jauh dari tempat Stuard dan Simma berdiri, dan ia pun melihat semuanya.
Nanti di jelasin ya kenapa Stuard bisa datang ke perusahaan Stuard.
Udah panjang banget nih ya udah 3 bab jarinya di jaga ya, hate komen blok
Cinta tulus setelah bercerai libur update ya, updatenya bsok 😎