
“Mommy, mana Daddy?” tanya Gabriel saat ia masuk kedalam mansion. Simma yang sedang merapikan bunga hiasnya menoleh kearah Gabriel. “Ada apa, kau ingin minta tolong apalagi pada Daddy? kau ingin Daddy melakukan apa lagi?” tanya Simma ia sudah bisa menebak maksud kedatangan sang putra.
Gabriel mengangkat bahunya acuh sambil tersenyum. “Itu rahasia lelaki, Mom," jawab Gabriel dengan nada malu-malu. “Jadi, Daddy di mana?” tanya Gabriel lagi.
“Daddy ada di lapangan,” jawab Simma lagi. Setelah mendengar jawaban dari sang ibu. Gabriel pun berjalan ke arah belakang, menyusul ayahnya yang sedang berada di lapangan kuda.
Saat Gabriel masuk ke area lapangan. Ternyata, Stuart sudah selesai dengan aktivitasnya. Sang ayah terlihat akan memasukkan kuda ke kandang. Hingga Gabriel langsung menyusul sang ayah.
“Dad!” panggil Gabriel.
“Astaga Gabriel, kau mengagetkan Daddy saja,” kata Stuard, sambil menoleh ke belakang. sedangkan, Gabriel hanya tersenyum
“Ada apa? Kenapa lagi?” tanya Stuard Sepertinya lelaki itu sudah tahu, apa yang akan diucapkan oleh sang putra.
”Daddy, bolehkah aku meminta tolong lagi padamu?” tanya Gabriel.
“Tidak boleh, kau sudah terlalu lama meminta tolong pada Daddy,” jawab Stuard. Tentu saja ia bergurau. Karena, ia akan melakukan yang terbaik untuk putra-putrinya.
“Ayolah, Dad. bantu aku sekali ini saja!” kata Gabriel dengan nada memelas, membuat Stuard menggeleng
“Ada apa, kau ingin Daddy melakukan apa?” tanya Stuart lagi.
“Daddy, bukankah Daddy memiliki koneksi yang kuat di kantor kepolisian tempat Amelia bertugas, bisakah Daddy menyuruh komandan di sana untuk memberikan Amelia cuti lagi?” tanya Gabriel. Stuard, tanpak menggeleng dengan kelakuan putranya.
Sepertinya, ia mengerti dengan apa yang sedang dirasakan oleh Gabriel.
“Ayolah, Dad. Aku malu jika harus mengatakan alasannya, kau pun juga sudah tahu alasanku. Jadi sekarang, aku mohon pakai koneksi Daddy umtuk menyuruh Amelia cuti lagi!” pinta Gabriel pada sang ayah. Kali ini, ia benar-benar memelas.
“Oke, Daddy akan membantumu kali ini. Tapi tidak dengan lain kali,” ucap Stuard, ia bisa saja berkata begitu. Tapi, setiap putra-putrinya butuh pertolongan, dia orang yang pertama maju untuk menyelesaikan masalah putra-putrinya.
•••
“Komandan, kenapa Anda memberi cuti lagi pada saya? saya sudah menghabiskan waktu cuti selama 6 bulan,” jawab Amelia. Ia menatap Erik. Tanpa berkedip.
Erik berdehem, ia tampak menetralkan kegugupannya. “Tiidak apa-apa, sebelumnya kau sudah banyak prestasi di sini. Jadi, kami memberikan apresiasi untukmu,” jawab Erik dengan meyakinkan. “Amelia kau tidak boleh menolak apa yang sudah diperintahkan olehku ucap,” sambung Erik, membuat Amelia terdiam.
Ini hal yang tak masuk akal bagi Amelia. Erik adalah salah satu komandan tertegas di divisinya. Tidak ada kata ampun bagi anggota yang membuat kesalahan. Bahkan hal sekecil apapun.
Tapi setelah semua tahu ia adalah menantu dari Stuard, sikap Erik dan sikap petinggi-petinggi lainnya berubah pada Amelia..Amelia seolah diistimewakan, walaupun Amelia tidak meminta itu.
Tiiba-tiba, Amelia memejamkan matanya, kala menyadari bahwa keputusan ini bukan keputusan Erik, melainkan keputusan ayah mertuanya dan pasti ayah mertuanya diperintahkan oleh suaminya.
”Amelia ini perintah untukmu, tak ada nego kau harus menerima keputusan ini!”
Pada akhirnya, Amelia mengangguk pasrah.
Scroll Gengs