
"Bagaimana keadaanya?" tanya Stuard pada Kina, dokter kandungan yang ia perintahkan datang ke mansionnya. Bukan hanya dokter kandungan saja yang yang ia datangkan. Alat-alat usg serta alat medis untuk Simma pun ia datangkan ke mansionnya.
"Kondisi kedua bayinya, stabil dan sehat. Mungkin Nona hanya mengalami shock," jawab Kina. "Kalau begitu saya permisi," ucap Kina lagi, Stuard pun mengangguk.
Setelah Kina keluar, Stuard mendudukan dirinya di sebelah Simma. Ia menatap wajah Simma lekat-lekat, kemudian ia menggenggam tangan Simma dan mengecupnya.
Ia menghela napas besar, ia bingung dengan apa yang akan ia jelaskan pada Simma setelah Simma tersadar. Ia yakin, Simma akan membencinya karena sudah berbohong.
Selama seminggu ini, ia berusaha keras menyelesaikan pekerjaannya lebih awal agar ia bisa secepatnya kembali ke Rusia dan bertemu dengan Simma.
Namun, sayang. Harapan tinggal harapan. Stuard memang bertemu dengan Simma. Tapi, dengan kondisi yang tak terduga. Padahal, dia sudah setengah jalan mendapat hati Simma. Tapi sekarang ...
Sungguh Stuard ingin sekali mencingcang tubuh karyawannya yang memesan kopi di caffe Simma hingga Simma datang ke kantornya dan bertemu dengannya.
Stuard melepaskan genggaman tangannya dan mengelus rambut Simma kemudian mengecup kening Simma. "Simma, aku harap, setelah kau sadar, kau tak membenciku," bisik Stuard lirih. Setelah itu ia pun bangkit dari duduknya dan keluar dari kamar untuk ke ruang kerjanya.
15 menit berlalu, Stuard pun keluar dari ruang kerjanya dan berniat kembali ke kamarnya untuk melihat Simma.
Saat ia membuka pintu. Ia terpekik saat melihat Simma sudah sadarkan diri.
"Simma kau sudah sadar," ucap Stuard diiringi hembusan napas lega. Ia pun berjalan ke arah ranjang dan mendudukan dirinya di sebelah Simma.
Saat Stuard akan menyentuh tangan Simma, Simma menepis tangan Stuard. Ia melepas paksa selang infus dari tangannya dan bangkit dari berbaringnya, kemudian duduk dengan memeluk lututnya.
"Simma!" pekik Stuard saat Simma melepaskan selang infus dengan paksa hingga tangan Simma mengeluarkan darah.
Karena jika di pikir, sangat tak masuk akal, kenapa Stuard yang kaya dan mempunyai segalanya malah mendekatinya dan berkata ingin bertanggung jawab atas kedua anaknya.
"Simma, tenangkan dirimu. Mari kita bicara!" ucap Stuard, ia berbicara selembut mungkin agar Simma percaya padanya.
"Kau mau menjualku dan kedua anakku kan?" teriak Simma histeris membuat Stuard mengernyitkan keningnya. Kenapa tiba-tiba, Simma malah berbicara hal yang tak masuk akal.
"Simma!" panggil Stuard, Ia menggeser duduknya agar bisa lebih dekat dengan Simma, saat ia akan menyentuh tangan Simma, saat itu juga Simma mendorong tubuh Stuard, hingga Stuard terjatuh. Dan setelah Stuard terjatuh, Simma bangkit dari ranjang dan ia berjalan cepat untuk menuju pintu.
Tubuh Simma gemetar, gangguan panik kembali menyerangnya, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Saat dia membuka pintu dan berniat akan berlari. Gerakannya terhenti saat Stuar menarik tangannya dan membawa Simma kedalam pelukannya.
"Lepaskankan Aku! Biarkan aku dari sini!" teriak Simma, ia meronta dan memukuli dada Stuard dengan keras membuat Stuard meringis.
"Simma!" Stuard sedikit berteriak karena Simma Simma terus meronta.
"Tatap aku!" ucap Sturd, ia melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahu Simma, lalu menatap Simma dalam-dalam, berusaha menjelaskan semuanya pada Simma.
"Se-Stu ...." Ucap Simma saat menatap wajah Stuard dan tak lama, ia kembali tak sadarkan diri.
Pokoknya, ending kisah Simma akan seperti yang kalian harapkan 😎
Scrool lagi ies