
“Bagaimana mungkin dia menghapus nama Smith di belakang namanya?” tanya Zayn pada kepada sekretarisnya.
Sekretarisnya itu tampak berpikir kemudian ia menghela nafas beberapa kali lalu menghambuskannya.
Sepertinya sudah tak ada gunanya lagi dia merahasiakan semuanya dan ia harus membeberkan rahasia yang selama ini dia simpan.
”Nona sud lah menghapuskan nama Smith di belakang namanya, Ia juga meminta kepada saya untuk merahasiakan tentang keputusannya. ....” Sekretaris Zayn menghentikan ucapannya saat melihat wajah tuanny memerah.
Rahang Zayn mengeras, tiba-tiba, amarah hebat berkobar di dadanya. Emosinya berdesir sampai ke ubun-ubun. Bagaimana mungkin, Arleta menghapus nama Smith di belakang namanya. Ini benar-benar sebuah penghinaan untuk keluarganya. Secepat kilat, Zayn bangkit dari duduknya dan pulang untuk menemui Arleta.
Zayn mengenderai mobilnya dengan kecepatan penuh. Ia benar-benar merasa kecewa dan marah pada adik angkatnya. Belum hilang kemarahan dan kekecewaamya karena Arleta bekerja di Club. Sekarang, kemarahannya bertambah karena Aeta menghapus nama Smith di belakang namanya.
Saat sampai di manasion, Ia langsung berteriak memangil Arleta. Tak ada sahutan, ia pun langsung berlari ke kamar Arleta dan membukanya dengan keras.
“Arleta!” bentak Zayn. Arleta tak ada di mana pun. Lalu ia kembali turun ke bawah untuk menghampiri para pelayan.
”Dimana Arleta?” tanya Zayn pada pada pelayan.
“Nona Arleta sedang ada di rumah sakit, Tuan."
Mendengar jawaban pelayan, kening Zayn mengerut bingung. “Kenapa lagi dia?”
tanya Zayn, ia berusaha untuk menetralkan nafasnya dan berusaha untuk menetralkan amarahnya.
“Tadi, Nona Arleta menyelamatkan nona Zidny dari kuda yang mengamuk. Hingga kuda itu menimpa tubuh Nona Arleta dan sekarang, Nona Arleta dibawa ke rumah sakit,” jawab si pelayan tersebut..
Zayn merogoh sakunya kemudian mengambil ponsel lalu menelpon Zidan dan bertanya Aleta dirawat di rumah sakit mana.
Setelah mengetahui dimana Arleta dirawat Zayn langsung keluar dari mansion, sepertinya emosinya masih berkobar. Hingga ia tak peduli dengan kondisi Arleta yang sedikit parah.
“Arleta kau ingin sesuatu?” tanya Audrey, arleta yang sedang memejamkan matanya merasakan rasa nyeri menggeleng.
“Tidak kakak, terima kasih,” ucap Arleta. Dia kembali memejamkan matanya dan menggigit bibirnya, berusaha untuk tak menangis karena tubuhnya benar-benar terasa nyeri dan terasa remuk. Bahkan, ia merasa kakinya tak bisa digerakkan.
Saat kakinya tak bisa digerakkan, ia berusaha menggoyang-goyangkan telapak kakinya, ia bisa melihat bahwa telapak kakinya bergerak hanya saja ia tak bisa merasakannya.
“Arleta!” panggil Zidan sedari tadi ia sungguh malu untuk menegur Arletta. Tapi rasanya, ia tak bisa menahannya lagi, ia merasa bersalah pada adik angkatnya.
Arleta membuka matanya kemudian tersenyum pada Zidan, senyum itu hanya kamuflase, nyatanya, setiap melihat Zidan, hati Arleta selalu berdenyut nyeri. Mungkin, benar. Ia hanya bisa mendapat maaf jika ia menebusnya dengan terbaring di brankar.
“Maafkan sikap Kaka selama ini kepadamu,” ucap Zidan. Ia mengelus rambut Arletta ketika melihat mata Arleta sudah membasah, dan Zidan tau, bahwa Arleta akan menangis.
Harusnya Arleta senang mendengar permintaan maaf dari Zidan. Tapi rasanya ini sangat menyesakkan, Arleta hanya mampu menganggukkan kepalanya. Ia sungguh ingin menangis sekencang-kencangnya.
Brakkkk
Pintu di banting dengan keras, membuat semua yang berada di ruang rawat Arleta terperanjat kaget.
“Zayn ada apa?” tanya Zidan
Zayn ....
Pada nanyain kenapa Zayn ga ngelacak uang yang dikirim ke Arleta, kenapa Kelly ga tau ada Arleta kirim uang rekeningnya.
Jawabannya nanti ye Mak sabar sabar dulu.
Jangan hate komen ya. Biar update lancar, hat komen libur sebulan🙃🙃