
Amelia berjalan dengan langkah yang pelan, tatapan matanya memandang kosong ke depan. Ia berjalan antara sadar dan tidak sadar, seolah kakinya berjalan sendiri, tanpa ada yang mengendalikannya.
Saat sudah berada di depan kamar yang biasa dipakai Gabriel untuk menyiksanya, Amelia langsung masuk. Membuat Gabriel yang sedang duduk menoleh, kemudian menyeringai.
Namun, kening Gabriel mengerut saat melihat Amelia menatap kosong padanya. Biasanya, Amelia akan menatapnya dengan tatapan takut bercampur malu-malu. Tapi hari ini, Amelia menatapnya dengan tatapan seperti orang yang tak bernyawa.
Amelia yang baru saja membuka pintu langsung masuk dan berjalan kearah Gabriel. Tanpa diperintahkan, Amelia berjongkok lalu langsung membuka celana Gabriel dan memasukkan milik Gabriel kedalam mulutnya. Ia melakukannya sebelum Gabriel berbicara satu patah kata pun.
Untuk pertama kalinya, Gabriel tidak menikmati Apa yang dilakukan Amelia, ia heran dengan reaksi Amelia yang melakukannya tanpa ekspresi.
Biasanya, Amelia terlihat seperti tertekan. Tapi saat ini, Amelia bahkan tidak berekspresi sama sekali. Tapi lama, Gabriel tersadar, untuk apa juga ia perduli. Begitulah pikirnya.
Ia menjambak rambut Amelia, lalu menekankan senjatanya lebih dalam dan seperti biasa Gabriel memuntahkannya dimulut Amelia.
Setelah itu, tanpa diperintahkan oleh Gabriel. Amelia bangkit, kemudian membuka seluruh pakaiannya. Lalu menari di hadapan Gabriel, membuat Gabriel benar-benar bingung dengan apa yang terjadi pada Amelia.
Amelia menatapnya dengan tatapan kosong. Bahkan, tak berekspresi sedikitpun. Biasanya Amelia akan menangis. Tapi sekarang, Amelia seperti di kendalikan oleh alam bawah sadarnya.
Tapi lagi-lagi, Gabriel enggan perduli. Ia mengambil wine, lalu menikmati wine dan meneguknya.
Pada akhirnya, Gabriel kembali dalam mode on. ia mengambil sabuk lalu mendorong tubuh Amelia keranjang.
Saat tangannya sudah terangkat ke udara untuk mencambuk tubuh Amelia, Gabriel menurunkan kembali tangannya, ketika melihat ekspresi Amelia yang datar tak seperti biasanya.
Biasanya, Amelia akan ketakutan ketika Gabriel akan mencambuknya. Tapi sekarang tidak, Amelia bahkan menatapnya tanpa berkedip seolah tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh Gabriel pada tubuhnya.
Buukannya merintih, Amelia malah terdiam seperti tidak merasakan apa-apa, Saat Amelia terdiam dan tak merintih. Tiba-tiba, emosi Gabriel meradang. Ia selalu senang saat melihat Amelia kesakitan dan merintih. Tapi sekarang, Amelia malah tek berekpresi sama sekali, dan itu membuat Gabriel kesal.
Gabriel kembali mengangkat tangannya dan mencambuk tubuh Amelia. Bukan hanya sekali Gabriel mancambuk Amelia, melainkan berkali-kali.
Namun, Amelia masih bergeming dan tak bergerak sedikitpun. Padahal, Gabriel sudah mencambuk Amelia berkali-kali dengan cukup keras.
“Ahhhhhh!” teriak Gabriel ketika Amelia masih terdiam. Padahal seluruh tubuh Amelia sudah membiru dan mengeluarkan darah di bekas cambukanny, karena Gabriel mencambuk tubuh Amelia begitu keras.
“Dasar bodoh!” umpat Gabriel! Ia kembali lagi mencambuk tubuh Amelia, setelah itu. Ia langsung menjambak rambut Amelia hingga Amelia terbangun dan seketika itu Gabriel memutar tubuh Amelia dan ia langsung memasukannya dari belakang.
Hari ini, Amelia mengalami lagi nasib malang. Ia kembali lagi merasakan cambukan di tubuhnya. Hanya satu yang berbeda, Amelia seperti mati rasa, sepertinya, mental Amelia benar-benar sudah hancur-sehancur hancurnya, hingga ia benar-benar merasa bahwa hidup percuma mati pun tak bisa.
3 bulan kemudian
Suara riyuh helikopter terdengar dari luar. Gabriel yang sedang berada di kamar langsung membuka pintu balkon.
“Sial! daddy Menemukan ku!” ucap Gabriel ketika melihat beberapa helikopter mengepung vilanya. Ternyata, Stuard menemukannya.
Next bab ya, Stuard nemuin Amelia
Wah gila gak sih, si Gabriel.
yok komen yok.