
“Ga-Gabriel ....” ucap Amelia terbata-bata ketika Gabriel menindih tubuhnya. Wajah Amelia sudah memucat, tubuhnya bergetar hebat, ketika menyadari, bahwa ia dan Gabriel telah melakukan hal yang salah.
“Amelia kau tidak ingat semalam?” tanya Gabriel memastikan.
“A-aka aku pikir itu hanya mimpi,” jawab Amelia lagi. Tangis yang sedari tadi ditahannyw, akhirnya pecah membuat Gabriel panik.
“Amelia, tenanglah ... tenang. Jangan menangis, nanti Griysa akan mendengar tangisanmu. Sekarang kau mandi dan . Tenangkan dirimu aku akan membuatkan sarapan untukmu.” Setelah mengatakan itu, Gabriel pun bangkit dari tubuh Amelia, kemudian Ia memakai pakaiannya kembali dan keluar dari kamar Amelia.
Setelah Gabriel pergi, Amelia langsung bangkit dari berbaringnya, kemudian turun dari ranjang lalu berjalan ke kamar mandi.
Amelia terduduk di bawah kucuran shower, ia memeluk kakinya kemudian menangis sejadi-jadinya. Bagaimana mungkin ia terhanyut Dan menganggap semuanya adalah mimpi.
Bagaimana mungkin dia begitu bodoh melakukan itu bersama Gabriel. Lalu sekarang ia harus apa dan harus bagaimana. Bahkan rasanya, ia tak mampu untuk menatap Gabriel.
••••
“Daddy apa Daddy tak akan pergi ke kantor tanya?” tanya Grisya yang baru saja menghampiri Gabriel, ia bertanya karena Gabriel masih memakai pakaian casual, tak memakai jas seperti biasanya.
Gabriel yang baru saja menyiapkan sarapan di meja makan menoleh, kemudian ia menggendong Griysa, lalu berjalan ke arah sofa.
“Cantik sekali putri Daddy,” puji Gabriel pada sang putri yang sudah memakai seragam sekolahnya. Seketika itu juga, Griysa langsung mencium pipi Gabriel. Gabriel mendudukkan diri di sofa kemudian ia mendudukkan Griysa di pangkuannya.
“Daddy, kau tahu, temanku di sekolah membawa boneka yang sangat unik, dia mengejekku karena aku tidak bisa mempunyai boneka itu,” ucap Griysa. Ia mengadu pada sang ayah.
“Oh, ya. Memang temanmu mempunyai boneka apa, Daddy akan memberikan yang banyak untukmu?” tanya Gabriel, ia tampak bersemangat ketika mendengat Grisya bercerita.
“Memangnya dia memiliki boneka apa?”
“Temanku memiliki memiliki boneka chucky dan Annabelle,” ucap Griysa dengan polosnya, membuat Gabriel tertawa. Bagaimana mungkin sang anak ingin memiliki boneka pembunuh
“Kenapa Daddy tertawa, boneka itu sangat lucu,” jawabnya lagi membuat Gabriel menggeleng.
“Grisya, boneka chucky dan Annabelle itu adalah boneka pembunuh, dan kau tidak boleh memilikinya,” jawab Gabriel, ia berusaha memberi pengertian kepada sang putri. Belum Griysa menjawab ucapan Gabriel, pintu kamar Amelia terbuka, Amelia keluar dengan pakaian yang sudah rapi.
“Biar aku saja yang mengantar Griysa,” ucap Amelia tiba. Ia bahkan melewati tubuh Gabriel duduk di sofa. Bahkan, ia tidak berani untuk menatap Gabriel.
“Amelia kau tidak sarapan?” tanya Gabriel ketika Amelia berjalan ke dapur untuk mengambil susu. Sedangkan Griysa sedang sarapan di meja makan.
“Tidak, aku tidak sarapan. Aku akan makan di kantor nanti,” jawab Amelia tanpa menoleh ke arah Gabriel. Rasanya, ia tak sanggup untuk menatap Gabriel.
Gabriel menghela nafas saat melihat sikap Amelia, ia melihat kearah meja makan melihat Griysa yang sedang fokus memakan makanannya.
Kemudian, ia menarik tangan Amelia. Lalu menyudutkan Amelia dinding. “Amelia tolong jangan begini. Jangan menyalahkan dirimu sendiri,” ucap Gabriel. Ia menangkup kedua pipi Amelia memaksa Amelia untuk melihat ke arahnya.
Amelia menghempaskan tangan Gabriel, “Aku tidak bisa menjemput Griysa, tolong nanti jemput dia." jawab Amelia. Ia malah membahas hal lain, membuat Gabriel menghela nafas, sepertinya ia harus menaklukan Amelia lebih keras lagi.
Gas komen gengs
Udah 3 bab lho Mak ini ga komen ga flend