
Setelah duduk di sebrang Simma dan Stuard, Zidan dan Audrey tak lepas menatap Stuard. Zidan berpikir, bagaimana Simma bisa mengenal orang sehebat Stuard. Sedangkan Audrey berpikir, bagaimana mungkin Simma bisa dekat dengan lelaki lain sedangkan Simma memiliki gangguan panik.
"Simma!" panggil Audrey. Ia menatap Simma dengan tatapan menyelidik. Simma yang di tatap oleh Audrey pun mengerti, ia tau Audrey ingin tau siapa Stuard
"Maaf sebelumnya. aku ingin memperkenalkan diri. aku adalah calon suami Simma, dan kita akan segera menikah," ucap Stuard yang mengerti tatapan Audrey dan Zidan.
Mendengar ucapan Stuard, Zidan langsung tersedak. Sedangkan mata Audrey langsung membulat.
"Simma, bagaimana mungkin kau menikah sedang kau tengah meng ...." Audrey menghentikan ucapannya. Ia mengigit bibirnya saat tak sengaja berteriak karena terkejut.
Stuard yang mengerti ketakutan Audrey. Langsung tersenyum. Ia mengelus perut Simma. "Kami akan menikah sebelum kedua anak kami lahir."
Mendengar ucapan Stuard, bukan hanya Zidan dan Audrey yang terkejut, Simma pun juga terkejut.
Mereka sudah sepakat untuk menikah setelah bayi Simma lahir tapi kenapa sekarang ....
"Tak perduli siapa pun ayahnya. Mereka tetap anak-anakku. Dunia hanya boleh tau, akulah ayah mereka," ucap Stuard saat Zidan dan Audrey masih tak lepas memandangnya.
Sejenak, Audrey menatap Simma lekat-lekat. Hati kecilnya malah menyetujui Simma dan Stuard. Ia mengenal Simma lebih dari siapa pun di dunia ini dan ia bisa melihat, Simma bahagia bersama Stuard.
Mendengar ucapan Stuard, Zidan tampak berpikir, Saat mengetahui bahwa Josh lah yang menghamili Simma dan malah menghina Simma.
Zidan memang sudah hilang ke respekannya pada Josh dan sedikit kecewa pada Josh. Karena Josh harus membuat seorang wanita bernasib seperti ibunya dan Zidan adalah orang yang paling bisa merasakan, bagaimana jika anak-anak Simma tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah.
••••
Saat Josh menatap meja yang di tempati Simma, Ada yang menepuk pundaknya. Ia menoleh dan ternyata Briana. Tubuh Josh menegang, ia terpergok berbohong lagi. Saat tadi, Briana meminta Josh agar menemaninya dan Josh berkata tak bisa karena tak enak badan.
"Josh, ayo berbicara di luar!" ajak Briana. Ia berusaha tersenyum, walau hatinya remuk redam. Briana mencapai di titik lelahnya, Ia tak ingin terus bertahan di dalam rasa sakit. Ia sadar, cinta Josh bukan untuknya lagi.
Setelah keluar dari caffe Simma, Briana mengajak Josh untuk berbicara di dalam mobil Josh. Mata Briana sudah memanas, rasanya ia ingin menangis sekencang-kencangnya.
Briana menghela napas lalu menghembuskannya secara perlahan. Ia merogoh tasnya dan mengambil kotak cincin, lalu menaruhnya di depan Josh.
"Josh, mari kita akhiri sampai di sini," ucap Bri. Membuat Josh langsung terperanjat kaget dengan apa yang di katakan Bri.
"Bri ...." Lirihnya, membuat Bri tersenyum getir.
"Josh, hatimu bukan milikku lagi. Jadi untuk apa aku terus bertahan berpura-pura baik-baik saja. Terimakasih atas semuanya." Setelah mengatakan itu, Briana keluar dari mobil Josh karena ia tak sanggup menahan tangisnya.
Saat keluar dari mobil Josh, tangis Briana pecah. Cinta yang selama ini ia perjuangkan dan selama ini ia simpan dengan penuh kesabaran harus berakhir, dengan hal yang sangat menyakitkan.
Scroll lagi iesss
Mau aku bikinin kisah Briana kah? comen ya, kisah Briana pasti bikin kalian ga kalah panas dinginnya wkwkwk. Kisah Briana masih tetep di nt ya dan di tulis di lapak ini