
Gabriel masuk ke ruangannya, kemudian melonggarkan dasinya. Ia mendudukan tubuhnya di sofa, kemudian memanjangkan kakinya dan menaikkan kakinya ke meja
Setelah selesai meeting, Ia memutuskan langsung pergi ke ruangannya, karena rasanya tubuhnya masih lelah dan rasanya mood Gabriel masih belum berubah.
Tiba-tiba kantuk menyerangnya. Ia mengangkat tangannya, kemudian menaruhnya di kening. Lalu setelah itu ia memejamkan matanya, dan terlelap.
”Gabriel tolong!” Saat baru saja terlelap, Gabriel kembali membuka matanya, saat memimpikan Amelia meminta tolong. Nafas Gabriel terengah-engah, ia terperanjat kaget, kemudian memegang dadanya yang terasa sesak.
“Amelia!” panggil Gabriel dengan lirih. Ia mengusap wajah kasar, kemudian menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Ia tidak ingin dulu pulang sebelum ia bisa menetralkan emosinya. Ia akan pulang ketika emosinya sudah stabil.
Gabriel bangkit dari duduknya, kemudian berjalan kearah meja. Lalu, ia menarik kursi kemudian mendudukkan diri di kursi kerjanya dan mulai membuka laptop dan memulai pekerjaan.
Namun, semakin ia mengelak. Hatinya semakin gelisah. Tiba-tiba wajah Amelia menari-nari di otaknya Sejenak, Gabriel terdiam entah kenapa tiba-tiba dirinya merasa resah.
“Biasanya Amelia datang tepat waktu.” Tiba-tiba, ucapan Nick saat tadi menelpon, melintas di otaknya. Ia pun bangkit dari duduknya kemudian memakai jasnya kembali lalu menyambar kunci mobil dan keluar dari ruangannya.
Pada akhirnya, Gabriel berhasil mengalahkan egonya, hatinya menang, dan akhirnya ia memutuskan untuk pulang.
Gabriel melangkah dengan langkah yang cepat .Entah kenapa ia merasa ada yang tak beres. Saat berjalan, nafas Gabriel semakin tidak beraturan, ketika mengingat ucapan Nick yang mengatakan Amelia tak datang ke kantor.
Beberapa detik lalu, Gabriel masih kesal pada Amelia. Sekarang, rasa kesal itu hilang begitu saja berganti dengan rasa khawatir yang luar biasa.
“Ayolah Amelia angkat!” ucap Gabriel, ketika ia menyetir. sedari tadi, saat mulai menyetir. Ia berusaha menelpon istrinya. Panggilannya tersambung tapi tidak ada yang mengangkatnya, membuat keresahan Gabriel semakin menjadi-jadi.
Hingga akhirnya, ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang sangat penuh. Ia tak peduli dengan dirinya. Bahkan, beberapa kali ia hampir menabrak pembatas jalan dan setelah melewati perjalanan yang cukup menegangkan akhirnya Gabriel sampai di basement apartemen .
Ia langsung turun dari mobil dan langsung berlari kemudian menuju unit apartemen miliknya, dan setelah sampai, ia langsung menekan kode kemudian masuk.
Nafas Gabriel terasa memendek, ketika sekelilingnya belum berubah. Bahkan, tirai-tirai belum terbuka.
“Amelia ... Amelia!” panggil Gabriel dengan panik saat masuk kedalam apartemnnya. Saat ia akan berjalan kekamar, langkahnya terhenti ketika ia tersandung sesuatu. Ternyata, Gabriel menyandung kaki Amelia.
Keringat dingin langsung keluar dari tubuh Gabriel, ketika meraba wajah Amelia yang begitu dingin, pipi Amelia sangat putih dan wajahnya begitu pucat, Amelia seperti seorang mayat.
Rasa panik, menjalar dalam diri Gabriel, kala menyadari bahwa Amelia tidak sadarkan setelah ia pergi dari apartemen hingga saat ini.
“Amelia ... Amelia!” panggil Gabriel. Sejenk otak Gabriel kosong seketika, jiwanya seperti di renggut paksa dari dadanya. Secepat kilat, Gabriel langsung menggendong Amelia lalu berlari ke arah luar untuk membawa Amelia ke rumah sakit.
••••
Gabriel berusaha masuk kedalam. Tapi, beberapa perawat, menghadang Gabriel di pintu. Hingga Gabriel hanya bisa terdiam menunggu dokter untuk keluar.
Sata ini, Amelia sedang di periksa oleh dokter, sedangkan Gabriel menunggu diluar. Saat tadi datang ke rumah sakit, Gabriel seperti orang yang kesetanan, ia membuat gaduh di IGD Karena dokter tak kunjung datang. Dan setelah Amelia di bawa masuk kedalam ruang pemeriksaan, Gabriel memaksa untuk ikut masuk. Tapi dokter tak mengijinkan karena sedari tadi Gabriel tak berhenti berteriak hingga akhirnya dokter menyuruh perawat menunggu di pintu agar bisa menghadang Gabriel.
Tak lama, pintu terbuka. Dokter keluar dari ruangan dan Gabriel langsung menghampiri dokter.
“Bagaimana keadaan istriku?” tanya Gabriel. Ia berbicara dengan nada yang pelan, karena rasanya tubuhnya sudah sangat lemas, dan jujur saja ia tak sanggup mendengar apa yang terjadi pada istrinya.
“Kondisi istri anda sangat lemah, begitupun kandungan istri anda,”jawab Dokter.
Dunia Gabriel seakan berhenti berputar saat mendengar ucapan dokter, ia menatap Dokter dengan tatapan tak percaya, kini wajah Gabrik lebih memucat dari sebelumnya.
“Me-mengandung?” lirih Gabriel, rasanya ia tak sanggup untuk terus menopang tubuhnya.
“Kondisi kandungan istri anda sangat lemah, beruntung anda membawanya tepat waktu dan ....” Dokter menghentikan ucapannya ketika tubuh Gabriel ambruk di lantai, dan Gabriel tidak sadarkan diri.
Ga boleh hate ke otor, ya. Nih otor udh up 3 bab. Inget ya gengs ini konflik terakhir sebelum mereka benar-benar bahagia. Awas aja kalau komen “Kok, muter-muter.” Note, enggak muter-muter ya gengs, ini cuman sebagai perantara menyatukan mereka
Gas komen gengs, ga komen up satu bab besok 🤣