
Setelah keluar dari perusahaan Zayn, Josh menjalankan mobilnya untuk pergi ke caffe Simma.
Dan di sinilah dia berada, di depan caffe Simma.
Ia terus menatap caffe itu dari luar, terlihat cukup ramai. Namun, Josh masih bisa melihat kondisi di dalam lewat kaca.
Beberapa pelayan sibuk memberikan pesanan dan mencatat pesanan. Tak, lama ... Matanya menangkap Simma keluar dari Caffe untuk memberikan pesanan kepada pelanggan yang menunggu di luar.
Melihat Simma, jantung Josh berdebar. Ia tak tau, bahwa Simma sudah sembuh dari gangguan panik, hingga Simma berani menghadapi banyak orang.
Mungkin, Simma bukan sudah sembuh. Tapi, ia hanya memberanikan dirinya agar tak terjebak dalam ganguan panik yang ia derita.
Saat ini, Simma terlihat sangat cantik, ia dengan rambut di gelung serta dres polos yang terlihat mahal.
Saat Simma masuk kedalam caffe, Josh menyenderkan tubuhnya kebelakang. Ia ingin masuk. Namun, ia ragu.
Tapi egonya kalah dengan akalnya. Ia mengikuti hatinya, dan ia pun turun dari mobil untuk masuk kedalam caffe Simma.
Saat masuk, Josh sengaja duduk di dekat pintu agar bisa melihat ke area belakang. Matanya mencari-cari Simma. Namun, ia tak menemukan Simma di mana pun. Tak lama, seorang pelayan datang ke hadapan Josh dan membawakan buku menu.
Setelah memesan, matanya menangkap Simma sedang membawa nampan untuk meja lain, Josh yang gugup langsung memalingkan tatapannya ke arah lain, berharap Simma tak melihatnya.
Saat Simma sudah selesai, lonceng di dekat pintu berbunyi, pertanda akan ada tamu yang masuk. Simma pun berjalan ke arah pintu untuk mengucapkan selamat datang.
"Selamat dat ...." Simma menghentikan ucapannya saat melihat siapa tamu yang datang. Tiba-tiba wajahnya menengang karena tamu yang datang ke caffe adalah Briana.
Ya, walau Josh berkata ia tak pernah menyentuh Simma dan ada pria lain yang mengakui bahwa anak yang di kandung Simma adalah anaknya. Tapi feeling Briana mengatakan bahwa lelaki itu dan Josh berbohong.
Belum lagi, setelah ia menyarankan pernikahan di percepat pada Josh, Josh malah kembali menjauh. Susah di hubungi dan hal itu pula yang mendorong Bri datang ke caffe Simma. Ia ingin berbicara 4 mata dengan Simma. Setidaknya, sebelum ia melangkah lebih jauh. Ia ingin memastikan semuanya pada Simma secara langsung.
Tentu saja sebelum menemui Simma ia mencari tau tentang Simma, hingga akhirnya ia bisa tau tentang caffe Simma.
Josh yang duduk tak jauh dari pintu refleks menoleh saat mendengar suara Briana, dan seketika ketiga orang yang terlibat hubungan sangat rumit itu saling pandang satu sama lain.
Briana menatap Josh dengan tatapan tak percaya, ia tak menyangka akan melihat Josh di caffe milik Simma. Josh pun tak kalah terkjutnya dengan Briana, ia bisa melihat kekecewaan di mata calon istrinya.
Simma yang menyadari bahwa Josh berada di caffenya membulatkan matanya. Lalu seperti biasa, perutnya terasa di aduk-aduk saat melihat Josh, ia langsung mual dan ia langsung meninggalkan Josh dan Briana dan berjalan cepat ke kamar mandi.
•••
Simma berjalan dengan gontai menuju apartemennya. Tubuhnya begitu letih, hari ini banyak sekali kejadian yang tak terduga.
Saat ia menekan kode akses apartemennya. Keningnya bertaut saat melihat sepatu hils di depan pintu.
Lalu ia masuk kedalam, dan ia di sambut oleh Audrey yang sedang memegang susu hamil dan menelitinya. Rupanya, setelah kembali ke Rusia Audrey langsung pergi ke apartemen Simma, karena seminggu ini, Simma tak bisa di hubungi.
Simma tak bisa mengelak lagi, Audrey pasti sudah tau bahwa ia sedang mengandung.
"Kau sudah pulang?" tanya Audrey saat melihat Simma.
Simma menunduk, ia tak berani menatap Audrey.
Simma ....
Di bab setelah ini ada bab promosi, ya, jadi bisa di skip kalau ga mau baca. Udah update 3 bab ye bun, jadi jangan bilang up dikit.
Hate komen blok 😎
Titik puncaknya bentar lagi wkwkwwkwk
Kesian si Josh, eh tapi engga deng aku ga kasian sama si Josh wkwwk