
Setelah mengatakan itu, Gabriel menunduk ia tak berani menatap Amelia, karena ia tahu reaksi Amelia pasti akan seperti ini. Amelia mengerjap, kemudian menggeleng gelengkan kepalanya.
“Gabriel, apakah kau bercanda?” tanya Amelia, seketika Gabriel mengangkat kepalanya hingga mata Amelia dan mata Gabriel saling mengunci.
“Tidak Amelia, aku tidak bercanda. Aku ingin menebus semua kesalahanku dengan menjadi suami yang baik untukmu dan ayah yang baik bagi Grisya,” ucap Gabriel lagi. Kali ini Amelia tertegun, karena ia bisa melihat ketulusan dari mata Gabriel.
Amelia menghela nafas, kemudian menghembuskannya. “Gabriel, aku rasa kau salah paham dengan kata maaf yang aku lontarkan kepada mu,” ucap Amelia, membuat Gabriel kembali mengangkat kepalanya.
“Maksudmu?”
“Gabriel, aku memaafkanmu. Tapi bukan berarti aku menerima semua tentangmu. Aku mengajakmu berteman. Tapi aku tidak ingin terlalu dekat denganmu. Tak perlu dijelaskan lagi, kau tahu bukan alasannya. Kau bisa menjadi ayah yang baik, tanpa harus menikah denganku. Dan aku mohon, pahami ini. Aku tidak ingin terlalu jauh terlibat denganmu, begitupun sebaliknya. Aku rasa, tak ada lagi yang harus kita bicarakan, pulanglah ini sudah larut,” jawab Amelia. Tanpa mendengar jawaban Gabriel lagi, Amelia pun bangkit dari duduknya dan meninggalkan ruang tamu.
Setelah Amelia pergi, Gabriel masih terdiam dengan rasa sakit yang tak bisa didefinisikan. Gabriel tidak kecewa dengan penolakan Amelia. Karena ia tahu, Amelia pasti akan menjawab demikian.
Hanya saja, ia kecewa pada dirinya sendiri saat melihat Amelia menatapnya dengan tatapan terluka, entah Amelia bisa memaafkannya atau tidak..Tapi ia yakin, Amelia belum benar-benar memaafkannya.
Setelah lama terdiam, Gabriel pun bangkit dari duduknya kemudian keluar dari kediaman Amelia. Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Gabriel sampai di mansion, ia langsung masuk kemudian berjalan ke arah kamar.
Ia membuka pintu kamar, kemudian tersenyum ia sangat merindukan kamar ini. Ia berjalan ke arah keranjang, kemudian membanting tubuhnya di ranjang. Rasanya, hari ini begitu melelahkan.
Ia bangkit kembali, kemudian berjalan ke walk in closet untuk berganti pakaian, lalu kembali membaringkan diri di ranjang.
Gabriel berguling kesana kemari, mencoba untuk memejamkan matanya. Tapi tak bisa, ia merasa gelisah, Amelia dan Grisya selalu membayanginya.
Ia pun bangkit dari duduknya, kemudian pergi keluar untuk ke mini bar untuk meminum wine. Saat sudah duduk di kursi, Gabriel mengambil wine, baru saja ia akan menuangkan Wine ke gelasnya. Ia menghentikan gerakannya, kemudian menggeleng gelengkan kepalanya.
•••
“Tidak ... Tidak, dia bukan Daddyku. Dia orang jahat!” teriak Grisya ketika bersembunyi di belakang tubuh Stuard.
Gadis kecil itu diberitahu oleh seorang kakek, bahwa Gabriel adalah ayahnya, dan setelah mengetahui itu, anak kecil itu pun bersembunyi di belakang tubuh Stuard lalu berteriak histeris.
“Grisya, itu benar Daddymu, sayang,” ucap Stuard. Grisya menggeleng gelengkan kepalanya.
“Tidak ... tidak, dia bukan daddyku dia hanya orang jahat yang telah menjambakku dan menjewer kupingku!” Teriak Grisya lagi.
Ia berteriak di belakang tubuh Stuard. Tapi sesekali ia mengintip dan melihat wajah Gabriel.
Stuard melepaskan tangan Grisya yang sedang berada di kakinya, kemudian ia bergeser agar Grisya tak bersembunyi lagi di belakang tubuhnya.
Saat tangan Grisya terlepas, dengan cepat Stuard langsung berlari keluar kamar meninggalkan Gabriel dan Grisya.
“Kakek!” teriak Grisya. Seketika gadis kecil itu menangis histeris, Dengan cepat kilat, Gabriel berjalan ke arah Grisya kemudian menggendong putrinya.
“Lepasss...kau jahat!” Grisya berteriak histeris di dalam gendongan Gabriel. “Kakekk tolonggg ... Dia akan menjambak rambutku lagi!” teriak gadis kecil itu, ia menjambak rambut Gabriel dan meronta semakin keras.
“Geysa tenanglah. Daddy tidak akan ....” Ucapan Gabriel terhenti, ia meringis karena kaki Grisya mengenai senjatanya.
Gas lah tinggalin komen.