Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
136


Audey yang sudah melangkah kembali menghentikan langkahnya saat mendengar suara yang memanggilnya dan kemudian ia menoleh.


"Kau bisa, Audrey, Kau bisa," lirih Audrey saat Zidan berjalan ke arahnya.


Jujur saja, getaran itu masih ada, rasa untuk Zidan masih tertanam di hatinya. Tapi sepertinya, selama beberapa bulan kedepan ia harus menguatkan hatinya agar rasa untuk Zidan tak semakin dalam.


"Selamat pagi, Tuan Zidan," balas Audrey saat Zidan mendekat.


"Ayo masuk!" ajak Zidan, ia mendahului Audrey dan Audrey berjalan di belakangnya.


Saat berada di dalam lift, Audrey menyenderkan tubuhnya kebelakang, sedangkan Zidan berdiri di depan Audrey.


Melihat Zidan yang berdiri di hadapannya, jantung Audrey berdegup dua kali lebih cepat, selama mengenal Zidan, ini pertama kalinya, Audrey berduaan dengan Zidan.


"Zidan!" panggil seseorang dari arah belakang. Zidan dan Audrey yang baru saja keluar dari lift langsung menoleh ke arah belakang.


"Ane!" lirih Zidan, saat Mariane yang memanggilnya. Rupanya, Mariane sudah menunggunya sedari tadi.


Mata Audrey membulat sempurna saat melihat Mariane memeluk Zidan. Ia pun dengan segera memalingkan tatapannya ke arah lain.


Bukan hanya Audrey yang terkjut, Zidan pun juga terkejut. Ia merasa tak nyaman saat Mariane memeluknya di depan Audrey.


"Kapan kau sampai?" tanya Zidan, ia berusaha melepaskan pelukan Mariane. Entah kenapa Zidan ingin sekali melihat reaksi Audrey.


"Aku dari bandara langsung kemari. Bolehkan aku ikut istirahat di kamar yang berada di ruanganmu?" tanya Mariane membuat Zidan semakin membulatkan matanya. Entah, kenapa ia takut Audrey salah paham terhadapnya. Padahal, ia dan Audrey tak mempunyai hubungan apa pun.


"Kau tunggullah di ruanganku. Aku akan berbicara dengan sekretarisku dulu," ucap Zidan.


Mendengar ucapan Zidan tentang sekretaris, Mariane langsung melihat ke arah Audrey.


"Honey, sekretarismu wanita sekarang?" tanya Mariane. Ia melihat tampilan Audrey dari bawah sampai atas seolah menelisik penampilan Audrey.


"Ane!" ucap Zidan. Ia merasa tak terima saat Mariane memandang Audrey dengan tatapan tak suka.


Tanpa menjawab ucapan Zidan, Mariane pun melangkahkan kakinya menuju ruangan Zidan.


"Mari ikuti saya, Nona Audrey!" ajak Zidan. Ia mendahului berjalan dan menuju ke ruangan Audrey.


"Saya sudah mengerti semua, Tuan Zidan," jawab Audrey.


Zidan ingin sekali mengajak Audrey berbincang-bincang sejenak. Tapi, melihat wajah Audrey yang serius, Zidan mengurungkan niatnya.


"Selamat bekerja, Nona Audrey. Kau bisa mengetuk ruanganku jika kau ingin bertanya sesuatu," ucap Zidan lagi.


Audrey mengangguk, "Terimakasih, Tuan Zidan. "


Setelah Zidan pergi, Audrey pun mendudukan dirinya di kursi kerjanya. Ia memegang dadanya yang terasa nyeri.


Tak lama, ia menggeleng, menyadarkan dirinya sendiri agar tak terlalu larut dalam perasaannya.


•••.


Kelly terdiam, ia memandang kosong kuas yang berada di tangannya. Karena sebentar lagi hari ayah akan tiba, maka sang guru menyuruh semua murid untuk melukis ayah masing-masing.


Dan Kelly hanya terdiam. Saat mendengar perintah gurunya. Ia tak tau harus melukis siapa.


"Kelly!" panggil sang guru yang melihat Kelly terus melamun.


Kelly tersadar, "Ya, Bu," jawab Kelly.


"Kenapa kau belum memulainya, Sayang?"


"Aku akan mulai, Bu," jawab Kelly. Ia pun mulai menggerakan kuasnya. Tanpa sadar, bocah kecil itu melukis wajah Zidan.


Saat semuanya sudah selesai, Semua murid pun di panggil untuk kedepan, untuk menunjukan lukisan mereka.


Saat Arleta akan maju, langkahnya terhenti saat melihat lukisan milik Kelly


"Kelly, kenapa kau melukis kakaku?" tanya Arleta.


Kelly ....,


Bab terbaru Dokter Bunga udah update ya.