Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
52


Zidan memandang wajah Zayn yang sedang terbaring, Karena punggung Zayn terluka, Zayn di baringkan dengan poisisi miring, sehingga kini wajah Zayn menghadap ke wajah Zidan.


Zayn menatap Zidan lekat-lekat. Ada rasa yang tak biasa dalam dadanya saat menyadari bahwa Zayn juga sedikit mirip dengan ibunya, Aida.


Zidan membuka dompetnya dan mengambil foto ibunya, lalu membadingkannya dengan Zayn. Hidungnya Zayn sungguh mirip dengan ibunya.


Zidan bingung, bagaimana bisa darahnya sama dengan darah Zayn. Semua terasa berputar-putar di otaknya.


...Jika memang ada rahasia yang daddy sembunyikan dari kita, dan ternyata kita adalah sedarah, aku harus bagaimana terhadap mu, Kak. Haruskah aku menyebutmu anak haram juga sama seperti selama ini kau menyebutku anak haram. Haruskah aku membencimu, atau haruskah aku melupakan semua perlakuan mu padaku selama ini....


Zidan bergumam dalam hati, saat melihat wajah Zayn yang pucat. Jika memang mereka sedarah, haruskah Zidan memaafkan semua perlakuan kakanya selama ini.


Tiba-tiba, Zayn meringis pertanda akan sadar. Zidan dengan segera bangkit dari duduknya dan berlari keluar ruang rawat Zayn.


Saat Zayn masuk kedalam ruangan Gia, Zidan pun melihat semua perlakuan Zayn pada Gia yang sedang mencium kening dan perut Gia.


Bagai luka yang menganga lalu disiram cuka, perih, sangat perih. Kenapa melihat Zayn memerlakukan Gia dengan baik malah membuat hati Zidan sakit. Zidan pikir, Gia hanya salah satu koleksi wanita Zayn, yang hanya di manfaatkan oleh kakanya untuk menyakitinya. Ia pikir, Zayn akan memerlakukan Gia layaknya memerlakukan wanita yang hanya menghangatkan ranjangnya.


Tapi, Zidan salah, Zidan bisa melihat bahwa Zayn benar-benar perduli pada Gia. Hatinya semakin teriris kala melihat Zayn mencium perut Gia, dan Zidan sadar bahwa Gia sedang mengandung anak kakanya, dan semakin hancurlah perasaannya.


tak bisakah tuhan berpihak padanya sedikit saja ....


°°°


Dan setelah beberapa hari berlalu, Zidan pun mendatangi makam sang ibu, hanya di makam sang ibu ia bisa bercerita tentang semua keluh kesahnya.


"Selamat sore, Bu," ucap Zidan. Ia menaruh buket bunga ke pusara makam sang ibu. Zidan duduk memegang nisan sang ibu dan menciumnya. Matanya mengembun, setetes air mata jatuh dari pelupuk matanya.


"Bu seandainya ibu masih bersamaku, aku akan menjadi anak yang sangat bahagia. Ibu, beberapa hari lalu, aku baru saja mendonorkan darahku untuk Zayn. Seandainya ibu masih di sini, aku bisa bertanya pada ibu, tentang hubungan kami yang sebenarnya. Seandainya perasaanku benar, dia adalah kaka kandungku dan putra ibu, aku harus bagaimana bu? haruskan aku membencinya?" Zidan tertunduk sambil mengurut keningnya dia terisak, hatinya dilema.


Zidan tersadar saat mendengar suara daun kering yang diinjak, Ia pun menoleh.


Ternyata ia melihat Gia yang sudah berbalik, dan Zidan yakin Gia mendengar apa yang baru saja dia bicarakan di depan makam sang ibu.


"Berhenti!" ucap Zidan pada Gia. Entahlah, rasanya ia belum sanggup memanggil nama Gia.


Gia memejamkan matanya saat Zidan memangilnya, Ia pun berbalik.


Zidan menatap Gia dengan tatapan dingin dan datar. Rasanya masih sangat sakit ketika ia melihat wajah Gia, bayangan saat Gia tidur nyaman di sisi Zayn kembali menari-nari diotaknya.


"Zi-Zidan."


"Jika kau mendengar apa yang ku katakan barusan, lupakan! jangan pernah mengatakan apa yang kau dengar pada siapa pun!" Tanpa mendengar jawaban Gia. Zidan pun berlalu, ia melewati tubuh Gia dan keluar dari area pemakaman.


Gia diam terpaku, ia bisa melihat mata kesedihan dan luka di mata Zidan, Gia merasa menjelaskan pada Zidan tentang hubungannya dengan Zayn pun percuma.


Biarlah Zidan membencinya dan bisa mendapat perempuan yang lebih baik darinya.


Setelah pulang dari makam, Gia pun kembali ke apartemen. Ia ingin mengistirahtkan tubuhnya.


Saat dia masuk ke apartemennya, matanya terbelalak saat melihat Zayn tengah duduk di sofanya.


"Untuk apa kau kemari?" teriak Gia. Ia menghampiri Zayn dengan emosi. Bagiamana Zayn bisa masuk ke apartemennya.


Zayn ....