Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
231


Napas mereka masih terengah-engah, tubuh Sturd roboh di atas tubuh istrinya, tapi ia memakai tangannya untuk menahan tubuhnya, agar tak sepenuhnya menindih tubuh istrinya.


Ia mencium kening Simma dan seluruh wajah istrinya. Menyalurkan rasa sayang dan rasa terimakasihnya, ia benar-benar merasa puas..Bahkan Saat Simma tak terlalu agresif saja mampu membuat Stuard begitu melayang.


"A-a-apa kau puas, Dad?" tanya Simma saat Stuard menggulingkan tubuhnya ke samping.


Stuard tersenyum, ia mengelus perut Simma lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. "Aku sangat puas. Kau begitu nikmat dan aku ingin melakukannya lagi dan lagi," jawab Stuard. Ia mendekatkan wajahnya pada leher Simma dan mengendus lagi leher istrinya.


Simma menggeleng samar saat merasakan kejantanan Stuard kembali menegak. Bahkan, Stuard sudah kembali menggesek-gesekan senjatanya pada paha Simma.


"Dad, apa kau ingin lagi?" tanya Simma, membuat Stuard langsung mengangkat kepalanya.


"Aku sangat ingin lagi. Tapi aku harus berkonsultasi dengan dokter. Aku tak ingim hasratku menyakiti anak-anak kita," jawab Stuard. Ia mengelus pipi Simma.


"Dad, apa kau titisan Dewa?" kata Simma tiba-tiba. Kenapa ia bisa mendapatkan lelaki sesempurna Stuard.


Stuard tertawa. Ia mencium bibir Simma, lalu membawa Simma kedalam dekapannya. "Aku adalah pelindungmu dan anak-anak kita," jawabnya.


Simma tersenyum. "Dad, aku mengantuk," ucap Simma saat dalam dekapan Stuard. Rasanya sangat nyaman dan begitu nyaman.


••••


"Dad, haruskah aku ikut ke kantormu?" tanya Simma ketika ia merebahkan kepalanya di dada Stuard.


Saat ini, mereka sedang berada di dalam mobil, Simma menaruh tangannya di pinggang Stuard, sedangkan Stuard merangkul tubuh Simma.


"Temani aku bekerja, Sayang. Setelah itu aku akan menjadi barista di caffe mu," jawab Stuard. Ia mencium kening Simma bertubi-tubi.


"Kenapa kau begitu sempurna, Dad," lirih Simma. Selain pemimpin prusahaan. Stuard bisa menjadi barista, fotografer dan lain-lain. Simma mengelus pipi Stuard, lalu tangannya turun untuk mengelus dada bidang suaminya.


"Jangan melakukannya, Sayang." Bisik Stuard saat Simma mengelus dadanya.


"Dad!" pekik Simma ketika melihat tonjolan diantara kedua paha suaminya. Ia memberanikan memegang senjata Stuard hingga Stuard menggeram.


Stuard menekan tombol di sisinya, lalu muncul penyekat antara kursi depan dan kursi belakang. Hingga sekretarisnya tak tau apa yang terjadi di belakang.


"Dad!" pekik Simma.


"Sayang, tunggangi aku! Aku butuh dirimu," lirih Stuard. Dengan suara serak. Setiap sentuhan yang Simma lakukan, mengantarkan gairah hebat di diri Stuard.


Mata Simma membulat, Namun saat ia melihat Stuard seperti orang ke sakitan, ia pun menurut. Ia naik ke pangkuan Stuard, membuat Stuard langsung menggesek-gesekan miliknya.


Stuard tak menyia-nyiakan kesempatan, ia langsung menyambar payudara Simma yang tersaji di depannya.


"Dad!" jerit Simma tertahan. Ia menjerit saat milik Stuard sudah bertemu dengan miliknya.


Stuard mengadahkan kepalanya ke belakang, menikmati yang telah ia rasakan. Sensasi nikmat itu semakin bertambah kala mereka bercinta di atas mobil yang sedang melaju.


•••


Briana melihat keluar jendela, menunggu Josh dengan harap-harap cemas. sudah satu jam berlalu, Josh belum juga tiba di caffe yang sudah mereka sepakati.


Briana mengirim pesan pada Josh dan meminta Josh untuk bertemu. Ia ingin menyampaikan sesuatu pada Josh.


Tak lama, terdengar suara kursi bergeser, membuat Briana tersadar, kemudian menoleh.Ternyata Josh sudah datang.


"Kenapa kau ingin menemuiku, Bri?" tanya Josh dengan dingin. Ia menatap Bri dengan datar. Tapi, itu hanya berpura-pura. Ia sengaja bersikap dingin pada Bri agar Bri membencinya dan bisa secepatnya melupakannya.


Tatapan Josh begitu menusuk pada jantung Bri, seakan menguliti Bri hidup-hidup. Rasanya begitu sakit, amat menyakitkan.


Tanpa membalas ucapan Josh, Bri mengambil seseutu dari tasnya dan mengambil amplop lalu memberikannya pada Josh.


"Be-Bri," ucap Josh terbata-bata. di saat membuka dan membaca isi amplop tersebut. Ekpresi dingin yang tadi di tunjukan oleh Josh berganti dengan ekpresi bingung.


"Seperti yang kau lihat, Josh. Aku sedang mengandung anakmu," ucap Briana.


"Ta-tapi, a-aku sedang memperjuangkan Simma dan anak-anakku," lirih Josh tanpa sadar. Ia langsung menyuarakan isi hatinya saat mengetahui Briana hamil. Ia sama sekali tak berniat mengatakan hal tersebut, ia mengucapkannya tanpa sadar


Nyess


Entah sebesar apalagi hancurnya perasaan Bri saat mendengar ucapan Josh, bahkan Bri merasa seluruh tubuhnya terasa lemah, kakinya terasa tak bertenaga dan jangan di tanya kondisi perasaanya. Padahal, ia sempat berharap Josh mengatakan hal lain. Tapi yang terjadi ....


"Aku tau, Josh. Aku sama sekali tak memintamu untuk bertanggung jawab. Aku hanya ingin kau tau bahwa aku mengandung anakmu." Setelah mengatakan itu, Bri pun bangkit daru duduknya.


"Kalau begitu aku pergi," ucap Bri, ia pun meninggalkan Josh yang sepertinya masih sedang bingung .


Kisah Briana pasti bikin kalian kejer wkwk tungguin ya. Tetep di sini, kok di lapak ini.,


Hate komen blok 😎😎