Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
259


Regard menatap cahaya bulan sambil tersenyum misterius. Ia menggoyang-goyangkan gelas di tangannya, lalu menengguk isi minuman tersebut.


Ia melihat gelas tersebut dengan senyum sumringah, namun juga misterius. Warna air yang berada di dalam gelas itu merah pekat, sedikit amis dan berbau menyengat. Tapi, Regard seolah tak perduli. Ia begitu menikmati minuman yang ada di tangannya.


"Sebentar lagi, aku akan mempersembahkan mereka untukmu yang Mulia," gumam Regard dengan lirih. Jiwa iblisnya mulai keluar saat membayangkan sebentar lagi, akan ada tumbal baru yang akan ia persembahkan.


Ponsel di mejanya berdering. Ia pun berbalik dan mengambil ponsel tersebut.


"Bagus. Ikat mereka dan taruh di tempat biasa, aku akan menyusul sebentar lagi," ucap Regard. Ia kembali menutup panggilannya, lalu memasukan ponselnya kedalam saku dan keluar dari ruang kerjanya.


•••


Brina mengerjap. Ia membuka matanya. Kepalanya berdenyut nyeri, tenggorokannya terasa kering, ia pun merasa seluruh tubuhnya begitu remuk


Tak lama, ia melihat kebawah. Matanya membulat sempurna saat melihat bahwa tubuhnya terikat. Otaknya berusaha berpikir tentang apa yang terjadi padanya.


Tak lama, ia mengingat semuanya. "Ariana!" teriak Briana saat mengingat semua. Ia melihat kesamping, matanya terbelalak saat melihat Ariana juga sama seperti dirinya. Sama-sama terikat.


Tangis Briana pecah seketika. "Ariana! Ariana!' panggil Briana. Tapi gadis kecil itu tak terbangun, Ariana tetap setia menutup matanya.


Briana meronta, Namun tak lama ia meringis. Ternyata tali yang mengikatnya bukan tali biasa, melainkan tali kawat yang sangat tajam.


"Ariana! Ariana!" teriak Briana. Ia mencoba membangunkan Ariana. Namun, Sayang. Ariana tak terbangun karena teriakannya.


Ia pun berusaha menggeser kursi yang di dudukinya agar ia bisa mendekat ke arah Ariana. Namun, tetap tak bisa. Ternyata kursi yang di dudukinya adalah kursi yang terbuat dari besi.


Tuhan selamatkan aku dan kedua anakku.


Briana hanya mampu terisak. Ia berusaha menenangkan dirinya agar perutnya tak semakin perih.


Tak lama terdengar suara isakan dari samping, Briana menolah, ternyata Ariana sudah membuka matanya.


"Ariana!" panggil Briana. Seketika Ariana menoleh. "Mommy, tubuhku sakit," ucap Ariana sambil terisak. membuat dada Bri semakin sesak. Bahkan, kini Ariana memanggil Mommy kembali pada Briana. Gadis kecil itu sungguh ketakutan hingga ia melupakan rasa bencinya pada Briana.


"Ariana, tenang sayang. Mari berdoa agar kita bisa selamat dari sini," ucap Briana. Hanya itu yang bisa Briana ucapkan pada putrinya. Ia bisa melihat bahwa tubuh Ariana bergetar.


Tak lama, terdengar pintu terbuka membuat Ariana dan Briana menoleh, munculah sosok Regard dengan mengunakan jubah hitam


"Da-Daddy ...." ucap Briana terbata-bata. Hancur, Briana sungguh hancur saat melihat sang ayah berjalan ke arahnya sambil tersenyum sinis padanya. Briana merasakan tubuhnya melemas, saat menyadari bahwa ini ulah sang ayah.


Selama ini, Briana memang tak mendapatkan kasih sayang dari Regard. Ia juga menganggap Regard bersikap tegas dan kasar padanya hanya upaya Regard untuk mendidiknya. Tapi, hari ini, Briana menyadari sesuatu. Bahwa lelaki di depannya ini bersikap keras dan kasar bukan karena mendidiknya, melainkan memang membencinya


"Kenapa kau lakukan ini pada kami?" Teriak Briana. hilang semua rasa hormatnya pada sang ayah. Ia memandang Regard dengan tatapan benci.


Briana meludahi Regard saat Regard mendekat, hingga Regard murka dan plakk


Satu tamparan mendarat di pipi mulusnya, hingga sudut bibir Briana mengeluarkan darah, Regard menampar Briana begitu keras.


Scroll lagi iesss.