
Setelah Gabriel meninggakan kamar dan pergi ke ruang kerjanya, para dokter dan kepala pelayan memasuki kamar tersebut, kedua dokter itu itu meringis pedih, kemudian memalingkan tatapannya ke arah lain ketika melihat Amelia yang yang terbaring di ranjang dengan memejamkan mata dan tubuh yang polos tanpa sehelai benang pun.
Dokter menoleh kebelakang, mengisyaratkan para pelayan untuk menutup tubuh Amelia dengan selimut. Setelah tubuh Amelia tertutup, beberapa perawat membawa brankar mengangkat tubuh Amelia dan membaringkannya di brankar.
Berangkar yang di tempati oleh Amelia keluar dari dari kamar, dan menuju ruang kesehat. kedua dokter itu dengan Sigap memeriksa kondisi Amelia.
Mata kedua dokter itu sudah berkaca-kaca ketika melihat Amelia yang kembali terbaring. Padahal tadi pagi, Amelia baru saja keluar dari ruang kesehatan. Tapi saat ini, mereka harus melihat tubuh Amelia yang terbaring tak sadarkan diri dan lagi-lagi penyebabnya karena hal yang sama.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Kate pada kate. Mereka 2 dokter yang dipilih Gabriel untuk menangani Amelia, dan salah satu dokter tersebut adalah dokter kandungan.
Dengan tangan yang bergetar, Kate menyimpan crosur USG ke tempatnya. Kemudian ia mengecek denyut nadi milik Amelia, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya saat melihat wajah Amelia yang begitu pucat. Mereka tak menyangka, Amelia akan kembali secepat ini.
“Apakah kita harus memberitahukan kondisi Nona Amelia pada Tuan Gabriel? jika kita tidak memberitahukan bisa saja Tuhan Gabriel menyakiti Nona Amelia lebih dari ini, dan tak ada jaminan bahwa rahim Nona Amelia akan baik-baik saja. Bahkan, hal terburuk bisa jadi nona Amelia akan kehilangan rahimnya jika terus seperti ini.”
Kate mendudukkan diri di kursi, ia tampak merenung. ia pun tak ingin berada di sini tapi Gabriel mengancam mereka berdua dan mau tak mau ia dan Gilsa harus tetap disini dan mematuhi perintah Gabriel.
”Bagaimana menurutmu Kate, apakah kita beritahu saja pada tuan Gabriel?” tanya Gilsa lagi, kate menggeleng.
“Aku tidak tahu Gil, aku bingung. Bahkan untuk sekedar menatap mata Tuan Gabriel saja aku tak berani,” jawab Kate lagi, Gilsa mengusap wajah kasar, kemudian membuka laci dan mengambil hasil USG yang ada di laci tersebut. Hasil USG milik Amelia.
“Apakah kita jahat Kate , kita harus membiarkan seorang wanita tersakiti disini,” ucap Gilsa.
Bukan hanya Amelia saja yang tertekan, Kedua dokter itu pun sama-sama tertekan karena mereka harus melihat seorang wanita yang selalu datang dengan kondisi yang sama dan parahnya mereka dituntut untuk merahasiakan kondisi Amelia dari siapapun, termasuk pada Gabriel sendiri yang tak ingin tahu menahu tentang kondisi Amelia.
Kate menunduk, kemudian tangisnya mulai luruh, sungguh ia ingin sekali pulang dan ingin sekali terbebas dari sini.
“Ba-bagaimana jika nona Amelia tau, bahwa ia sudah kehilangan dua bayinya,” ucap Kate, ia menangis tergugu, ini benar-benar hal yang sangat menyakitkan untuk mereka berdua.
Tak lama, terdengar suara derap langkah dari luar. membuat Gilsa dan Kate tersadar, mereka langsung menghapus air mata, lalu berdiri di depan pintu karena mereka tau, Gabriellah yang datang.
••••
Setelah Gabriel meninggalkan ruang kesehatan, kedua dokter itu pun ikut keluar, ketika terdengar pintu tertutup. Amelia membuka matanya.
Dengan tubuh yang luar biasa remuk dan terasa nyeri, Amelia mengeluarkan tangisnya, matanya menatap kosong ke atas. Faktanya, ia mendengar semuanya.
Tepat saat dokter mengatakan tentang dirinya yang kehilangan dua janin, Amelia baru saja tersadar. Tapi, ia bisa mendengar jelas apa yang di katakan dokter tersebut, ia yang akan membuka mata, mengurungkan niatnya saat mendengar suara Gabriel.
Dan kini, setelah tidak ada siapa pun, tangis Amelia berderai, fisiknya, mentalnya, semua sudah hancur-sehancurnya karena seorang Gabriel Josepin.
Bisakah Amelia berteriak? tidak, Amelia tak bisa. tubuhnya saja terbaring di brankar dengan rasa sakit yang hebat. Jadi apa yang bisa Amelia lakukan sekarang. Tak ada, Amelia tak bisa apa-apa. Ia hanya bisa menangis dalam diam.
“Tuhan, aku lelah.”
Tadinya mau update 3 bab. tapi likenya menurun banget. Yoo bisa yok Like sama komen. biar besok update 3_4 bab.
Yang nanya kapan Stuard jmput Amelia. Next bab ya.
Bocoran saat nanti Amelia udah berubah.
Amelia tersenyum sinis saat menatap lelaki di depannya yang tak lain adalah Gabriel. begitu pun Gabriel yang juga tersenyum meremehkan. Mereka sama-sama terdiam, dengan tatapan yang sama-sama tajam, keduanya memegang pestol dan sama-sama menodongkannya. Raut benci, terlihat jelas dari keduanya.
Amelia menodongkan pistol yang di pegangnya ke dada Gabriel, begitu pun Gabriel yang menodongkan pistol ke kening Amelia.
Ini adalah part terbaik, di mana Amelia kuat melawan Gabriel