
Amelia berdiri di depan jendela. Matanya menerawang ke depan, melihat gedung-gedung yang ada di depannya. Ia menghela nafas lega, ketika orang yang bekerja sama dengannya mengabarkan bahwa telah menerima alat yang dikirimkan, alat itu adalah alat untuk mempermudah mencari bukti tentang Gabriel.
Amelia berbalik saat ponselnya berdering. Ia mengambil ponsel tersebut lalu melihat siapa yang memanggilnya.
Ternyata, rekan setimnya yang menyuruhnya untuk datang ke ruang interogasi untuk menginterogasi seorang tahanan yang kemarin berhasil Amelia tangkap, karena kasus penyekapan wanita di dalam gudang.
Amelia berjalan keluar dari ruangan, kemudian ia berjalan ke ruang interogasi. “Apa semua sudah siap?” tanya Amelia, Jhonas pun mengangguk.
“Sekarang kau yang mengintrogasi dia!" ucap Jonas, Amelia masuk ke dalam ruangan, kemudian ia menarik kursi lalu mendudukkan diri di depan tahanan itu.
“Kenapa kau menyekap wanita-wanita?" itu tanya Amelia
“Kau tahu, Nona. aku mempunyai kepribadian ganda dan aku tak sadar telah menyekap mereka,” jawab lelaki itu membuat Amelia berdecih, terlihat sekali lagi depannya ini begitu pembual.
“Memiliki gangguan pribadi?” ulang Amelia. Wajah lelaki itu terlihat berbinar, ia menyangka bahwa Amelia percaya tentang ucapannya.
“Kau mungkin bisa membohongi orang lain. Tapi tidak dengaku. Tidak akan ada orang yang berbicara jujur, bahwa dia mempunyai kepribadian ganda.” tiba-tiba Amelia bangkit dari duduknya, kemudian menggebrak meja. Lalu mengeluarkan pistol dari sakunya dan menodongkannya pada kening lelaki itu.
“Katakan, kenapa apa alasanmu mengurung wanita wanita itu?” tanya Amelia, kaki lelaki
itu bergetar, karena Amelia menodongkan pistol.
Seharusnya ini, tidak diperbolehkan dalam interogasi. Tapi jika mengingat lelaki ini menyekap wanita, rasanya Amelia ingin menggila. Ini semua mengingatkan Amelia pada lukanya dulu. Hingga Amelia begitu mudah terpancing emosi.
“Apa luka di kaki mu tidak cukup. Apa kau ingin aku menembak kepalamu sekarang!?” ucap Amelia dengan menekankan suaranya.
“Ti-tidak. A-aku akan jujur semuanya,” jawab lellaki itu, seketika Amelia m
•••
Amelia keluar dari ruangan introgasi, ia mengambil botol minum. Kemudian menenggaknya hingga tandas. Jawaban tersangka itu begitu berbelit-belit.
Ia suda hmenginterogasi tersangka tersebut lebih dari 2 jam. Tapi tak ada kesimpulan dari apa penyebab Ia melakukan itu, dan itu sungguh membuat Amelia kesal. Ia harus membawa seorang psikiater untuk menginterogasi tahanan tersebut.
Waktu, menunjukkan pukul 2 siang. Amelia keluar dari kantor untuk menjemput Grisya, ia ingin mengajak putrinya untuk berjalan-jalan, karena besok adalah ulang tahun Grisya.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang. Akhirnya, Amelia sampai di sekolah putrinya . Ia langsung menekan klakson. Hingga gerbang terbuka. Ia tersenyum ketika melihat Grisya sedang menunggunya di depan kelas.
“Grisya!” panggil Amelia Grisya menoleh, kemudian imenghampiri sang ibu.
“Mommy, kenapa lama sekali!” protes anak kecil itu membuat Amelia mencubit hidung putrinya.
“Maaf di jalan, tadi macet sekali. Oh ya, sebagai gantinya ayo kita berbelanja mainan," ucap Amelia. Dengan semangat, Grisya menarik tangan sang ibu untuk berjalan cepat kedalam mobil.
•••
“Mommy, bolehkah aku menambah mainan lagi?” tanya Grisya pada sang ibu. Ia melihat Amelia dengan tatapan malu-malu karena di trolinya sudah penuh dengan mainan. Tapi rupanya, anak itu masih ingin membeli mainan lagi
“Karena ini ulang tahunmu kau boleh ....” ucapan Amelia terputus saat ada yang memanggilnya Amelia menoleh ke arah belakang ternyata Ariana yang memanggilnya.
Scroll gengs.