Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
396


Saat sudah berada di luar, wajah Ariana berubah sendu. Matanya memanas, ia mengelus perutnya. “Kita akan bertemu lagi Daddy di mansion,” ucap Ariana dengan lirih. Selalu seperti ini, hatinya mendadak Mellow saat keluar dari ruangan Justin.


Sama seperti sebelumnya, Ariana selalu bermimpi untuk mendampingi Justin atau pergi bersama Justin. Tapi, nyatanya, ia tak seberani itu untuk melakukan keinginannya.


Saat ia ingin bermain ke kantor Justin, ia selalu berpikir 1000 kali untuk pergi. Dia akan pergi, ketika keinginannya benar-benar tak tertahan atau karena ia mengidam ingin bertemu Justin dan seperti biasa, sebelum jam pulang kantor, ia akan mendahui pulang agar Justin tak pulang bersamanya.


Ia juga tak mempunyai keberanian untuk meminta Justin pulang, atau menganggu Justin. Nyatanya, rasa trauma, minder dan semua masih melekat di diri Ariana.


Setelah cukup lama terdiam, Ariana kembali melanjutkan langkahnya. Ia berjalan tertatih-tarih menuju lift. Saat berada di lift, Ariana kembali mengelus perutnya. “Jangan menangis, jangan. Kita akan bertemu Daddy di Mansion,” lirih Ariana.


ia seolah berbicara dengan calon anaknya. Saat pintu lift, tertutup. Pintu lift kembali terbuka membuat Ariana memalingkan tatapannya, karena ternyata Justin menyusulnya. Saat melihat Justin, Ariana langsung menyeka matanya yang sudah berair kemudian tersenyum.


“Sudah kuduga, kau pasti akan menangis,” Justin maju ke hadapan Ariana, kemudian membawa Ariana kedalam pelukannya.


“A-aku menangis karena bahagia bisa main ke kantormu,” dusta Ariana di dalam pelukan Justin. Ia sungguh malu karena terpergok menangis.


Justin, mengelus punggung Ariana, kemudian melepaskan pelukannya.


“Ayo kembali ke ruanganku, kita akan pulang saat semua karyawanku pulang,” kata Justin. Seperti biasa, lelaki ini selalu tau apa yang Ariana mau.


••••


“Arleta!” bentak Zayn saat Arleta terus tertunduk.


Areta meringis, merasa semua tubuhnya begitu nyeri. Rasa sakit dan rasa takut bercampur menjadi satu. Sehingga Arletta tak mampu mengangkat kepalanya untuk menatap Zayn.


“Selama ini, kami sudah memberi yang terbaik untukmu, harta, koneksi dan segalanya, kami mengikuti maumu untuk keluar dari mansion ini. Semenjak kematian Mommy dan Daddy kami memberi perhatian lebih padamu, seharusnya kau berterima kasih karena kau ....”


“Zayn ....” Zidan langsung bersuara karena takut kakaknya akan membuka identitas Arletta yang sesungguhnya. “Sayang tolong kau bawa Arleta ke kamarnya,” kata Zidan pada Audrey. ia mengerti emosi sang kakak sedang meledak-ledak sedangkan ia ingin mendengar semua langsung dari mulut adiknya.


“Lihat, sekarang tampilannya saja seperti Jalangg!” ucap Zayn saat Arleta berjalan. Zayn benar-benar sedang di kuasi emosi hingga ia menghardik Arleta habis-habisan.


Mendengar ucapan sang Kaka. Arleta menghentikan langkahnya, ia mengigit bibirnya hingga berdarah, iaberusaha meredam tangisannya.


“Ayo!” ajak Audrey lagi yang mengerti apa yang di rasakan Arleta.


“Dad!” Gia menyadarkan Zayn. “Awasi dia, jangan sampai dia berulah lagi!” kata Zayn dengan sadisnya, membuat Arleta benar-benar terasa hancur.


•••


“Terimakasih, Kak!” kata Arleta saat Audrey mengantarkannya ke kamar.


“Istriahat lah, setelah Kelly pulang, Kaka akan memintanya menemanimu,” jawab Audrey. Arleta mengangguk.


Setelah menutup pintu kamar, Arleta berjalan ke arah ranjang. Ia mendudukan diri di ranjang.


“Putri Daddy tak boleh menangis.”


Dengan berlinang air mata. Arleta mengelus rambutnya sendiri saat ingat kata-kata mendiang Albert yang selalu menenangkan


“Karena aku bukan putrimu. Bolehkah kali ini aku menangis, Dad!” air mata mengenang membasahi wajah cantiknya. Ia salah, dan ia sama sekali tak marah pada sang Kaka yang telah menghardiknya.


Tapi ia tak punya pilihan lain, tak ada yang mengerti rasanya menjadi Arleta, orang bisa saja mengatakan a b c tentangnya. Tanpa bisa merasakan kegetiran hidup Arleta.


gengs sebelumnya banyak banget yang hate komen ke Arleta, jadi aku sedih dan Down banget😭 padahal kan Arleta baik, hanya caranya aja yang salah. Terus pada nyalahin kenapa ga jadi dosen aja. padahal belum denger penjelasa Arleta.


Kalian mau kisah Arleta di lanjut ga? komen ya. kalau ga mau yaudah ga akan di terusin💃💃