Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
234


"Kenyang?" tanya Stuard saat Simma sudah menghabiskan steak dan burger.


 


 


Simma yang sedang minum pun mengangguk. Ia memberikan gelas pada Stuard dan Stuard menyimpannya di atas nakas, lalu mengambil tisyu dan mengelap mulut Simma.


 


 


"Ahh, aku kenyang sekali," ucap Simma, membuat Stuard tertawa. Istrinya begitu menggemaskan.


 


 


Simma yang sedang duduk di ranjang dengan posisi kaki menjuntai kebawah, menaikan kakinya  dan menyenderkan punggungnya kebelakang.


 


 


"Boleh aku bekerja lagi?" tanya Stuard. Ia mengelus pipi Simma kemudian tersenyum. Rasanya ia ingin terus bersama dengan istrinya, menemani istrinya tidur. Tapi,  pekerjaannya sangat menumpuk.


 


 


"Dad, bisakah kau membawa laptopmu kemari dan bekerja di sini?" tanya Simma.


 


 


"Kenapa hmm?"


 


 


"Aku ingin berbaring, tapi aku tak mau sendiri," ucap Simma. Stuard pun mengangguk.


 


 


"Aku akan mengambil laptopku sebentar," kata Stuard sambil bangkit dari duduknya. Tak lama, ia kembali lagi masuk dan membawa laptop.


 


 


Ia naik ke ranjang dan mendudukan dirinya di sebelah Simma, dengan posisi yang sama, memanjangkan kakinya kedepan dan menyenderkan punggungnya kebelakang.


 


 


Stuard memangku laptop di pahanya, karena posisi Stuard lebih tinggi, Simma pun hanya bisa menyender pada tangan Stuard


 


 


"Dad!" panggil Simma.


 


 


"Hmm," jawab Stuard tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


 


 


"Kau akan memberiku apa pun yang ku mau?"


 


 


"Of course, Darling," jawab Stuard. Membuat Simma tersenyum. "What do you want, Darling?" tanya Stuard lagi.


 


 


"Only you," jawab Simma membuat tawa Stuard pecah seketika. Ia tak menyangka bahwa ia di gombali oleh istrinya.


 


 


 


 


"Aku tak ingin melahirkan di negara ini," ucap Simma. Tiba-tiba ia teringat ucapan Josh.


 


 


"Kau teringat ucapannya?" tebak Stuard, Simma pun mengangguk.


 


 


"Mereka anak-anakmu, Dad.  Kau akan melindungi mereka, kan?" tanya Simma. Faktanya, ucapan Josh yang berbicara akan merebut anak-anaknya saat lahir masih terngiang-ngiang di pikirannya.


 


 


Stuard menaruh laptopnya. Ia menarik tangan Simma dan mengecupnya. "Aku pastikan, mereka hanya akan melihatku sebagai ayah mereka. Aku yakin, lambat laun, Josh akan memberitau yang sebenarnya pada anak-anak kita. Jika pun  pada akhirnya mereka tau yang sebenarnya, aku yakin mereka akan tetap ada di pihakku. Karena aku menyayangi mereka sepenuh hatiku," jawab Stuard dengan penuh ketulusan.


 


 


Mendengar ucapan suaminya. Simma langsung menelusupkan wajahnya pada tangan Stuard. Tak lama Simma terisak. Ia hanya wanita biasa, di hantam luka yang sangat hebat, dan sekarang Tuhan mengirimkan lelaki yang sangat hebat dan sempurna, yang menyayangi dirinya dan anak-anaknya.


 


 


"Mau coklat?" goda Stuard saat mendengar Simma menangis sambil menyembunyikan wajahnya. Tak lama Stuard meringis saat Simma mencubit pinggangnya. .


 


 


••••


 


 


Briana tergugu menangis saat berhadapan dengan sang ayah. Ayahnya adalah seorang politikus dan pemimpin perusahaan, Sang ayah selalu membangun citra yang baik di hadapan publik. Briana adalah anak satu-satunya. Ia didik dengan keras sedari kecil. Tak ada ampun jika Briana membuat salah.


 


 


Dan kini, Briana tengah membuat Regard murka karena hamil di luar nikah. Yang membuat Regard murka, ternyata Briana mengaku bukan hamil anak Josh, semua publik sudah tau bahwa  anaknya sebentar akan menikah dengan Josh. Hingga Regard begitu murka saat mendengar Briana hamil dengan lelaki lain dan tentu saja, jika kabar itu tersiar akan menghancurkan citra baik yang selama ini ia bangun.


 


 


Ya, Briana terpaksa berbohong pada sang ayah bahwa dia bukan hamil anak Josh. Briana terpaksa berbohong bukan untuk melindungi Josh, tapi ia berbohong agar sang ayah tak menyuruh Josh bertanggung jawab


 


 


Jika sang ayah tau bahwa ia  hamil anak Josh, sang ayah akan menyuruh Josh bertanggung jawab. Sedangkan Josh sudah mentah-mentah menolak untuk bertanggung jawab.


 


 


Jujur saja, Briana merasakan harga dirinya terinjak-injak saat Josh menolak bertanggung jawab, hingga ia memilih berbohong pada sang ayah agar sang ayah tak menyuruhnya Josh bertanggung jawab. Biarlah, ia menanggung semuanya, karena ia yakin ia bisa bahagia bersama anaknya. Ia tak memerlukan lelaki pengecut seperti Josh.


 


 


Saat sang ayah berteriak dan akan menamparnya lagi,  Briana langsung terkulai ke lantai. Dia tak punya pilihan lain selain pura-pura pingsan


 


 


Hate komen belok ya 😎


 


 


Croll lagi ieees