Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
191


Simma merasa perutnya di aduk-aduk. Ia melihat kesana kemari mencari tempat untuk mengeluarkan muntahannya. Tak lama, matanya menangkap tempat sampah. Ia pun berjalan sedikit cepat untuk pergi ke tempat sampah tersebut, meninggalkan Stuard, serta Josh dan Briana yang di landa kebingungan akan reaksi Simma.


Stuard pun berlari menghampiri Simma dan tanpa rasa jijik, ia memijit tengkuk Simma, membantu Simma untuk mengeluarkan muntahannya.


Setelah melihat Simma selesai, Stuard pun mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan mengelap ujung bibir Simma. Membuat Simma membeku, kenapa Stuard tak jijik padanya. Begitulah pikirnya.


"Kau sudah baikan?" tanya Stuard, bukannya menjawab. Simma pun terduduk di rumput, seketika tubuhnya terasa lemas, bagaimana tidak. Ia memuntahkan lagi makanan yang telah ia makan.


"Mau kuantar ke Dokter?" tanya Stuard. Simma menggeleng. "Tidak, terimakasih, Stu," jawab Simma sambil tersenyum, membuat Stuard terpana. karena untuk pertama kalinya, Simma tersenyum padanya.


•••


"Ayo sayang," ajak Briana saat mata Josh masih menatap interaksi antara Simma dan Stuard. Josh pun tersadar lalu tersenyum, kemudian, ia melanglahkan kakinya dan mereka pun pergi meninggalkan taman.


Saat menyetir, entah kenapa Josh malah ternginang-ngiang oleh Simma yang bersama seorang lelaki. Tak lama, ia menggeleng. Kenapa juga dia harus memikirkan Simma.


"Kau kenapa, Sayang?" tanya Bri yang melihat gelengan Josh.


"Tidak, aku tidak apa-apa. Kau ingin mampir ke suatu tempat, hmm?" tanya Josh, Bri mengangguk. Bukankah seharusnya kita pergi ke butik untuk mengecek gaunku," jawab Briana, di tanggapi anggukan oleh Josh. Karena pertunangan mereka akan di lakukan sebentar lagi, mereka pun harus dengan cepat memersiapkan semuanya.


••••


"Kau sudah baikan?" tanya Stauard saat Simma akan bangkit dari duduknya. Stuard yang tau Simma kesulitan untuk bangkit langsung mendahului berdiri, dan memegang tangan Simma, dan membantu Simma berdiri.


Tanpa mendengar jawaban Stuard, Simma pun melengang pergi meninggalkan Stuard, pikirannya terlalu kacau. Simma hanya manusia biasa. Melihat Josh dan perempuan lain, hatinya begitu sakit, dan seperti di sayat-sayat, belum lagi ia harus mengingat hal yang menyakitkan karena ucapan Josh.


Saat memasuki taxi, tangis Simma luruh, ia menangis tergugu lalu mengelus perutnya


Maafkan Mommy, Nak. Mommy berjanji, akan bekerja lebih keras agar kita tak di rendahkan lagi. Maafkan Mommy karena kalian harus terlahir dari rahim wanita yang miskin.


Batin Simma menjerit perih. Bayang-bayang anak-anaknya hidup dalam kemiskinan serta di cap anak haram langsung terbayang di otaknya. Tak lama, ponselnya kembali berdering. Ternyata Audrey yang mengiriminya pesan.


["Simma kau masih di mana"] tulis Audrey dalam pesannya


["Audrey. Aku akan datang sore. Aku sedang membenahi kamarku"] balas Simma. Ia tak mungkin pergi menemui Audrey dengan mata sembab.


Saat turun dari taxi, Simma berjalan dengan pelan. Ia sedikit meringis karena perutnya terasa kram. Saat sampai di unit apartemen miliknya. Ia di buat terkejut dengan Asisten rumah tangga yang sedang memasak. Bukah asisten rumah tangga itu datang seminggu sekali ...


"Bibi Fanny!" panggil Simma pada Asisten rumah tangga yang sedang memasak. karena Fany di ambil dari yayasan tenaga kerja terbaik dan terpercaya dan juga yayasan memberi jaminan pada clientnya, Audrey dan Simma mengjinkan Fanny masuk kapan saja


Fanny pun menoleh sambil tersenyum. "Nona Simma. Saya sedang memasak lagi untuk anda. Sebentar lagi akan selesai," jawab Fanny membuat kening Simma mengernyit.


Scroll lagi iesss.