Cinta Sang Pria Arogan

Cinta Sang Pria Arogan
279


Mendengar ucapan Simma, Gabby tampak terdiam. Ia menoleh ke arah pintu, di mana tirai sudah tertutup.


"Mommy, hari ini kita tak mendapat uang. Jadi aku tak apa-apa jika tak memakan burger," jawab Gabby dengan polosnya, membuat hati Simma terasa tersayat.


Di tengah luka yang menyayatnya, Simma merasa bersyukur ... Gabby dan Gabriel begitu pengertian. Mereka seoalah mengerti kehidupan apa yang di jalani ibu mereka. Padahal, sebelumnya Gabby dan Gabriel hidup sangat berkecupan.


Simma mengelus rambut Gabby, "Mommy akan menyiapkan makanan untukmu. Nanti malam, ayo belanja ke super market untuk belanja sedikit kebutuhan dapur," ucap Simma. Gabby mengangguk dengan semangat.


Waktu menunjukan pukul 8 malam, Simma membuka sedikit tirai. Lalu, ia melihat keluar. Memastikan mobil Stuard sudah tak ada.


Simma menghela napas saat tak melihat mobil, Stuard. Pertanda, Stuard sudah pergi. "Mommy ayo!" ajak Gabby yang tak sabar untuk pergi ke super market. Simma menoleh, lalu mengangguk. "Gabby, panggil Gabriel. Kita pergi sekarang," jawab Simma, di tanggapi anggukan oleh Gabby. Bocah kecil itu begitu semangat.


Simma keluar dari caffe dengan menggandeng tangan Gabby dan Gabriel, mereka langsung berjalan untuk menunggu taxi.


Tak lama, taxi pun datang, mereka langsung naik dan taxi mulai melaju.


Saat taxi maju, Stuard langsung memajukan mobilnya, mengikuti taxi tersebut. Ya, sedari tadi, Stuard tidak pergi. Ia meminta Rain untuk mengantar mobil berbeda.


Sebab, ia tau ... Simma akan tetap berada di dalam jika tau bahwa ia menunggunya. Stuard hanya perlu waktu yang tepat untuk berbicara dengan Simma.


••••


15 menit berlalu, taxi yang dinaiki Simma dan anak-anaknya sampai di depan mini market, ia langsung turun, membayar dan langsung masuk kedalam mini market.


.


"Mommy, bolehkah aku tunggu di sini saja?" tanya Gabby sambil menunjuk kursi membuat Simma mengernyit.


"Bukankah kau ingin memilih makanan, Sayang?" tanya Simma, Gabby menggeleng. Anak kecil itu lebih memilih diam, sebab ia takut menginginkan makanan yang biasa ia makan, tapi ia juga tau bahwa sang ibu tak memiliki uang.


"Aku malas berjalan, Mommy. Aku akan menunggu di sini. Gabriel, kau temani saja Mommy!" Titahnya pada sang kaka.


"Mommy dan Gabriel tak akan lama, kau tunggu di sini oke," kata Simma ditanggapi anggukan oleh Gabby.


Stuard yang berdiri tak jauh dari Gabby merasakan hatinya berdenyut sangat nyeri saat melihat Gabby menunduk dan tampak murung. Ia bisa menebak kenapa Gabby tak ikut bersama Simma dan Gabriel.


Stuard sengaja tak mengikuti Simma, ia lebih memilih menemani Gabby dari jauh karena takut ada yang terjadi pada putrinya.


Tak lama, Gabby turun dari kursi, dan pergi ke arah rak-rak makanan. Dengan sigap, Stuard langsung mengikuti sang putri.


Gabby menghentikan langkahnya saat berada di rak makanan. Matanya terus tertuju pada sesuatu. Ia melihat makanan kesukaannya, ia ingin membeli itu. Tapi ia tau, bahwa sang ibu tak punya uang.


Gabby mengambil cemilan itu, lalu mulai berjalan untuk mencari sang ibu, ia ingin bertanya apa dia boleh membeli makanan kesukaannya.


Tak lama, Gabby kembali menghentikan langkahnya. Ia kembali lagi ke tempat semula dan menaruh lagi cemilan ketempatnya.


Setelah menaruh cemilan itu, Gabby masih terdiam di tempat. Ia tampak menghela napas beberapa kali.


Kaki Stuard melemas, Hatinya berdenyut nyeri saat melihat apa yang Gabby lakukan. Selama ini, putra-putrinya tak pernah kekurangan apa pun dan selalu mendapat yang terbaik. Tapi saat ini, ia harus menyaksikan istri dan kedua anaknya kesusahan.


Stuard yang berdiri tak jauh dari Gabby mengusap wajah kasar, ia tak bisa menundanya lagi. Ia ingin memeluk erat putrinya yang terus menatap cemilan di depannya.


Baru saja ia maju, langkahnya terhenti saat Gabriel datang menghampiri Gabby, hingga Stuard memilih kembali diam di tempat.


"Aku mencarimu ternyata kau di sini," ucap Gabriel. Membuat Gabby menunduk.


"Gabriel aku ingin ini!" tunjuk Gabby pada cemilan itu, Gabriel melihatnya. Kemudian menarik tangan Gabby


"Gabby, aku pun ingin itu. Tapi kau tau kan Mommy tak punya uang. Jadi sebaiknya kita makan saja yang ada," ucap Gabriel.


"Seandainya kita masih bersama Dad ...." Gabby menghentikan ucapannya saat ia tak sengaja mengatakan apa yang ia ucapkan dalam hati.


"Gabby, jangan lagi berharap pada Daddy. Sudah kubilang berkali-kali, Daddy sudah membenci kita. Jadi terima saja apa yang ada sekarang! Ayo, kita temui Mommy!" Gabriel menarik tangan Gabby untuk pergi


Mendengar ucapan Gabriel, Stuard merasa lututnya tak sanggup lagi untuk menopang tubuhnya. Benci? kenapa anak kembarnya bisa menyangka bahwa ia membenci mereka, pikiran-pikiran itulah yang terbayang di otak Stuard.


Stuard mengusap wajah kasar, saat mengingat sesuatu. Ia sadar, semua memang berawal dari sikapnya.


••••


Setelah memastikan Gabby dan Gabriel tertidur. Simma keluar dari kamar untuk membereskan belanjaan yang tadi di belinya.


Saat ia turun dan menyalakan lampu, langkahnya terhenti saat melihat sosok jangkung sedang berdiri menatap ke arahnya dengan mata yang basah. Seperti sehabis menenangis, siapa lagi kalau bukan Stuard.


"Se-stu, ke-kenapa kau bisa masuk?" tanya Simma dengan terbata-bata.


Stu maju ke arah Simma, ia langsung berlutut dan memegang kaki Simma.


"Maafkan aku, Sayang. Ampuni aku," Stuard terisak saat memeluk kaki Simma.


"Stuard jangan begini. Jangan rendahkan dirimu hanya demi wanita hina sepertiku!"


Deg


Khalisia di sebelah hari ini libur up ya. Aku nya lagi ga enak badan. Di lapak ini juga ga boleh ada yang komen "Thor ko up-nya dikit banget" Aku ngetik dua bab sambil meriang lho😞


Hate komen blok 😎


Yang penasaran apa yang di bilang Rain sabar ya