The Empress Of Mind Reader

The Empress Of Mind Reader
BAB 323. Penculikan II


Permaisuri Yerome yang ikut Raja Philiph kembali ke Kerajaan Shafir bermalam di sebuah Penginapan di Wilayah Kekaisaran Pearl untuk beristirahat agar besok pagi sudah lebih segar untuk melanjutkan perjalanan.


Tiba-tiba Permaisuri Yerome terbangun di tengah malam dan mendengar ada orang yang sedang mengobrol. Permaisuri Yerome yang penasaran pun mencari tau dan ternyata itu adalah Raja Philiph bersama Jenderal dan Ajudannya.


Permaisuri Yerome yang penasaran pun menguping dari balik tembok dan mendengarkan obrolan mereka.


"Kalian harus berhasil melakukan tugas yang aku berikan ini. Aku telah mengirimkan pelayan untuk memberikan obat tidur dan pelemah pada Permaisuri Shiena dan pada saat itu juga aku ingin kalian masuk dan membawanya pergi." perintah Raja Philiph.


"Baik Yang Mulia." ucap Jenderal dan Ajudan.


"Kalian harus berhasil melakukan tugas ini dan ingat setelah berhasil bawa dia ke rumah yang telah kita siapkan di tengah hutan." perintah Raja Philiph.


"Baik Yang Mulia. Kami akan melakukannya tugas ini dengan baik." ucap Jenderal.


Jenderal dan Ajudan dari Raja Philiph pun segera pergi dan meninggalkan penginapan lalu kembali ke Istana Kekaisaran untuk melaksanakan tugas dari Raja Philiph. Raja Philiph kemudian kembali ke kamarnya dan beristirahat.


Sementara itu, Permaisuri Yerome yang mendengarnya menjadi sangat terkejut karena tidak menyangka jika Raja Philiph akan melakukan hal yang sangat rendah seperti itu hanya untuk mendapatkan wanita yang diinginkannya.


Permaisuri Yerome pun berusaha kembali ke kamarnya dengan berhati-hati agar tidak mengganggu Raja Philiph yang sedang beristirahat.


Dalam waktu singkat Permaisuri Yerome pun telah berada di kamarnya yang ternyata berseblahan dengan kamar Raja Philiph. Permaisuri Yerome pun membangunkan Pelayan pribadinya pelan-pelan.


Pelayan itu pun terbangun tapi dalam kondisi belun sadar Pelayan itu mengeluarkan suara yang sangat besar sehingga Permaisuri Yerome terpaksa menutup mulutnya dan memberi isyarat agar Pelayan itu mengecilkan suaranya.


Kesatria yang berjaga ternyata mendengar suara dari kamar Permaisuri Yerome dan mencoba mencari tau. Permaisuri Yerome yang takut ketahuan pun menutup mulutnya dan pelayannya lalu setelah Kesatria itu pergi Permaisuri akhirnya bisa bernafas dengan lega.


"Jangan berisik! Kecilkan suaramu!" perintah Permaisuri Yerome.


"Maafkan hamba Yang Mulia." ucap Pelayan itu menyesal.


"Sudahlah. Sekarang bawakan aku kertas dan pena akrena aku mau membuat surat sekarang juga." perintah Permaisuri Yerome.


"Baik Yang Mulia." ucap pelayan itu.


Pelayan itu pun beranjak bangun dan mencari kertas dan pena dengan hati-hati agar tidak ada yang terbangun sementara Permaisuri Yerome duduk di depan jendela di bawah sinar bulan.


Pelayan itu kemudian datang membawa kertas dan pena lalu memberikannya pada Permaisuri Yerome. Permaisuri Yerome pun segera mengambil kertas dan pena itu lalu menulis surat dibawah penerangan sinar bulan dan tidak berani menghidupkan lampu karena takut ketahuan jika dirinya sudah terbangun.


Setelah selesai menulis surat, Permaisuri Yerome pun memerintahkan Pelayan pribadinya untuk kembali ke Istana Kekaisaran dan menyampaikan pesannya kepada Permaisuri Shiena agar Permaisuri Shiena daoat berhati-hati dan waspada pada seorang pelayan baru yang mencoba memberinya makan, minum ataupun obat.


Pelayan itu pun mengambil jubahnya lalu menutup kepalanya dengan tudung kemudian pergi menyelinap keluar dari Penginapan itu dan pergi menuju Istana dengan membeli kuda yang ada di Penginapan.


Pelayan itu pun menunggangi kuda dengan kecepatan maksimal berharap dapat datang lebih awal sebelum Jenderal dan Ajudan Raja Philph namun ternyata itu hanya harapan. Pelayan itu mendapatkan masalah karena dirinya di serang oleh Perampok yang mencoba mengambil uangnya.


Pelayan itu pun terpaksa harus melawan perampok itu satu per satu. Dengan sekuat tenaga meskipun harus mendapatkan luka akhirnya pelayan itu berhasil melarikan diri dan berhasil masuk ke perbatasan Ibukota.


Pelayan pun bergegas ke Istana Kekaisaran tapi dihadang oleh Kesatria Penjaga Pintu Gerbang Utama. Pelayan itu pun menunjukkan tanda pengenal Permaisuri Yerome sehingga membuat Kesatria Penjaga itu goyah.


Kesatria itu pun memilih membawa pelayan itu masuk ke Istana dan melaporkannya pada Tuan Eit. Tuan Eit yang melihat ada seorang pelayan datang ke Istana dengan membawa tanda pengenal Permaisuri Kerajaan lain membuatnya curiga terlebih lagi Pelayan itu datang dalam keadaan seperti pengemis karena mendapatkan luka yang banyak pada tubuhnya.


"Siapa kau? Kenapa kau memaksa masuk ke Istana?" tanya Tuan Eit.


"Saya adalah Pelayan Pribadi Permaisuri Yerome dari Kerajaan Shafir. Saya datang untuk menyampaikan pesan dari Permaisuri Yerome untuk Yang Mulia Permaisuri Shiena." ucap Pelayan itu.


"Tidak! Saya bukan mata-mata. Saya membawa pesan untuk Permaisuri Shiena dan saya mohon percayalah." teriak Pelayan itu berusaha melawan.


Tuan Eit yang tidak percaya memerintahkan Kesatria untuk menyeret Pelayan itu dengan paksa lalu membawanya ke Penjara Kekaisaran tapi tiba-tiba Kaisar Franz pun datang setelah memberi perintah pencarian Permaisuri Shiena selama dua hari.


"Tangkap orang ini! Dia ini seorang mata-mata musuh!" ucap Tuan Eit.


"Tidak! Aku bukanlah musuh! Saya mohon percayalah Tuan! ucap Pelayan itu.


Pelayan itu tentu mengenali Kaisar Franz dan segera berteriak memanggil Kaisar Franz dan berharap Kaisar Franz dapat mendengar suaranya dan membebaskannya dari tuduhan palsu yang tidak berdasar itu.


"Yang Mulia Kaisar!" teriak Pelayan berkali-kali.


"Yang Mulia tolong hamba Yang Mulia." ucap Pelayan.


Kaisar Franz yang ternyata mendengar ada teriakan segera berbalik dan menemukan ada seseorang yang sedang ditarik paksa oleh Kesatria dan sedang memanggil namanya. Kaisar Franz yang berfikir orang itu adalah salah satu Nona Bangsawan yang melakukan berbagai cara untuk menarik perhatiannya pun memilih untuk mengabaikannya.


"Tidak Yang Mulia! Jangan pergi Yang Mulia! Yang Mulia Kaisar, tolong selamatkan saya!" ucap pelayan itu.


Pelayan itu tidak menyerah begitu saja. Pelayan pun berteriak dengan menyebut nama Permaisuri Shiena dan Permaisuri Yerome sehingga membuat Kaisar Franz berhenti berjalan dan berbalik.


"Yang Mulia tolong selamatkan saya! Saya memiliki pesan dari Permaisuri Yerome tentang keberadaan Permaisuri Shiena!" teriak Pelayan.


Pelayan yang melihat ada kesempatan untuk bebas pun berteriak dengan semakin keras. Kaisar Franz yang penasaran pun berjalan ke arah Pelayan yang ditarik paksa lalu memerintahkan pada Tuan Eit untuk melepaskan pelayan itu.


"Lepaskan dia!" perintah Kaisar Franz.


"Yang Mulia, dia ini adalah penipu. Yang Mulia jangan percaya padanya." peringatan Tuan Eit.


"Diam!" bentar Kaisar Franz.


"....." Tuan Eit diam


"Lepaskan dia atau kalian akan saya penggal!" perintah Kaisar Franz.


Kesatria itu pun melepaskan tangan pelayan itu karena takut kehilangan nyawanya. Pelayan itu pun akhirnya dapat bernafas lega lalu memegangi kedua tangannya yang sakit kemudian mengucapkan terima kasih pada Kaisar Franz.


"Terima kasih Yang Mulia." ucap Pelayan itu.


"Jangan basa-basi. Cepat katakan apa maksud ucapanmu tadi?" tanya Kaisar Franz.


"Maafkan kelancangan hamba Yang Mulia. Saya datang kemari mengantarkan surat dari Yang Mulia Permaisuri Yerome dari Kerajaan Shafir tapi hamba dihadang oleh Tuan ini dan bahkan hamba mau dimasukkan ke dalam Penjara Yang Mulia." ucap Pelayan itu.


Pelayan itu pun memberikan surat yang ditulis langsung oleh Permaisuri Yerome dengan cap stempel Kerajaam Shafir yang membuat Kaisar Franz percaya akan katak-kata pelayan itu. Lalu, Kaisar Franz pun melihat ke arah Tuan Eit yang sudah menundukkan kepalanya.


#**Bersambung#


Jangan Lupa Like, Komen dan Vote ya..


🥰😊😍😘


Terima kasih**