
Duke Simons yang dalam perjalan kembali ke Kediamannya memikirkan ulang yang dikatakan Anastasya. Duke Simons tak bisa hanya diam saja mendengar ada yang mengikuti Anastasya secara diam-diam dan ingin segera menemukannya lalu menghabisinya tapi Duke Simons terpaksa berhenti karena Anastasya menolak.
Tak butuh waktu lama untuk sampai dan Duke Simona telah duduk di meja kerja alih-alih ke kamarnya untuk istirahat. Kepala Pelayan Kediaman Duke Simons dengan sigap menyiapkan kopi untuk menemani Tuannya bergadang malam itu.
"Dimana kesatria yang aku perintahkan mengikuti Anastasya siang tadi?" tanya Duke Simons.
"Dia ada di kamarnya. Saya akan memanggilnya segera." ucap Kepala Pelayan.
"Lakukan!" ucap Duke Simons.
Kepala Pelayan bergegas keluar dan berjalan menuju tempat kesatria berada dan memanggil kesatria yanh diminta. Kesatria tersebut langsung bangkit dari tempat tidurnya dan mengganti pakaian dalam sekejap dirinya telah siap.
Kepala Pelayan dan Kesatria itu pun masuk ke ruang kerja Duke Simons setelah mendapatkan izin. Kesatria itu ditanya soal hasil mengikuti Anastasya.
"Katakan! Kemana Anastasya pergi siang tadi?" tanya Duke Simons tanpa melihat.
"Nona pergi ke ruang perawatan tempat sahabat Tuan Marquess Laurence yang memenangkan Ujian Menara Sihir tadi siang tapi Nona tidak masuk hanya berada di depan pintu seolah memastikan sesuatu dan pergi bersama pelayannya. Nona Anastasya pulang lewat taman dan melihat Tuan Marquess Laurence dan Nona Shiena. Nona Anastasya ingin kesana tapi mengurungkan niatnya dan akhirnya kembali ke Vila." ucap Kesatria.
"Begitu rupanya. Jadi Anastasya berbohong padaku mengatakan dirinya lelah sebenarnya ingin menemui Marquess Laurence tapi karena disana ada Lady Shiena jadi dia menghentikan dirinya dan kembali pulang." simpul Duke Simons.
"Benar, Tuan." ucap Kesatria.
"Kau boleh kembali." ucap Duke Simons.
"Saya permisi Tuan." ucap Kesatria.
Kesatria itu pun keluar dan kembali ke tempatnya. Duke Simons menghentikan pekerjaannya dan melihat ke Kepala Pelayan.
"Cari tau apa yang ingin dilakukan Anastasya dengan Marquess Laurence!" perintah Duke Simons.
"Baik, Tuan." jawab Kepala Pelayan.
Duke Simons memang menyukai Anastasya dan menginginkannya menjadi wanitanya tapi Duke Simons tak menginginkan wanita ular. Duke Simons ingin wanita yang cerdas dan juga jujur dan bukan yang banyak berbohong. Duke Simons tak suka dibohongi sehingga sekali dibohongi dirinya akan sulit untuk percaya.
"Bagaimana dengan rumah yang ingin aku berikan pada Anastasya?" tanya Duke Simons.
"Anda bisa langsung memilih Tuan karena semua berkas pengurusannya telah siap." ucap Kepala Pelayan.
"Anastasya sendiri yang akan memilih jadi kau kirim orang untuk membantunya melihat rumah-rumah yang akan dibeli dan untuk surat-suratnya buat seolah rumah itu menjadi miliknya tapi jangan sampai dia tau bahwa rumah itu menjadi propertiku. Kau bisa membuat rumah itu menjadi miliknya sepenuhnya saat dia Sah menjadi Nyonya Simons. Apa kau mengerti?" tanya Duke Simons.
"Ya, Tuan." ucap Kepala Pelayan.
'Aku bukan pria bodoh yang akan melakukan apapun karena cinta karena untuk mendapatkan Posisi dan mempertahankan posisi ini membutuhkan usaha ekstra' ucap Duke Simons.
Sementara itu, Marquess Laurence yang masih tak terima jika cintanya bertepuk sebelah tangan hanya terdiam di ranjang karena tak bisa tidur dan tak bisa mengerjakan apapun.
Nyonya Maria yang merasa ada sesuatu yang terjadi kepada keponakannya pun meminta untuk bertemu. Marquess Laurence ingin menolak kedatangan Nyonya Maria tapi tak ingin membuat Nyonya Maria kecewa sehingga mempersilahkannya masuk.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Nyonya Maria langsung.
Marquess Laurence yang terkejut dengan pertanyaan Nyonya Maria memasang wajah aneh.
'Apa maksudnya? Apa bibi tau jika aku baru saja patah hati.' fikir Marquess Laurence.
Nyonya Maria yang melihat wajah kebingungan Marquess Laurence langsung menjelaskan kekhawatirannya.
"Aku melihat dirimu sangat sedih dan banyak fikiran. Bibi menjadi khawatir. Katakan saja pada bibi. Mungkin saja bibi bisa membantumu." ucap Nyonya Maria dengan lembut dan kasih sayang.
"....." Marquess Laurence diam.
"....." Marquess Laurence diam dan terkejut.
"Ternyata benar dugaan bibi. Jadi katakan saja." ucap Nyonya Maria lembut.
"Shiena hanya menganggapku kakak. Dia tak memiliki perasaan lebih padaku." ucap Marquess Laurence dengan sedih.
"Bibi mengerti. Apa kau ingin menjauhinya?" tanya Nyonya Maria.
"Tidak! Aku tak bisa jauh darinya." ucap Marquess Laurence sedih.
"Baiklah. Kau pernah mendengar tentang cinta tak harus memiliki kan? Atau kau ingin Shiena bersamamu tapi hatinya bukan untukmu?" tanya Nyonya Maria.
"Aku tak ingin seperti itu." ucap Marquess Laurence.
"Kalau begitu pertimbangkan ucapan bibi dan perasaan Shiena. Cinta tak harus memiliki. Jika kau tulus mencintainya maka kau tak membutuhkan balasan apapun cukup melihat orang yang kita cintai bahagia dan itu sudah cukup." ucap Nyonya Maria.
Nyonya Maria pun keluar dari kamar Marquess Laurence dan meninggalkan Marquess Laurence sendiri. Marquess Laurence memikirkan ucapan Nyonya Maria dan akhirnya menerima semua keputusan Shiena.
"Aku hanya ingin Shiena bahagia. Bersama siapapun dirinya asalkan dia bahagia. Aku akan terima kecuali bersama Putra Mahkota yang tidak berguna itu. Aku akan melakukan berbagai cara untuk menghentikannya!' ucap Marquess Laurence.
Di lain tempat, Tuan Muda Alphonso yang sedari tadi telah sangat gelisah melihat kedekatan Shiena dan Marquess Laurence mnejadi semakin buruk ketika kembali ke Kediamannya.
Tuan Muda Alphonso mengurung dirinya di dalam kamar dan tak mengizinkan siapapun masuk dan Tuan Muda Alphonso bahkan tak makan apapun sejak tadi siang hingga malam Tuan Muda Alphonso selalu saja memikirkan Shiena.
'Aku tau jika Shiena dan Roan memiliki hubungan yang dekat karena persahabatan antara Nyonya Laurence dan Nyonya Carrole tapi aku tak bisa membayangkan jika hubungan mereka sedekat itu.' fikir Tuan Muda Alphonso.
Tuan Muda Alphonso memikirkan tentang sikap Shiena yang perlahan berubah dingin setelah kedatangannya ke Istana. Tuan Muda Alphonso tak bisa menemukan kesalahannya sehingga Tuan Muda Alphonso menanyakannya pada Kepala Pelayan.
"Apa aku melakukan kesalahan pada Shiena?" tanya Tuan Muda Alphonso.
"Maaf Tuan Muda. Saya tak mengerti maksud anda." ucap Kepala Pelayan.
"Shiena bersikap dingin padaku sejak pergi ke Istana. Aku tak tau kenapa dia seperti itu." ucap Tuan Muda Alphonso.
"Apa Tuan Muda mengatakan sesuatu yang menyinggung Nona Shiena?" tanya Kepala Pelayan.
"Sepertinya tidak." ucap Tuan Muda Alphonso.
"Lalu, Apa Tuan Muda tidak memberi tau Nona Shiena terlebih dahulu jika Tuan Muda telah menghadap Kaisar dan memberitau Kaisar tentang masalah kedatangan ke Istana?" tanya Kepala Pelayan.
"I-itu! A-aku..." ucap Tuan Muda Alphonso terbata-bata.
"Sebaiknya Tuan Muda menemui Nona Shiena besok hari dengan membawa hadiah yang disukai Nona Shiena dan meminta maaf. Saya akan menyiapkan hadiahnya."ucap Kepala Pelayan.
"Baiklah. Itu ide yang bagus." ucap Tuan Muda Alphonso.
"Saya permisi Tuan." ucap Kepala Pelayan.
'Aku tak akan menyerah untuk mendapatkanmu Shiena. Aku akan selalu berusaha memenangkan hatimu Shiena.' ucap Tuan Muda Alphonso dalam hati.
Di sisi lain, Putra Mahkota yang senang karena akan mendapatkan dua wanita yang diidamkannya sebagai miliknya tak hentinya tersenyum. Putra Mahkota bahkan hampir melupakan Robert yang sedang menderita di penjara.
Putra Mahkota yang telah kembali ke Istana bersama Kaisar hanya diam memikirkan cara menjebak Duke Carrole dan membunuh Kaisar lalu mendapatkan Shiena.
Sesampainya di kamar pribadinya, Putra Mahkota memasang Segel Cahaya milik Anastasya di kamarnya. Putra Mahkota yang sedang membuat rencana pembunuhan Kaisar tak ingin sampai ada yang mengetahuinya.
"Meskipun aku tak bisa mendapatkan hatimu seutuhnya. Paling tidak aku memiliki ragamu dan tak seorang pun yang bisa memilikimu selain aku." ucap Putra Mahkota.